23 November 2016
One kritik

Under the Shadow

"Iranian's Babadook with spookier entity within its slow-built story line and scariest atmosphere"

Iran tahun 1980an, Shehdi adalah seseorang liberal yang berusaha menjadi ibu yang baik bagi anak perempuan satu-satunya, Dorsa. Di tengah perang Iran-Irak, suaminya harus pergi ke medan perang meninggalkan Shehdi dan Dorsa sendirian di rumah. Suatu hari boneka kesayangan Dorsa hilang, dan konon diambil oleh Djinn; makhluk halus dari mitos tradisional yang ingin merasuki tubuh manusia. Boneka tak kunjung ditemukan, serangkaian kejadian aneh di rumah pun meningkat, diperparah dengan para penghuni apartemen yang pergi mengungsi dari Tehran satu-persatu. Shehdi dan Dorsa harus berusaha menemukan bonekanya dan pergi dari rumahnya secepatnya sebelum semuanya terlambat.

Udah lama banget nonton horor gue gak ngerasain tahan nafas dan duduk melorot sampai ujung kursi kaya gini. Under the Shadow emang juara banget bikin penontonnya ngerasain ngeri secara psikologis, sampai menusuk tulang! Ini tipikal film artsy dengan banyak bahasa-bahasa gambar yang sunyi tanpa dialog, tetapi bahasa gambar tersebut dibuat bertujuan untuk menambah ambuigitas yang menggiring pada ketakutan. Jump scares-nya sangat minimalis, dan kengerian horornya dibangun secara luar biasa lewat atmosfer yang sangat menakutkan. Dibungkus dengan sinematografi yang menawan dengan camera-work yang bergerak dinamis yang seakan memaksa penontonnya untuk terus melihat yang tidak ingin dilihat hahaha.


Sutradara dan penulis naskah di film panjang pertamanya, Babak Anvari, pintar sekali menaruh karakter Shehdi, Dorsa, dan Djinn di tengah-tengah setting perang Iran-Irak dan budaya Islam fundamentalis yang dianggap terlalu mengekang kaum wanita. Perang di mana misil Irak bisa setiap saat jatuh di atap rumah saja sudah cukup memberikan tekanan psikologis. Ditambah kultur Iran fundamental pada saat itu yang melarang video VCR atau hal berbau Barat, dan harus memakai kerudung di tempat umum. Yes, bayangkan Perpepolis (2007) dalam bentuk live action - tapi ditambah hantu dari mitos tradisional.


Dalam debut film panjang pertamanya ini, Babak Anvari berlagak seperti James Wan ala Iran yang berbahasa Persia. Jika anda sudah terbiasa menonton film-film Iran sebelumnya, Under the Shadow masih dengan tipikal yang sama seperti A Separation (2012) yang fokus pada drama keluarga biasa yang tertekan oleh keadaan sekitar. Fokus utamanya pada karakter tentang bagaimana mereka bereaksi dan beradaptasi pada situasi yang ada, secara khusus hubungan ibu dan anaknya yang dieksplorasi habis seperti The Babadook (2014).

Jadi bagi para penggemar horor, ini adalah kesempatan emas mengingat cukup jarang negara Iran memproduksi film horor - dan terbilang sangat baik dan memenuhi segala macam kriteria kengerian. Kita semua tahu bahwa budget produksi tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil akhir jika berbicara tentang film horor. Tetapi cerita dan eksekusi horor yang menjadi penting, dan Under the Shadow memenuhi itu semua. Sudut pandang yang cerdas dan menarik, ditambah kisah mitos tradisional yang tidak diketahui bagi mereka yang bukan orang Iran. Then, I'll wish you good luck to breathe in this claustrophobic and ambiguously spooky Iranian well-made horror.


Iran | 2016 | Horror | 84 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
9 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 23 November 2016 -
----------------------------------------------------------
Search  Keywords:

  • review film under the shadow
  • review under the shadow
  • under the shadow review
  • resensi film under the shadow
  • resensi under the shadow
  • ulasan under the shadow
  • ulasan film under the shadow
  • sinopsis film under the shadow
  • sinopsis under the shadow
  • cerita under the shadow
  • jalan cerita under the shadow

1 kritik:

  1. bagus reviewnya, film yang bikin pusing diakhir :"D plot cerita yang kompleks tapi sederhana.

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top