23 May 2013
5 kritik

Fast & Furious 6

"Mengikuti jejak kesuksesan Fast Five, sekuel ke-6 ini tetap mengusung adegan aksi dan humor yang cukup, serta memaksimalkan adegan perkelahian tangan kosong, plus Joe Taslim!"

Semenjak kejadian di Fast Five (2011), Dominic Toretto dan tim-nya telah berpencar di berbagai belahan dunia untuk menikmati hasil rampokan 100 juta dollar-nya. Hidup mewah di beberapa tempat terpencil ternyata tidak sesempurna itu; mereka tidak dapat kembali pulang ke rumah sebagai keluarga besar. Sementara itu, Agen Hobbs sedang memburu tim perampok yang telah beraksi di 12 negara yang datang dan menghilang secepat kilat. Melawan api dengan api, Hobbs meminta bantuan Dom dan tim-nya untuk menghentikan Evan Shaw, mantan SAS yang menjadi perampok. Bayarannya adalah penghapusan segala macam catatan kejahatan sebagai bayarannya agar mereka semua dapat pulang ke rumah dan berkumpul kembali sebagai keluarga besar.

Serial Fast & Furious telah berevolusi dari film tentang balapan mobil keren menjadi kisah perampokan dengan mobil-mobil modifikasi. Walaupun dengan plot kriminal yang itu-itu saja, setiap sekuelnya masih saja menghadirkan adegan aksi dan stunt yang mengundang decak kagum. Jangan berharap banyak dari segi cerita, dimana perkembangan karakter dan alur plot yang logis pun di-nomordua-kan. Dengan formula sekuel terbaru harus lebih megah daripada pendahulunya, sutradara Justin Lin pun tidak tanggung-tanggung menghadirkan tank dan pesawat kargo sebagai lawan dari mobil-mobil balap. Selain itu, adegan aksi pada sekuel keenam ini tidak hanya terbatas pada kejar-kejaran mobil, tetapi juga adegan pertarungan jarak dekat. Yeah, that's why Justin Lin recruited Joe Taslim to the club.

Gambar diambil dari RottenTomatoes
Berusaha konsisten dengan nyawa utama dari franchise dengan unsur cerita bahwa dunia kriminal adalah area abu-abu dimana tidak ada batasan yang jelas antara yang baik dan yang jahat, namun unsur ini diminimalisir sedemikian rupa dengan membawa kata kunci baru; family matters. Seperti yang telah saya bilang diatas, abaikan segala hal yang berhubungan dengan alur cerita yang dirasa kurang logis, termasuk teknik shortcut untuk mempercepat jalan cerita dan mengesampingkan perkembangan karakter. O'Conner yang telah memiliki anak pertamanya bersama Mia, namun dengan mudah diijinkan untuk sekali lagi beraksi bersama Dom yang beresiko terhadap nyawanya? Family matters and that is what they are. Oke, yang penting adalah bagaimana untuk menghadirkan adegan kejar-kejaran mobil dan berantem tangan kosong secepat mungkin. Say goodbye to good storyline and press that NOS button!

Beruntungnya, film ini memang mencapai tujuannya; untuk menghadirkan hiburan lewat adegan-adegan aksi yang semakin hari semakin gila. Beberapa adegan aksi di klimaks memang tidak masuk akal, but hey, i've told you to turn off your brain. Formula yang digunakan dalam film ini seakan-akan mengikuti jejak kesuksesan dari Fast Five (2011); one-liner humor, adegan aksi yang keren, dan kolaborasi karakter yang kompak. Adegan mobil-mobil modifikasi kejar-kejaran dengan tank di jalan raya, atau mobil-mobil mencoba menghentikan pesawat kargo Rusia super-besar untuk lepas landas memang keren dan menegangkan untuk ditonton. Tapi adegan pertarungan tangan kosong pun tidak kalah keren, dan adegan ini dieksplorasi semaksimal mungkin. Tidak ada lagi adegan Dom vs Hobbs, tetapi ada Hobbs melawan manusia yang bertubuh jauh lebih besar darinya. Pertarungan dua wanita perkasa pun ada. Tapi menurut saya yang paling keren adalah adegan berantem di Waterloo Station dimana Jah (Joe Taslim) melawan tiga polisi plus Roman dan Han. Subjektif memang karena dia aktor laga Indonesia yang berhasil masuk dalam deretan Hollywood. But hell, that is a great fight scene.


Mungkin bagi kebanyakan orang Indonesia yang menonton film ini, akan sangat menyukai film ini karena kehadiran Joe Taslim. Saya adalah salah satunya. Saya sama sekali tidak menyangka bahwa karakter Jah diberikan peran yang cukup signifikan dalam film ini. Dialog-dialog yang diucapkan oleh Joe Taslim pun cukup banyak. Dan jujur, bahasa Inggrisnya Joe jauh lebih bagus daripada Ario Bayu. Apalagi dengan karakternya yang kuat lewat ekspresi dan sorot matanya yang keji - ditambah dengan kemampuan bela diri-nya - membuat karakternya sama kuatnya dengan karakter-karakter utama dalam film ini. Hal ini yang membuat saya selalu menunggu-nunggu karakter Jah muncul dalam layar, dan menjadi (satu-satunya) hiburan yang sangat menyenangkan ketika menonton film ini. Karakternya memang seorang antagonis, tetapi kesamaan warga negara ini yang membuat saya protes keras ketika karakternya harus kalah dan mati. Ah!



USA | 2013 | Action / Crime | 130 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 23 Mei 2013 -

5 kritik:

  1. si enJAH gak mati kok gan cuma mental doang
    di akhir filmnya

    ReplyDelete
  2. baru nonton ini td pagi.. dan wah gak nyangka dan bangga banget sama joe taslim.. ini baru go internasional, bukan cuma figuran tapi peran tambahan yang cukup berperan.
    semoga aja nasibnya bakalan beruntung kaya Letty yang muncul lagi di F & F ke 7..

    ReplyDelete
  3. iya, bahasa Inggrisnya Joe Taslim bagus ya... Dan dia sempet ngomong dalam bahasa Indonesia juga... Keren!

    ReplyDelete
  4. Hi, Nice Blog.

    Ikutan Lomba Review Film aja di http://movie.loveindonesia.com/id/competition/index

    Siapa tau bisa menang :)

    ReplyDelete
  5. haha setuju, gue juga menanti2 munculnya si Jah. dan gue cukup kaget dengan perannya yang ternyata banyak juga.

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top