10 May 2013
0 kritik

Bibliotheque Pascal


"Seorang ibu ingin mendapatkan kembali hak asuh atas anaknya dengan menceritakan sebuah cerita kepada dinas sosial, dimana realita dan imajinasi bercampur aduk dalam cerita tersebut"

Untuk mendapatkan kembali hak asuh atas anak perempuannya, Mona harus menceritakan alasan mengapa dirinya menghilang selama beberapa bulan kepada seorang pekerja sosial. Kisah yang ia ceritakan kepada si pekerja sosial, adalah sebuah cerita yang penuh dengan petualangan dan terkesan terlalu fantastis. Mungkin saja cerita tersebut adalah cara coping Mona untuk menghadapi rasa sakit dan trauna yang dialaminya, untuk kemudian dapat kembali berhubungan dengan realitas yang ada.

Ditinggal begitu saja oleh seorang laki-laki setelah menghamili dirinya, Mona perlu berjuang lebih keras untuk menghidupi dirinya sendiri dan juga anak perempuannya. Demi mendapatkan penghasilan tambahan, Mona nekat meninggalkan Hungaria untuk menuju Inggris atas tawaran seseorang yang misterius. Ternyata Mona dijual ke sebuah rumah bordil di Liverpool, dimana fantasi seksual segila apapun yang dimiliki oleh para kliennya dapat dipenuhi disini.




Perlu diingat bahwa film ini dibuat satu tahun sebelum Zack Snyder membuat Sucker Punch. Dengan ide dssar yang pararel, Bibliotheque Pascal memberikan bumbu yang berbeda dengan mengangkat isu sosial human trafficking yang terjadi, khususnya di negara-negara Eropa timur yang miskin. Walaupun keputusan Mona untuk meninggalkan Hungaria adalah keputusan yang dibuat dalam keadaan sadar dan tidak dipaksa oleh siapapun, namun kondisi ekonominya yang memaksa dirinya. Siapa sangka ternyata kehidupan yang dijalaninya di rumah bordil tersebut tidak sebanding dengan apa yang ia dapat, lantas menambahkan isu sosial baru; perbudakan manusia di era modern.

Dengan bahasa-bahasa gambar yang imajinatif, dan visual-visual yang penuh fantasi, film ini menambah perbendaharaan film-film yang berkisah tentang bagaimana seseorang menggunakan realitas alternatif sebagai strategi coping dalam menghadapi situasi traumatik. Bedanya dengan Sucker Punch, maupun Life of Pi, film ini secara tajam mengarah pada kondisi emosional dari seseorang yang menjadi korban kapitalisme dan berusaha keras mencari penghasilan tambahan untuk anak kesayangannya. Secara khusus, film ini menitikberatkan pada perasaan cinta Mona terhadap anaknya, dan rela melakukan apa saja demi kebahagiaannya. Termasuk dengan bagaimana Mona mengajak anaknya untuk ikut berimajinasi makan makanan enak dan tidur di sebuah kamar tidur mewah, yang ternyata tempat tersebut adalah sebuah kompartemen dari toko furniture.



2010 | Germany / Hungary / UK / Romania | Drama / Fantasy | 105 min | Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 10 Mei 2013 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top