10 May 2017
0 kritik

Toni Erdmann

"Drama komedi keluarga yang menyentuh dan penuh makna, meski perlu energi lebih untuk menikmati keseluruhan film"

Winfried yang menghabiskan masa tuanya sebagai guru les piano dan tetap suka membuat lelucon praktikal, tidak banyak bertemu dengan Ines anaknya. Pekerjaan Ines yang super sibuk pun banyak menyita waktunya untuk bekerja di Bucharest. Kunjungan dadakan dari Winfried di Bucharest pun tidak membantu banyak, ketika Ines masih lebih banyak sibuk bekerja seakan tanpa memiliki kehidupan pribadi. Winfried pun pamit pulang ke Jerman, namun datang lagi sebagai Toni Erdmann dan mengaku sebagai life coach dari Ines. Namun semakin keras mereka berselisih, semakin dekat pula kehidupan mereka berdua.

Menonton drama berdurasi dua jam empat puluh menit memang selalu menantang, apalagi dengan tempo yang lamban. Film Toni Erdmann memang menyajikan kisah yang menarik, apalagi setiap leluconnya benar-benar menghibur dan sangat efektif untuk meringankan cerita. Namun perlu energi ekstra untuk mempertahankan perhatian pada film, dengan banyaknya bahasa gambar yang perlu direnungkan apa implikasinya terhadap keseluruhan cerita. Meski kemudian ditutup secara elegan dan penuh makna, meski lagi-lagi dengan bahasa gambar yang penuh ambiguitas.



Toni Erdmann jelas menjadi salah satu film tipikal Eropa yang sangat khas. Cerita yang sangat sederhana dan membumi, yaitu hubungan dua generasi yang terbilang cukup renggang. Kemudian digambarkan secara artistik lewat deretan bahasa gambar tanpa dialog, namun dengan visual yang cantik. Sedikit sekali film ini menyuapi penonton tentang apa yang sedang terjadi pada layar, selain menggambarkan secara general bagaimana kehidupan masing-masing dari Winfried dan Ines yang bertolak belakang. Tidak ada satu tujuan spesifik yang ditargetkan sejak awal film, selain melihat gambaran kehidupan mereka. Hal ini yang menjadikan film ini sebagai tipikal film bagai jendela terhadap kehidupan orang lain.

Tipikal film seperti ini jelas bisa dibilang sebagai film studi karakter, mengingat bagaimana tiga dimensinya dua karakter utama kita. Kedua karakter dari dua generasi yang berbeda ini sama-sama memiliki dimensi karakter yang bisa dikulik dari berbagai sisi. Eksplorasi karakter pun terbilang cukup lengkap dengan melihat bagaimana mereka bereaksi di depan orang-orang dan juga ketika mereka sedang sendirian. Lagi-lagi film ini tidak memberikan penilaian apapun, dan hal tersebut justru dilempar pada penonton agar turut aktif memahami apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan oleh Winfried dan Ines. Jelas sebuah film yang menuntut partisipasi aktif dari para penontonnya, untuk kemudian ikut larut dalam emosi yang terjadi di layar.



Germany | 2016 | Comedy / Drama / Family | 164 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Nominated for Best Foreign Language Film, Academy Awards, 2017.
Nominated for Best Foreign Language Film, Golden Globes, 2017.
Nominated for Best Foreign Language Film, BAFTA Awards, 2017.
Won for FIPRESCI Prize (Maren Ade), Nominated for Palme d'Or (Maren Ade), Cannes Film Festival, 2016.

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 10 Mei 2017 -

----------------------------------------------------------
  • review film toni erdmann
  • review toni erdmann
  • toni erdmann  movie review
  • resensi film toni erdmann
  • resensi toni erdmann
  • ulasan toni erdmann
  • ulasan film toni erdmann
  • sinopsis film toni erdmann
  • sinopsis toni erdmann
  • cerita toni erdmann
  • jalan cerita toni erdmann

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top