04 May 2013
0 kritik

In the Fog

"Film drama perang tentang bagaimana sulitnya mengambil suatu pilihan ditengah keadaan yang tidak manusiawi ini menjadi indah karena kesunyiannya, yang kemudian berakhir dengan mengejutkan"

Tahun 1942, perbatasan bagian barat dari USSR telah dikuasai oleh Nazi-Jerman dan para pejuang lokal berusaha keras untuk memberontak. Kereta Jerman melaju keluar dari rel, Sushenya yang tidak bersalah beserta teman-temannya pun ditangkap karena bertanggung jawab terhadap sabotase tersebut. Ketika ketiga temannya dihukum gantung, Sushenya dibebaskan tanpa syarat dengan maksud memberikan hukuman yang lebih kejam daripada kematian. Rumor mengenai Sushenya pun merebak dengan menyebut ia sebagai pengkhianat, dimana ia tetap hidup dan dibebaskan sementara teman-teman seperjuangannya harus mati digantung.

Burov dan Voitik dari kelompok pejuang lokal pun berniat untuk menuntut balas. Ketika Sushenya ditangkap dan dibawa ke tengah hutan, mereka bertiga diserang oleh polisi Jerman. Jauh di dalam hutan, Sushenya harus berhadapan dengan dua orang yang ingin membunuhnya. Dengan garis batas yang kabur antara teman dan lawan, Sushenya harus mengambil pilihan moral di tengah situasi yang sangat sulit.


Selalu sulit bagi gue untuk dapat terus mengikuti film yang bergerak cukup lambat. Apalagi film ini memang dibuat dengan kemasan yang sangat sunyi; tanpa score dan benar-benar mengandalkan suara gemerisik hutan di Latvia. Namun gue baru mendapat "klik" setelah melewati 30 menit pertama, ketika alur cerita menyajikan plot flashback. Setelah itu, gue pun jadi lebih menikmati film ini, yang ternyata memang menyimpan keindahan visual dan audio. Dialog-dialog yang keluar memang cukup jarang, namun menjadi seakan menyatu dengan suara angin dan hawa musim dingin yang ada.

Menarik untuk melihat bagaimana film ini bertutur cerita. Plot "masa kini" yang dihadirkan memang ditujukan untuk membuat penonton semakin bertanya-tanya "ini kenapa sih??". Kemudian, pertanyaan tersebut pun dijawab oleh plot flashback, yang kurang ajarnya, muncul tanpa peringatan apa-apa. Yang menarik adalah, kekuatan dari ketiga karakter yang ada di layar ini sebegitu kuatnya lewat dialog, tatapan mata, ataupun aksi-reaksi mereka terhadap situasi yang ada. Kemudian plot flashback yang muncul pun seakan menjawab alasan mengapa karakter tersebut berperilaku.


Cukup sulit memang untuk mengetahui apa yang hendak disampaikan oleh film ini. Setidaknya penonton harus bersabar hingga plot flashback dari karakter Sushenya yang cukup fenomenal tersebut. Adegan interogasi antara Sushenya dengan seorang perwira Jerman ini begitu kuatnya hingga memunculkan rasa kengerian yang berbeda, meski si perwira seakan tidak menampilkan ekspresi emosi apapun. Dalam adegan ini, jelas sudah apa yang ingin disampaikan oleh para pembuat film. Bahwa dalam situasi yang sangat sulit dan tidak manusiawi, terkadang seseorang dipaksa untuk memilih satu pilihan dimana semua pilihan tersebut tidak ada yang baik. Terkadang, muncul satu pilihan alternatif untuk menghindari kesemua pilihan tersebut. Pilihan untuk "lari" dari dunia yang sebegitu tidak manusiawinya.



Nominee - Palme d’Or - Cannes Film Festival 2012 
Winner - FIPRESCI Prize - Cannes Film Festival 2012

Germany / Netherlands / Belarus / Russia / Latvia | 2012 | Drama / War | 127 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 4 Mei 2013 -



0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top