11 August 2016
One kritik

Tiga Dara

"Drama musikal komedi yang sangat menghibur, serta mengangkat isu sosial yang surprisingly masih relevan sampai sekarang"

Tiga bersaudara Nunung, Nana, dan Neni cukup membuat si nenek pusing, yang mengurusi mereka setelah kematian ibunya. Apalagi Nunung yang telah berusia 29 tahun tetapi tak kunjung menikah, sementara bapak hanya sibuk dengan urusannya sendiri. Di sekitar tiga dara tersebut muncullah Herman, Toto, dan Joni. Pertentangan antara Nunung yang pendiam dan Nana yang agresif berhasil diseimbangkan oleh Neni yang lincah dan banyak akal.

Tiga Dara yang dirilis tahun 1956 adalah film Indonesia klasik kedua yang direstorasi dalam lima tahun terakhir oleh ruman produksi SA Films. Sedangkan Lewat Djam Malam (1954) - yang sama-sama disutradarai oleh bapak perfilman nasional Usmar Ismail - telah direstorasi tahun 2011-2012 di lembaga yang sama; L'immagine Ritrovata di Bologna, Italia. Hasil restorasi Lewat Djam Malam mampu meraup 5.116 penonton dari pertengahan bulan Juni hingga Juli tahun 2012 di bioskop tanah air. Sebuah angka yang cukup baik mengingat film tersebut tidak hanya klasik dan hitam-putih tetapi juga jenis film, meminjam istilah Damar Juniarto dalam tulisannya di sini, estetika realis. Sementara Tiga Dara adalah hasil kompromi Usmar Ismail yang dibuat dengan tujuan komersialitas dan lebih dekat dengan Hollywood.


Terinspirasi dari film Hollywood Three Smart Girls (1936), sutradara dan penulis naskah Usmar Ismail memang jelas menyasar penonton populer dengan drama komedi musikal yang pada tahun memang sedang meledak. Sebuah kondisi berbanding terbalik dengan masa sekarang dimana penonton Indonesia malah cenderung menghindari tontonan musikal di bioskop. Bayangkan saja, pada masanya Tiga Dara mampu bertahan selama delapan minggu di bioskop tanah air. Apalagi film ini sempat tayang di bioskop kelas satu yang biasa menayangkan film-film Hollywood. Analogi masa kininya, Ada Apa dengan Cinta 2 yang mampu bersanding lama dengan Captain America: Civil War. Saking tenarnya, istilah "tiga dara" digunakan dalam berbagai produk batik, minuman, dan nama toko. Kalau sekarang, kita masih bisa menemui "tiga dara" bagi yang hobi makan pecel lele di kafe tenda pinggir jalan.


Film ini dibuka dengan persoalan sejuta umat yang cukup sederhana, anak gadis yang tak kunjung menikah. Sebuah permasalahan yang menariknya masih saja relevan dengan situasi enam puluh tahun kemudian. Jalan cerita pun bergulir secara perlahan namun pasti, namun tetap fokus pada interaksi tiga kakak beradik yang memiliki karakter yang berbeda-beda. Ditambah pula dengan karakter bapak dan nenek yang paralel berbeda 180 derajat karakternya. Setiap interaksi mereka, ditambah beberapa celetukannya, mampu mengundang tawa. Apalagi tingkah laku para jejaka seperti Herman dan Toto yang komikal.

Maafkan subjektifitas saya yang memang menempatkan film musikal sebagai genre favorit, tetapi lagu-lagu yang dibawakan dalam film ini sangat ear-catchy. Masing-masing dari sepuluh lagu yang ada dalam film ini memiliki penempatan yang pas, dan sangat signifikan dalam membawa emosi penonton. Tujuh lagu karya Sjaiful Bachri, dua karya Oetjin Noerhasjim, dan satu karya Ismail Marzuki, semuanya rata dalam diksi lirik yang puitis serta melodi yang akan membuat anda menggumamkannya setelah selesai menonton film.


Meski hitam-putih dan memiliki aspect ratio jauh lebih kecil dibandingkan film kebanyakan masa kini, saya tetap mampu dibuat merasa sebal dengan beberapa karakternya. Mulai dari Nunung yang terlalu pendiam dan mengalah, hingga Nana yang agresif dan cenderung menyebalkan. Artinya, emosi yang hendak disampaikan oleh sang sutradara telah berhasil mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Hal tersebut juga tidak lepas dari kemampuan akting dari Chitra Dewi, Mieke Wijaya, dan Indriati Iskak yang sama-sama tampil bersinar tanpa ada yang mencolok di antara yang lain.

Dalam konteks komersial, Tiga Dara jelas berada di seberang Lewat Djam Malam yang memang berada di ranah estetika realis. Saya menduga, Usmar Ismail dengan cermat mengangkat isu feminisme dengan kemasan yang sangat halus - berkebalikan dengan kemasan yang lebih berani di tangan Nia Dinata nantinya. Dengan konsep komersialisme dari Tiga Dara, harusnya film ini akan sangat mudah diterima oleh penonton kebanyakan masa kini - asal mereka mau membuat mata terhadap film-film klasik hitam-putih. Tidak ada salahnya menonton kembali film dengan deretan dialog bahasa Indonesia baku dan terkadang terdengar cheesy. Apalagi dengan kisah permasalahan yang secara mengejutkan masih saja relevan di tahun 2016 ini. Hasil restorasi 4K yang menakjubkan, dengan gambar yang mulus dan audio yang bersih - tentunya tidak bisa dibandingkan mentah-mentah dengan film produksi modern.



Indonesia | 1956 | Komedi / Drama / Musikal | 115 menit | Aspect Ratio 1.44 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 11 Agustus 2016 -



Bacaan tambahan: Ada Apa dengan Tiga Dara?


----------------------------------------------------------
Search  Keywords:

  • review film tiga dara restorasi 4k
  • review tiga dara restorasi 4k
  • tiga dara restorasi 4k review
  • resensi film tiga dara restorasi 4k
  • resensi tiga dara restorasi 4k
  • ulasan tiga dara restorasi 4k
  • ulasan film tiga dara restorasi 4k
  • sinopsis film tiga dara restorasi 4k
  • sinopsis tiga dara restorasi 4k
  • cerita tiga dara restorasi 4k
  • jalan cerita tiga dara restorasi 4k

1 kritik:

  1. Beruntung sekali bisa menonton film ini.
    Sayang, di kota saya film ini keburu ngilang dari peredaran sebelum saya sempat menontonnya ;-(

    Anyway, bisa tukaran link blog? This's mine http://eigarebyu.blogspot.co.id/
    thank you^^

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top