20 August 2016
0 kritik

Lights Out

"Horor yang sederhana namun efektif dalam setiap kejutan yang ada"

Setelah Rebecca meninggalkan rumah, ia kira telah meninggalkan masa lalunya. Namun ketika adiknya Martin mengalami hal yang sama seperti masa kecilnya, Rebecca harus kembali ke rumah ibunya. Ternyata masa lalu yang menghantuinya itu memiliki keterikatan tersendiri dengan ibunya. Ketika kebenaran nyaris terungkap, keselamatan mereka bertiga semakin terancam ketika lampu dimatikan.

Lights Out adalah versi panjang dari film pendek karya sutradara yang sama, David F. Sandberg. Dirilis tahun 2013 berbendera Swedia, film ini viral di internet meski tidak memenangkan penghargaan apapun, dan digadang-gadang sebagai film pendek horor terseram dengan cerita yang sangat sederhana. Kini dengan rupa film panjang, cerita sederhananya diekstensi sedemikan rupa menjadi menarik dan meyakinkan. Masih dengan konsep sama; hantu yang muncul ketika lampu mati, Lights Out jelas menjadi film horor yang menyegarkan kembali konsep jump scares dan menjadi film yang sangat menyeramkan.


Meski diproduseri oleh horror-master James Wan, sutradara David F. Sandberg tetap setia pada konsep jump scares dan menggunakannya seefektif mungkin. Tidak ada adegan mengagetkan yang palsu, tidak ada musik atau suara aneh yang menyeramkan, hanya ada si hantu siluet Diana yang selalu muncul dari antah berantah. Setiap situasi menyeramkan berhasil dibangun dengan baik dan rapi, dan setiap kejutan akan selalu mengagetkan meski sudah diperkirakan sebelumnya.


Menariknya, para pembuat film benar-benar mengeksplorasi setiap cahaya, yang memang menjadi unsur utama kemunculan Diana. Mulai dari cahaya lampu biasa, senter, lilin, hingga lampu UV yang ternyata setiapnya mampu memunculkan efek keseraman yang sama. Kerennya, sutradara David F. Sandberg benar-benar menggunakan cahaya asli - tanpa cahaya tambahan - dalam proses syutingnya. Jadi apa yang kita lihat di layar, adalah benar-benar kondisi cahaya pada saat syuting. Termasuk efek praktisnya, dan tanpa CGI sama sekali.

Poin inilah yang membuat gue memberi apresiasi tertinggi pada Lights Out. Kisah yang dibangun seputar Diana memang tipikal Hollywood, serta kedodolan dan klise setiap karakter untuk menghampiri hal yang menyeramkan - sendirian - juga sangat tipikal. Tetapi semua itu dibayar dengan setiap kejutan Diana yang memang selalu mendirikan bulu kuduk. Yang membuat gue tambah jatuh cinta dengan film ini adalah kehadiran karakter Bret yang komikal. Kelucuannya benar-benar menyempurnakan asyiknya pengalaman menonton Lights Out dengan tingkah lakunya yang mengundang tawa spontan.


Entah kabar baik atau kabar buruk, ketika weekend pertama film ini mampu melampaui budget produksi, sekuelnya segera diberikan lampu hijau. Sebelum sekuelnya menderita penyakit komersialisme horor, mari kita berikan apresiasi terbaik untuk film panjang debut dari Sandberg - beserta film pendeknya - karena telah sukses menyegarkan film horor yang mengandalkan jump scares. Setidaknya, film ini mampu membuat gue tidur dengan lampu menyala.



USA | 2016 | Horror | 81 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 20 Agustus 2016 -


Film pendek Lights Out (2013)




----------------------------------------------------------
Search  Keywords:

  • review film lights out
  • review lights out
  • lights out review
  • resensi film lights out
  • resensi lights out
  • ulasan lights out
  • ulasan film lights out
  • sinopsis film lights out
  • sinopsis lights out
  • cerita lights out
  • jalan cerita lights out

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top