20 May 2017
0 kritik

Ziarah

"Drama artistik yang tidak hanya cantik di visual, tapi juga cantik pada jalan cerita dan pesan moralnya"

Selama puluhan tahu, Mbah Sri menjanda setelah ditinggal perang oleh suaminya Pak Prawiro pada saat Agresi Militer Belanda Ke-2 tahun 1948. Kini, kerabat dan sahabatnya telah meninggal. Mbah Sri pun ingin dimakamkan di sebelah makan suaminya. Tetapi pertemuannya dengan salah seorang veteran mengungkapkan fakta baru; makam yang selama ini disekar ternyata bukan makam Pak Prawiro. Mbah Sri pun menempuh perjalanan sendirian untuk mencari lokasi di mana Pak Prawiro meninggal pada masa perang dan dimakamkan. Namun perjalanan tersebut juga mengungkap fakta dan luka lama soal tanah, kemerdekaan, dan pengorbanan warga.

Ziarah adalah film yang indah, tidak hanya dengan visual tetapi juga dengan skenario yang dieksekusi dengan brilian lewat dialog dan perjalanan ceritanya. Film ini adalah tipikal film yang pemahaman terhadap karakter yang ada akan bertambah dalam seiring dengan durasi film. Di awal, penonton yang mengira telah memahami setiap karakter dan cerita, ternyata dibuat tak berdaya ketika perkembangan karakter yang semakin dalam terus dieksplorasi semaksimal mungkin hingga akhir film. Belum lagi mata dan telinga disuguhkan oleh visual dengan sinematografi yang indah menggambarkan bukit dan lembah Gunung Kidul yang cantik.



Film tipikal Ziarah memang bertempo lamban dan minim dialog. Ada banyak bahasa gambar yang harus diinterpretasikan sendiri oleh para penonton, tanpa perlu penjelasan apapun terhadap apa yang sedang terjadi di layar. Seakan-akan kita seperti mengikuti perjalanan ziarah Mbah Sri yang banyak mendapatkan pengetahuan baru terhadap nasib suaminya, tanpa tahu mana yang benar dan mana yang salah. Perjalanan ziarah ini juga ternyata bukan semata-mata tentang suaminya saja, tetapi juga tentang warga lokal dengan permasalahan kehidupan sehari-hari.

Salut untuk skenario yang ditulis sendiri oleh BW Purbanegara. Ada banyak side story yang muncul berupa dialog keseharian dari orang-orang yang ditemui oleh Mbah Sri dan juga cucunya. Menariknya, omongan-omongan ringan yang jelas tidak berhubungan dengan jalan cerita ini ternyata mampu mengarahkan pemikiran penonton mengenai apa yang akan terjadi di akhir pencarian Mbah Sri. Omongan yang sebagai referensi tambahan terhadap peristiwa yang terjadi dalam Agresi Militer Belanda Ke-2, yang ternyata masih menyimpan luka bagi warga sekitar. Cantiknya, semua terbayar dengan maksimal dan menghangatkan hati di akhir film.



Indonesia | 2016 | Arthouse / Drama | 87 menit | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

Film Terbaik Pilihan Juri – ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017
Skenario Terbaik – ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017
Film Terbaik – Salamindanaw Film Festival 2016 di Filipina
Skenario Terbaik versi Majalah Tempo 2016

Nominasi Penulis Skenario – Festival Film Indonesia 2016
Nominasi Aktris Terbaik – ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017
Nominasi Sutradara Terbaik – ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017
Nominasi Film Terbaik – ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017
Nominasi Film Terbaik – Apresiasi Film Indonesia 2016
Kompetisi Film – Jogja Netpac Asian Film Festival 2016

- sobekan tiket bioskop tanggal 20 Mei 2017 -

----------------------------------------------------------
  • review film ziarah
  • review ziarah
  • ziarah  movie review
  • resensi film ziarah
  • resensi ziarah
  • ulasan ziarah
  • ulasan film ziarah
  • sinopsis film ziarah
  • sinopsis ziarah
  • cerita ziarah
  • jalan cerita ziarah

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top