12 January 2017
0 kritik

The Great Wall

"Film aksi epik yang tidak saja megah, tetapi juga memiliki hati yang besar dan penuh makna"

Tembok Besar Cina dibangun selama 1700 tahun, dan ada banyak kisah - baik nyata maupun legenda - seputar mengapa mereka membangun tembok sebesar dan sepanjang itu. Dalam salah satu legendanya, mereka membangunnya untuk menangkal serangan yang dapat mengancam keberlangsungan hidup manusia. Seorang tentara bayaran yang pergi jauh ke Timur untuk mencari "bubuk hitam" sebagai potensi senjata baru, terjebak dalam peperangan yang telah berlangsung selama berabad-abad ini. William pun tidak hanya harus berjuang untuk hidup, tetapi menemukan kembali idealismenya mengenai untuk apa dan siapa dia terjun ke medang perang.

Mungkin banyak orang yang terlanjur kecewa dan ill-feel melihat karakter utamanya seorang Kaukasian dalam film yang 100% berlatar di Cina. Seakan-akan film yang berlatar Timur jauh tidak akan bisa menarik banyak penonton tanpa aktor Hollywood kelas satu. Tetapi ketika paham betul plotnya, segala macam kekecewaan tersebut akan perlahan sirna dengan motivasi logis dan meyakinkan. Lagipula, The Great Wall bukan film pertama dari sutradara yang sama dimana seorang Barat menjadi pemeran utama dalam film berlatar di Cina, sebelumnya sudah ada Christian Bale dalam The Flowers of War (2011). Apalagi ditambah dengan cerita yang ternyata memiliki hati yang besar dan tidak hanya bergantung pada unsur aksi dan peperangan.

The Great Wall menjanjikan adegan perang epik, dan sutradara Yimou Zhang mengeksekusi itu dengan sangat baik. Jelas saja, judul-judul besar seperti Hero (2002), House of Flying Dagger (2004), dan Curse of the Golden Flowers (2006) sudah berbicara sendiri mengenai kualitasnya. Adegan perang epik yang melibatkan ratusan orang dan hasil CGI yang sangat meyakinkan, jelas sangat efektif untuk meningkatkan tensi ketegangan yang ada.


Film ini juga menyajikan visual yang cantik. Lihat saja pilihan latar yang ada dalam film ini, perbukitan merah sampai gurun pasir yang semuanya terlihat sangat artistik. Dipadu dengan departemen kostum yang gagah tapi terkesan nggak mau kalah dengan kostum parade Rio - dalam artian yang positif. Kostumnya benar-benar keren, meski terlihat off the place dan terlalu fiktif tetapi setidaknya ini yang mengingatkan kita bahwa ini adalah kisah fantasi.

Satu hal yang gue suka adalah jelas adanya hati yang besar dalam film ini. Perjuangan pahlawan kita diberikan motivasi yang kuat, untuk kemudian dipertemukan dengan pahlawan lokal yang memiliki filosofi yang kuat. Perkembangan karakternya pun jelas, dari seseorang yang selalu berperang demi keuntungan pribadi menjadi seseorang yang berperang demi kepentingan yang lebih besar. Filosofi Timur tentang kepercayaan pun menjadi bahan bakar utama dalam setiap pilihan aksi dan pergerakan jalan cerita. Ini yang membuat The Great Wall lebih dari pada film aksi epik biasa yang hanya mengandalkan adegan aksi.



USA | 2016 | Action / Fantasy | 103 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 12 Januari 2017 -


----------------------------------------------------------
  • review film the great wall matt damon
  • review the great wall matt damon
  • the great wall matt damon review
  • resensi film the great wall matt damon
  • resensi the great wall matt damon
  • ulasan the great wall matt damon
  • ulasan film the great wall matt damon
  • sinopsis film the great wall matt damon
  • sinopsis the great wall matt damon
  • cerita the great wall matt damon
  • jalan cerita the great wall matt damon

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top