07 November 2016
0 kritik

Terpana

"Dengan dialog sebagai poros cerita, film dengan visual yang cantik ini jelas bukan untuk kebanyakan penonton"

Suatu saat, Rafian bertemu dengan Adaline, yang merupakan sebuah kebetulan atau peluang. Adaline seorang wanita karir yang rindu dengan kampung halamannya, bertemu dengan Rafian yang berhasil meluluhkan hatinya. Tidak percaya dengan kebetulan, Rafian pun mengusulkan bahwa mereka berdua berpisah di pertigaan jalan untuk melihat apakah mereka akan bertemu kembali.

Terpana memang membuat gue terpana selama 73 menit. Namun sayang, terpana hampa dan mengutuki apa yang terjadi di layar. Ini memang bukan film drama romantis biasa, dengan alur linear biasa yang mudah untuk ditebak. Jauh dari film-film kebanyakan, Terpana mengisi 73 menitnya dengan dialog-dialog yang filosofis sekaligus penuh dengan sains. Beruntung, kenikmatan audio visualnya masih terselamatkan dengan sinematografi yang indah dengan latar belakang kota Medan.


Produser, penulis naskah, dan sutradara Richard Oh kali ini bercerita dalam filmnya hanya menggunakan dialog saja. Tidak ada jalan cerita atau runut waktu yang jelas yang menjadi benang merah antar adegan, selain dialog yang diucapkan tanpa henti oleh Fachri Albar dan Raline Shah. Setiap adegan memang melompat ruang dan waktu, latar berganti mengikuti detil kostum yang juga menyesuaikan konteks. Tetapi semburan dialog tetap menjadi pengait utama dalam film ini.


Benar saja, keseluruhan dialognya benar-benar mengawang-awang dengan bahasa-bahasa ilmiah yang tidak 100% gue pahami. Well, untuk awal-awal karena ketertarikan memang gue ikuti dan selami secara perlahan. Namun ketika sadar bahwa Richard Oh tidak memberikan kesempatan kepada para penonton untuk bernafas, gue mulai pasrah dan mulai tidak peduli apa yang sedang mereka bahas. Sosok Rafian yang terus menerus membahas soal pertemuan pertama mereka yang penuh kebetulan, malah mengesankan bahwa lelaki ini susah move on dan tidak hidup untuk menikmati saat ini.

Ya memang bukan Richard Oh jika filmnya tidak berfilosofis ria. Gue menikmati Koper (2006) yang komikal, apalagi Melancholy Is a Movement (2015) yang kaya dengan bahasa gambar. Namun rasanya Terpana lebih cocok disampaikan dalam bentuk panggung teater - atau bahkan musikalisasi puisi - ketika kekuatan utama cerita ini adalah dialog. Memang visual dan latar belakang film ini cantik, yang bisa menjadi alasan mengapa film adalah medium yang cocok. Tetapi setidaknya dalam panggung teater, eksplorasi filosofis bisa jauh lebih bebas dan liat - apalagi jika diperankan oleh aktor-aktris yang memang terbiasa melantunkan dialog bergaya sajak dengan meyakinkan.



Indonesia | 2016 | Arthouse / Drama / Romance | 73 menit | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
6 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 7 November 2016 -

----------------------------------------------------------
Search  Keywords:

  • review film terpana richard oh
  • review terpana richard oh
  • terpana richard oh review
  • resensi film terpana richard oh
  • resensi terpana richard oh
  • ulasan terpana richard oh
  • ulasan film terpana richard oh
  • sinopsis film terpana richard oh
  • sinopsis terpana richard oh
  • cerita terpana richard oh
  • jalan cerita terpana richard oh

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top