04 May 2013
0 kritik

Evil Dead

"Film ini memang bertujuan untuk menjadi hiburan yang fun dengan horor dan sederet adegan gore-nya, namun kurang konsisten dalam memaksimalkan eksekusinya"

Lima remaja menghabiskan liburan musim panas di rumah kayu di tengah hutan. Lama ditinggalkan, mereka menemukan ruang bawah tanah yang misterius; berisi bangkai-bangkai kucing dan sebuah buku tua. Salah satu dari mereka pun membaca buku tersebut dan tidak sengaja merapal mantera kuno, yang ternyata membangkitkan arwah jahat dan merasuki salah seorang dari mereka. Dihadapkan pada kematian dan kekuatan iblis, mereka berlima harus bertahan hidup dan menemukan cara untuk menghadapi kekuatan jahat tersebut.

Sebentar, sabar dulu. Mari kita tahan dulu hujatan atau pandangan sinis dari formulatifnya plot tersebut ketika selesai membaca sinopsis singkat diatas. Atau tahan jangan walk-out dulu di 15 menit awal film ini ketika jalan cerita benar-benar bergerak ke arah formula super-standar dari genre horror dan slasher ini. Penting untuk diketahui bahwa film Evil Dead ini adalah remake dari film The Evil Dead yang dirilis tahun 1981 yang ditulis dan disutradarai oleh Sam Raimi. Yes, jadi tidak heran jika plot ceritanya sangat formulatif dan "itu-lagi-itu-lagi". Maka berterima kasihlah pada sutradara dan penulis naskah Fede Alvarez yang berniat kembali untuk menghidupkan film cult-horror klasik milik Sam Raimi, dan mempolesnya dengan ramuan horor modern sehingga menjadi dapat diakses oleh generasi abad ke-21.

Foto: RottenTomatoes
Perlu diketahui juga bahwa versi orisinil tahun 1981 cukup terkenal karena mengundang kritik pedas dan sensor-sensor yang total durasi sensornya sampai berbelas-belas menit; karena banyaknya adegan-adegan yang tidak berperikemanusiaan.Yak, Alvarez telah memperhalus adegan-adegan tersebut 100x lipat, namun dengan pede-nya men-cap film ini sebagai "the most terrifying film you will ever experience". Tapi gue harus tambahkan tagline film tersebut dengan kalimat "and the most predictable film". Tapi ya memang bukan itu sih tujuan film ini dibuat.

Foto: RottenTomatoes
Plot cerita jadi ga penting lagi. Alur logis jalan cerita pun ga signifikan. Apalagi akting dan pembangunan karakter dari peran-peran yang ada. Mau ganteng, mau cantik, mau toket gede ato ga, ga penting! Buat apaan juga toh tar juga bakal mati berdarah-darah. "F*ck the story and the cast, gue cuma mau semprotin darah ke muka-muka penonton gue!" kata Alavarez. Maka kalau ada satu karakter cewe pirang yang stereotip bloon-nya yang tetep masuk ke ruang bawah tanah dengan klisenya, ya udah lah ya. Kalau ada karakter yang masih bisa tetap hidup walaupun sudah ditusuk sama pecahan kaca dan ditembakin sama nail gun, ya udah lah ya. Terima aja. Bersyukur aja artinya masih ada satu tubuh manusia lagi yang siap buat dirusak dan dijedot-jedotin.

Film ini memang berniat untuk menjadi film yang "fun" dan penuh dengan humor absurd, se-"fun" ketika kita berteriak-teriak ngeri campur gembira saat naik roller-coaster. Teriak-teriak gembira campur ngeri lalu nagih minta lagi ketika kereta telah tiba di samping operator. Tanpa berniat sok menakut-nakuti penontonnya dengan wajah rusak si iblis atau efek suara yang pol ngagetin, film ini cukup "enak" untuk dinikmati secara lepas. Yoi, adegan-adegan dimana berbagai anggota tubuh dapat lepas dari satu dengan yang lain dan diperlihatkan secara grafis, di adegan itu dimana gue dapat merasakan sensasi tertawa-tawa ngeri dan jijik.

Foto: RottenTomatoes
Sayang sungguh sayang, niat baik Alvarez agar film ini dapat lolos dari berbagai peraturan dan norma moral sensor malah menjadikan film ini kentang sekentang-kentangnya. Bergalon-galon darah yang ditumpahkan dan efek praktik (no-CGI!) dari daging-daging manusia yang tercabik-cabik, dieksekusi oleh Alvarez secara malu-malu kucing. "Gue pengen nayangin orang yang motong tangannya sendiri pake pisau mesin, tapi takut kena sensor!". Disaat adrenalin sudah memuncak, persiapan mental telah dibangun, dan jalur darah orgasme telah disiapkan sebelum menonton adegan tersebut, eeh gue malah harus balik duduk di bangku bioskop sambil protes "kentang woi!".

Tetapi ternyata segala kekentangan tersebut dijawab di akhir film. Seakan-akan Alvarez mendengar protes gue yang sok berani untuk minta lebih, ending di film ini seakan menyodorkan kembali apa yang gue minta tepat di depan muka gue. Walaupun tetap tertebak apa adegan selanjutnya, tapi gue seakan tak cukup waktu untuk mempersiapkan mental. Eksekusi adegan tersebut pun membuat gue berteriak kegirangan "HAHAHA B*NGSAAAT GITU DONK AH DARI TADI!!".



USA | 2013 | Horror / Slasher | 91 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 4 Mei 2013 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top