09 May 2013
One kritik

The Strange Case of Angelica

"Seorang fotografer diminta untuk memfoto seorang gadis yang baru saja meninggal, untuk kemudian jatuh cinta pada gadis yang telah meninggal tersebut"

Di larut malam, Isaac dimintai tolong oleh sebuah keluarga kaya untuk memfoto anak gadis mereka yang baru saja meninggal dengan sebab yang misterius. Ketika datang, Isaac pun terkagum dengan kecantikan Angelica, yang telah didandani dengan gaun pernikahannya. Disaat mengintip dari balik lensa kameranya, Isaac melihat Angelica membuka mata dan tersenyum kepadanya. Sejak saat itu, Isaac pun menjadi tergila-gila pada Angelica, dan dihantui olehnya siang dan malam.

Film yang disutradarai oleh seseorang yang telah berumur 102 tahun tentu merupakan sebuah hal yang perlu diperhitungkan. Manoel de Oliveira adalah sutradara kebanggaan Portugal yang telah menyutradarai lebih dari 60 judul film, bahkan sejak era film bisu. Salah satu film terbarunya ini adalah sebuah karya klasik tentang kisah spiritual tentang cinta dan kematian, yang dibungkus dengan cita rasa seni yang cukup tinggi dan kelewat nyentrik. Dengan jalan cerita yang sangat unik dan orisinil, beberapa side story yang tampak tidak relevan dengan plot utama, dan pengambilan kamera yang statis menjadi kombinasi untuk mendapatkan pengalaman menonton yang unik dan menarik.



Mungkin gue adalah salah satu penonton yang kurang dapat mengartikan apa yang hendak disampaikan oleh Mr. Oliveira dalam filmnya. Plot utama tentang Isaac yang jatuh cinta pada gadis yang telah meninggal mungkin adalah sebuah cerita yang cukup dapat diterima oleh logika yang memberikan ruang pada imajinasi. Namun side story yang ada seperti para petani yang masih menggunakan alat tradisional ketimbang mesin, obrolan para penghuni apartemen tentang kosmis, dan burung piaraan pemilik apartemen yang mati, semua ini membutuhkan usaha yang keras untuk menemukan metafora yang ada dibalik cerita-cerita ini dan signifikansinya pada plot utama.

Ceritanya yang kelewat unik dapat menjadi sebuah humor absurd, dimana penonton akan terbagi menjadi dua kelompok; yang tertawa lepas dan yang diam untuk mencoba memahami metafora yang ada. Yang menarik bagi gue adalah bagaimana pengambilan kamera yang statis dan tidak bergerak sama sekali, kecuali di dua adegan spesifik. Lalu dikombinasikan dengan pengarahan akting dan blocking para karakter yang memanfaatkan sudut pandang statis itu secara maksimal. Dialog, gerakan tubuh, dan blocking yang ada dalam film ini cukup teatrikal, dalam arti tidak natural namun terlihat diarahkan secara sengaja dengan tujuan artistik. Kombinasi antara pengambilan gambar dengan pengarahan akting ini menjadikan film ini seakan sebuah tontonan teater yang ada dalam layar. Atau sebuah karya lukisan dimana para karakternya dapat bergerak dan berbicara. A pure art in a motion picture.



Official Selection - Cannes Film Festival 2010 
Official Selection - European Union Film Festival 2012 
Official Selection - Trinidad Tobago Film Festival
Official Selection - Toronto International Film Festival 2010
Official Selection - New York Film Festival 2010

Portugal / Spain / France / Brazil | 2010 | Drama | 97 min | Aspect Ratio 1.66 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 9 Mei 2013 -

1 kritik:

  1. omegat... sampek sekarang aja, aku nggak ngerti ini pilem maunya apa

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top