31 May 2017
0 kritik

Wonder Woman

"Film pahlawan super wanita yang gemilang dalam feminisme dan hiburan mata telinga"

Sebelum menjadi Wonder Woman, Diana adalah seorang putri dari Amazon, sebuah pulau tersembunyi yang berisi pejuang-pejuang wanita tangguh yang dipimpin oleh seorang keturunan dewa. Ketika Steve, seorang pilot mata-mata jatuh di perairan dekat pulau, Diana menyelamatkannya. Dari Steve, Diana memahami bahwa saat itu dunia sedang dilanda oleh perang besar yang merenggut banyak nyawa orang tidak bersalah. Bersama Steve dan teman-temannya, Diana pun mencoba untuk menghentikan perang tersebut untuk kemudian menemukan jati dirinya.

Wonder Woman jelas menjadi film superhero wanita pertama dalam 12 tahun terakhir setelah Elektra (2005). Sebagai film keempat dalam DC Universe, film ini juga menjadi salah satu set up untuk Justice League yang akan dirilis tahun ini. Beban berat sebagai film solo pahlawan super wanita pertama di dekade ini dibuktikan dengan gemilang lewat aksi Gal Gadot yang bersinar terang sepanjang film.


Beruntung Wonder Woman disutradarai oleh seorang wanita, yang jelas sangat berpengaruh pada bagaimana film bertutur cerita. Tugas film pahlawan super wanita sudah sangat jelas, menggambarkan kekuatan feminisme, dan bagaimana seorang wanita dapat berdiri sendiri dan tidak butuh bantuan laki-laki. Patty Jenkins yang sebelumnya menyutradarai Monster (2003) mengeksekusi pesan ini dengan baik dan cenderung mudah, mengingat kekuatan Diana Prince yang ternyata didapatkan dari garis lahir keturunannya. Tapi ya feminisme yang diperlihatkan hanya tampak luar saja, dalam artian kekuatan fisik dan efek yang ditimbulkannya.


Satu keluhan gue ada pada karakter Diana yang diperlihatkan dalam film ini. Sebagai seorang tuan putri yang seumur hidupnya hidup dalam pulau terpencil dan terisolasi, memang wajar dirinya menjadi polos dan apa adanya di dunia luar. Sisi ini memang dibawakan dengan sangat baik oleh Gal Gadot. Tetapi sisi tersebut yang notabene bertolak belakang dengan keperkasaan Wonder Woman, menjadi dua buah sisi yang saling terpisah satu dengan yang lain. Melihat Diana dengan kostum biasa dan Wonder Woman dengan kostum superhero-nya seakan melihat dua karakter yang berbeda. Ketidakmatangan karakter ini yang kemudian membuat karakter Steve Rogers, eh, Steve Trevor menjadi bersinar berkat penampilan sangat baik dari Chris Pine.

Jika menggunakan tolok ukur DC Universe, Wonder Woman jelas menjadi film dengan kualitas terbaik dibandingkan tiga film pendahulunya. Dari segi naskah hingga karakterisasi, semua terlihat normal dan cukup baik. Tetapi jika harus dibandingkan dengan film-film superhero lainnya, tidak ada hal baru yang ditawarkan dalam film ini. Selain efek visual dan bagaimana muka Gal Gadot tetap bersih walaupun berada dalam medan Perang Dunia I, Wonder Woman masih menjadi film stereotip yang hanya menyajikan hiburan mata dan telinga semata.


USA | 2017 | Action / Superhero | 140 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?

7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 31 Mei 2017 -

----------------------------------------------------------
  • review film wonder woman
  • review wonder woman
  • wonder woman movie review
  • resensi film wonder woman
  • resensi wonder woman
  • ulasan wonder woman
  • ulasan film wonder woman
  • sinopsis film wonder woman
  • sinopsis wonder woman
  • cerita wonder woman
  • jalan cerita wonder woman

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top