20 May 2013
One kritik

Star Trek Into Darkness

"Tidak se-kolosal sekuel pertama, film ini tetap menyuguhkan adegan aksi yang intens dan plot konflik dengan level yang berbeda, dibungkus dengan visual yang megah"

Setelah menyelesaikan misi eksplorasi dan pengintaian - yang berakhir dengan intervensi - di sebuah planet asing, Enterprise dipanggil pulang ke bumi. Ketika kru Enterprise sedang mempersiapkan misi 5 tahun eksplorasi luar angkasa, markas Starfleet diserang oleh serangkaian serangan yang menjatuhkan banyak korban jiwa. Kapten Kirk, Spock, beserta seluruh awak Enterprise pun ditugaskan untuk memburu seorang pelaku yang ternyata adalah orang dalam. Perburuan tersebut ternyata membawa Enterprise masuk dalam zona perang. Menghadapi musuh yang tidak diketahui, membuat petualangan dan perjuangan Kapten Kirk dan kawan-kawan ke level yang lebih tinggi untuk mengorbankan tidak hanya persahabatan, namun juga rasa kekeluargaan.

Perlu menunggu empat tahun untuk dapat mengikuti kembali kisah Kapten Kirk dan Spock (plus Scotty), sejak Star Trek (2009) yang fenomenal tersebut. Remake dari serial televisi yang dicintai jutaan penggemar ditambah dengan berbagai ekspektasi memang tidaklah mudah. Tapi sutradara J.J. Abrams yang visioner berhasil menjawab berbagai ekspektasi tersebut, dengan menghadirkan film panjang Star Trek yang megah sekaligus mind-blowing. Di sekuel pertamanya, kisah perang luar angkasa yang kolosal sekaligus putaran twist tentang time-travel yang memutar otak. Di sekuel kedua ini, kisah eksplorasi luar angkasa ini memang sengaja tidak dibuat sekolosal dan semegah pendahulunya, melainkan menyasar pada hal-hal yang lebih personal dan mendasar.

Gambar diambil dari RottenTomatoes
Duet penulis naskah (Robert Orci & Alex Kurtzman) yang juga menulis naskah sekuel pertama tahu benar ekspektasi yang diharapkan penonton pada film-film sekuel pada umumnya; lebih megah, adegan aksi yang lebih banyak, dan lebih-lebih yang lainnya. Namun mereka berdua memutuskan untuk tidak membuat naskah sekuel kedua ini mirip dengan sekuel pertama. Alih-alih Enterprise bertempur menghadapi satu penjahat utama, kisah sekuel kedua ini lebih menitikberatkan pada pertempuran menghadapi musuh yang tidak terlihat dan tidak jelas. Lebih jauh lagi, villain dalam film ini dibuat seabu-abu mungkin, seakan-akan tidak ada batasan jelas mana yang dapat disebut sebagai villain dan mana yang bukan. Dilematis area abu-abu ini pun yang menjadi persoalan utama yang dihadapi oleh awak Enterprise, dan khususnya Kapten Kirk. Apalagi jika melibatkan seluruh awak Enterprise, yang telah menjadi keluarga satu-satunya bagi Kaptek Kirk. Mungkin inilah mengapa embel-embel "Into Darkness" dipilih sebagai sub-judul sekuel kedua ini.

Special mention untuk Benedict Cumberbatch yang berhasil menghidupkan tokoh Khan menjadi sangat powerful. Selain semua orang tahu betapa berbahayanya karakter Khan dengan kemampuan yang dimilikinya, Cumberbatch berhasil menciptakan aura yang mengerikan hanya dengan sorotan matanya. Belum lagi dengan nada bicaranya yang intimidatif, menjadikan karakter Khan ini seakan kombinasi dari karakter The Joker, Hannibal Lecter, dan Jack dalam The Shining (1980).

Gambar diambil dari RottenTomatoes
Selain itu, pembuat film juga tetap pada konsistensinya untuk membuat kisah pesawat Enterprise pada jalur yang tepat; pure science-fiction. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali penonton akan dihadapkan pada istilah-istilah sains yang disebutkan oleh para karakternya, terutama karakter kocak Scotty. Apalagi teknis sains yang ada dalam film ini menjadi cukup signifikan pengaruhnya bagi jalan cerita film berdurasi 132 menit ini.

Segi cerita yang berbeda dengan film-film aksi kebanyakan, plot sci-fi yang cerdas, tidak lengkap jika tidak diimbangi oleh visual efek yang mumpuni. Ketika rumah produksi Paramount Pictures menginginkan film ini disyuting dalam format 3D, Mr. Abrams ingin film ini disyuting dalam format IMAX dua dimensi. Jalan tengahnya adalah, 3D post-conversion, dan menjadi film pertama dalam sejarah dimana format IMAX yang dikonversi ke dalam bentuk tiga dimensi. Hasilnya? Brilian dan magis! Film ini benar-benar wajib ditonton dalam format IMAX. Harga yang lebih mahal sangat sebanding dengan pengalaman menonton yang akan anda alami dalam studio IMAX. Ingat, ini adalah film dengan kebanyakan setting berada di luar angkasa, dan bayangkan betapa cinematic-orgasm untuk menonton sembari merasakan anda terbang kesana-kemari bersama awak Enterprise. Belum lagi dengan efek visual yang luar biasa. Brightness yang ada pun dibuat seterang mungkin untuk melewati kacamata 3D yang gelap. Walaupun hasil konversi, tapi efek pop-up dan depth cukup jelas dan membuat seakan-akan ledakan-ledakan di luar angkasa ada tepat di depan mata anda.


USA | 2013 | Action / Sci-Fi | 132 min | Aspect Ratio 2.35 : 1 / 1.44 : 1 (IMAX version - some scenes)


Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 20 Mei 2013 -

Nominated for Best Visual Effects, Academy Awards, 2014

1 kritik:

 
Toggle Footer
Top