08 July 2010
One kritik

Splice

12:17 AM
sobekan tiket bioskop tertanggal 5 Juli 2010 adalah Splice. yang membuat gue tertarik untuk nonton film ini adalah kehausan gue akan film-film science fiction yang udah jarang gue sentuh (dan lihat) akhir-akhir ini. dari sinopsisnya yang sepertinya menarik, ditambah dibintangi oleh Adrien Brody, yah kenapa tidak?

bercerita tentang sepasang ilmuwan yang dengan gegabah bereksperimen untuk menyatukan DNA hewan dengan DNA manusia untuk menciptakan sebuah makhluk. masalah pun terjadi ketika makhluk tersebut menjadi lepas kendali.

ya, memang sesederhana itu plot ceritanya. memang bukan sesuatu yang baru. meskipun dinamika film diramaikan dengan pertentangan antara moral dengan ilmu pengetahuan, yang direpresentasikan oleh kedua karakter utama kita; Clive (Adrien Brody) yang selalu merasa bahwa "karya penciptaan" mereka ini adalah sesuatu yang salah, dan Elsa (Sarah Polley) yang merasa sebaliknya, bahwa ciptaan mereka adalah suatu terobosan besar bagi dunia ilmu pengetahuan, meskipun di penghujung film kita bisa melihat motivasi tersembunyi dari Sarah.

tapi film ini berhasil membuat gue sebal akan karakter Sarah, yang selalu menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alasan utama untuk mempertahankan makhluk tersebut. dengan alasan-alasan yang dikemukakannya ketika beradu argumen dengan Clive. mungkin juga film ini berniat untuk "memecah" penonton menjadi dua pihak; penonton yang mengagungkan ilmu pengetahuan di atas moral, dan penonton yang mengagungkan moral di atas ilmu pengetahuan. dan terima kasih untuk film ini, gue tahu dimana gue harus berdiri.
hadirnya karakter manusia campuran hewan ini memang bukan sesuatu yang baru di dunia film fiksi ilmiah. tapi bagi gue berdasarkan analisis gue selama menonton film ini, yang berbeda adalah; walaupun makhluk ini memiliki DNA manusia dimana ia mewarisi bentuk tubuh dan juga kecerdasan (dalam hal ini otak), tapi makhluk ini memiliki insting hewani yang lebih kuat dari pada perasan dan hati nurani. dan hal inilah yang berhasil membuat gue cukup risih dengan karakter makhluk ini sepanjang film.

selama menonton film ini, ada banyak kekurangan yang gue rasakan. dinamika proses perkembangan makhluk ini sepertinya menjadi porsi yang lebih. tapi sang "orang tua" sebagai pencipta kok ya kurang menerapkan proses pendidikan yang baik bagi perkembangan makhluk tersebut. atau mungkin ini adalah cerminan dari pola asuh orang tua terhadap anaknya di masa kini? selain itu, sebagai ilmuwan masa sih tidak bisa memprediksikan pola perkembangan makhluk ini beserta alur evolutifnya...

oya, film ini juga berhasil membuat gue jijik setengah mati pada salah satu adegan. jijik dalam arti, melihat sebuah adegan yang benar-benar membuat gue engga habis pikir dan terlalu...amoral mungkin? memang adegan itu perlu untuk melengkapi plot cerita, tapi cara pembawaannya yang kurang smooth dan terkesan terburu-buru. kalau nonton, pasti tahu deh adegan mana yang saya maksud.

untuk menutup, plot cerita dalam film ini mungkin memang bukan sesuatu yang baru, tetapi makhluk tersebut lah yang mungkin menjadi daya tarik satu-satunya untuk menonton film ini. sekedar tambahan, nama Guillermo del Toro hadir menjadi salah satu produser eksekutif film ini.

rating?
6,5 of 10

1 kritik:

  1. Mirip kasus ikan hiu di Deep Blue Sea. Ilmu pengetahuan diatas moral.

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top