04 August 2016
0 kritik

Alice Through the Looking Glass

"Menyenangkan, menghibur, dan jauh lebih baik daripada yang pertama"

Alice kembali ke dunia Underland dengan melewati cermin ajaib, dan menemukan Mad Hatter dalam keadaan sakit parah. Untuk dapat menyembuhkannya, Alice harus melakukan perjalanan waktu. Namun petualangannya dihalangi oleh Time dan Red Queen yang ingin membalas dendam terhadap semua yang terlibat atas kejadian sebelumnya.

Tanpa ekspektasi apapun, ternyata Alice Through the Looking Glass jauh lebih baik daripada film pertamanya. Dengan jalan cerita yang sederhana dan langsung pada tujuannya, film ini konsisten fokus pada karakter Alice dari awal hingga akhir. Belum lagi dengan pesan moral yang dibawa dan disampaikan, semua itu dibungkus dengan visual yang megah dan menakjubkan.


Dalam konteks cinematic universe dan mengesampingkan buku asli dari Lewis Caroll, Alice in Wonderland (2010) memang terlihat berantakan dari segi cerita. Mulai dari plot cerita yang ke mana-mana, dan tidak ada fokus karakter yang jelas karena semua ingin tampil dalam sinar spotlight. Tetapi hal tersebut tidak tampak dalam sekuelnya kali ini. Nama-nama besar seperti Johnny Depp, Helena-Bonham Carter, dan Anne Hathaway cukup berbesar hati merelakan karakternya hanya menjadi supporting saja. Fokus film pun tetap konsisten pada perkembangan karakter Alice yang nyata dari awal hingga akhir film.


Jalan ceritanya juga terbilang jauh lebih sederhana ketimbang pendahulunya. Alice harus menyelamatkan Mad Hatter, dan menghindari kejaran Time dan Red Queen. Sederhana dan straight to the point. Meski film ini hanya meminjam judul dan sama sekali tidak mengadaptasi dari novel sekuel berjudul sama dari Lewis Caroll, tetapi cerita yang diangkat juga tetap menarik dan memiliki pesan moral yang baik. Apalagi ada adegan-adegan yang berhubungan dengan film pertamanya.

Alice Through the Looking Glass memang terlihat bagus dan apik dalam konteks perbandingan dengan film pertamanya. Tetapi jika terlepas dari konteks tersebut, film ini jelas memiliki banyak kekurangan. Hal utama yang membuat gue facepalm di 3/4 film adalah kesadaran Alice bahwa ia melakukan sesuatu yang buruk demi menyelamatkan temannya. Oh come on! Tetapi hal itu coba ditutupi dengan pesan moral yang apik dan bertubi-tubi di akhir film.


Secara keseluruhan, Alice Through the Looking Glass jelas masih dapat ditonton dengan nyaman dibanding film pertamanya yang terkesan lebih kelam akibat tangan Tim Burton. Kini di tangan James Bobin sebagai sutradara The Muppets (2011), film ini jauh lebih ceria dan kocak. Kalau ditonton dengan subtitle bahasa Inggris, rasanya film ini akan terlihat lebih indah dengan dialog-dialognya yang puitis - dan terkadang kocak. Jangan lupa bernostalgia dengan suara almarhum Alan Rickman yang berbariton itu.



USA | 2016 | Adventure / Fantasy | 113 mins | Flat Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 4 Agustus 2016 -




----------------------------------------------------------
Search  Keywords:

  • review film alice through the looking glass
  • review alice through the looking glass
  • alice through the looking glass review
  • resensi film alice through the looking glass
  • resensi alice through the looking glass
  • ulasan alice through the looking glass
  • ulasan film alice through the looking glass
  • sinopsis film alice through the looking glass
  • sinopsis alice through the looking glass
  • cerita alice through the looking glass
  • jalan cerita alice through the looking glass

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top