24 January 2017
2 kritik

Resident Evil: The Final Chapter

"Aksi yang gaspol dengan hiburan seratus persen, meski segi cerita dan editing yang harus dipasrahkan"

Dimulai tepat setelah kejadian dalam Resident Evil: Retribution (2012), Alice harus kembali ke tempat di mana semuanya dimulai; Hive di Racoon City. Alice mengetahui bahwa Umbrella sedang mempersiapkan segalanya untuk mengakhiri sisa manusia yang selamat dari kiamat tersebut. Bersama beberapa penyintas, Alice harus berpacu dengan waktu sebelum semuanya terlambat.

Sekuel kelima dari franchise permainan populer Resident Evil ini sekali lagi menghidupkan karakter Alice dengan caranya sendiri. Ya terserah deh ya mau gimana, suka-suka si sutradara dan penulis naskah yang menciptakan franchise dan ketenaran untuk istrinya sendiri. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa The Final Chapter memberikan hiburan dan action gas pol di setiap menitnya. Permasalahannya hanyalah pada apakah elo adalah kelompok penonton yang cocok untuk menonton tipikal film seperti ini.

Seperti sekuel-sekuel sebelumnya, jelas The Final Chapter masih menjual pertempuran tiada akhir antara manusia terakhir di bumi dengan zombie mutan dengan berbagai bentuk. Semuanya masih ada, lengkap dengan deretan senjata canggih dan ledak-ledakan - yang beruntungnya - tidak over-the-top. Apalagi kali ini Alice akan tampil tidak sesuper sekuel sebelumnya, sehingga membuat keadaan menjadi seru ketika karakter utama kita rentan untuk mati.


Kita pun sudah sadar sepenuhnya bahwa tipikal film seperti ini tampak tidak peduli pada kualitas cerita yang logis. Ada beberapa pergerakan cerita yang membuat gue bertanya-tanya, tetapi percuma saja karena setiap pertanyaan itu selalu tenggelam dengan adegan aksi yang selanjutnya muncul. Pertanyaan itu pun terdistraksi juga dengan deretan tribute dan nod pada original Resident Evil (2002). Yang saking banyaknya, hal itu menjadi rancu apakah memang murni tribute atau hanya mencoba mendongkrak kualitas The Final Chapter dengan memakai formula yang sama yang memang menjadikan film orisinalnya sebagai salah satu yang terbaik.

Di luar itu semua, hal yang sangat mengganggu gue jelas adalah gaya editing yang ditampilkan. Di setiap adegan aksinya, pergantian adegan berjalan sangat cepat. Ini memang berkebalikan dengan gaya Paul WS Anderson dalam film-film sebelumnya yang sangat memuja slow motion. Eksperimen terbarunya ini memang menarik dan efektif menambah tingkat ketegangan tersendiri. Tapi sayangnya, hal tersebut malah membuat deretan adegan yang berganti cepat itu seakan berantakan - termasuk menutupi kelemahan CGI yang ada.



USA | 2016 | Action | 106 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
6 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 24 Januari 2017 -
----------------------------------------------------------
  • review film resident evil the final chapter
  • review resident evil the final chapter
  • resident evil the final chapter review
  • resensi film resident evil the final chapter
  • resensi resident evil the final chapter
  • ulasan resident evil the final chapter
  • ulasan film resident evil the final chapter
  • sinopsis film resident evil the final chapter
  • sinopsis resident evil the final chapter
  • cerita resident evil the final chapter
  • jalan cerita resident evil the final chapter

2 kritik:

  1. Mestinya sequel ke 5, kan
    1. Apocalypse (2002)
    2. Extinction (2007)
    3. Afterlife (2010)
    4. Retribution (2012)
    5. Final Chapter (2016)

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top