20 April 2013
2 kritik

The Perks of Being a Wallflower

"Film drama romantis coming-of-age yang bercerita tentang bagaimana remaja pemalu dan introvert yang menjalani tahun pertamanya di sekolah ini heart-warming, natural, dan sangat manis untuk ditonton"

Charlie adalah seorang remaja 15 tahun yang baru memasuki SMA. Sifat dasarnya yang seorang introvert dan pemalu, ditambah lagi bahwa ia baru saja kehilangan sahabatnya yang tewas bunuh diri, membuat dia sulit untuk mendapatkan teman di sekolah barunya. Hobi membaca dan memiliki cita-cita untuk menjadi seorang penulis membuatnya berteman dengan guru Bahasa Inggris. Kemudian, pertemuannya dengan Patrick dan Sam sebagai seniornya, membuat Charlie merasa diterima oleh orang lain di sekolahnya. Satu tahun pertama Charlie pun menjadi tahun yang menarik, ketika ia jatuh cinta dengan Sam dan disaat yang sama harus menghadapi gangguan mental akibat trauma masa lalu.

Cukup jarang di dunia perfilman ada seorang novelis yang juga menulis adaptasi naskah film sekaligus menyutradarainya, seperti Stephen Chbosky dalam film ini. Kisah Charlie yang ditulis dalam novel terbitan tahun 1999 ini memiliki setting tahun 1990-an ini (sangat tergambar dari pilihan soundtrack dan lagu yang didengarkan oleh para karakter) adalah tulisan semi-biografi dari Chbosky. Istilah "wallflower" sendiri mengacu pada individu yang pemalu dan tidak populer, yang cenderung tidak bersosialiasi dengan orang lain, atau tidak berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Individu ini mungkin memiliki bakat tapi cenderung enggan untuk menunjukkannya di depan orang lain. Istilah ini muncul dari kecenderungan seseorang mengisolasikan dirinya sendiri di sebuah aktivitas sosial, misalnya pada acara dansa dan orang-orang yang tidak ingin ikut berdansa atau tidak memiliki pasangan, cenderung merapat dan bersender ke tembok (wall).

Gambar diambil dari RottenTomatoes
Sekilas, film coming-of-age yang diadaptasi dari novel berjudul sama ini bercerita seperti kebanyakan kisah soal remaja Amerika dalam menjalani kehidupan sekolah yang penuh dengan senioritas, bullying, jatuh cinta, dan seks. Bukan sesuatu yang baru pula untuk menceritakan seorang remaja tergolong nerd dan tidak termasuk kasta "siswa/i populer" yang bahkan kehadirannya tidak disadari oleh orang lain. Dari sekian banyak film bertema mirip yang pernah gue tonton, entah mengapa film ini begitu signifikan dan gue begitu mendapatkan keterhubungan terhadap setiap alur cerita. Seperti halnya gue turut berada dalam setiap adegan, atau malah gue dapat melihat cerminan diri gue sendiri pada karakter-karater tertentu.

Memang film bisa menjadi sedemikan kuatnya jika ditonton oleh orang yang memiliki keterkaitan tertentu, atau biasanya berupa memiliki pengalaman yang sama seperti yang dialami oleh karakter yang ada di film. Gue yakin pasti ada remaja-remaja seperti Charlie yang cenderung berpikir no one noticed his/her presence dalam dunia sekolah, atau bahkan kuliah. Damn Charlie! I have been there, thus I really understand your feeling. Merasa kecil, merasa tidak terlihat oleh siapa pun, memilih untuk duduk sendiri ketika istirahat makan siang, dan memilih untuk menghindari percakapan sosial. Ditambah dengan kekakuan ketika mendekati wanita yang disukai karena sama sekali belum pernah pacaran. Bagi gue, menonton film ini seakan menonton kisah hidup gue sewaktu gue masih duduk di bangku SMA, dan bahkan sedikit di masa kuliah. Menonton film ini, gue menemukan diri gue tersenyum ketika Charlie dapat membuka percakapan dan akhirnya berteman dengan Patrick dan Sam, atau ketika Charlie memberanikan diri ikut berdansa bersama Patrick dan Sam di tengah lantai dansa. Menonton film ini, gue merasa turut senang ketika melihat Charlie yang dapat mencium Sam yang memang ia sukai sejak awal. Menonton film ini, gue merasa turut bahagia ketika Charlie dapat mengatasi trauma masa lalunya, dan kemudian memiliki harapan yang cerah terhadap kewajibannya untuk menyelesaikan sekolahnya.

Gambar diambil dari RottenTomatoes
Selain dari keterkaitan cerita dan pengalaman yang ada antara gue dengan film ini, gue harus memuji habis-habisan terhadap perkembangan karakter yang ada dalam film ini. Entah ini hal yang subjektif atau bukan, Stephen Chbosky tampak sangat serius untuk tetap fokus pada perkembangan karakter Charlie, dan tetap konsisten pada batasan pengembangan karakter Patrick dan Sam sehingga tidak sekalipun kehilangan fokus. Acungan jempol juga untuk akting dari Logan Lerman dan Ezra Miller, yang tampak sangat natural dalam penampilannya. Dan Emma Watson, oh Emma! Ini adalah film pertamanya dengan peran major pasca-Harry Potter, dan di menit pertama kemunculannya, bayangan Hermione Granger yang ada selama satu dekade itu pun sirna sesirna-sirnanya. Aksen British-nya yang seksi pun luntur dengan aksen Amerikanya. Hanya bersisa kecantikannya yang membuat Charlie (dan gue!) jatuh cinta.

Gue pernah menulis bahwa betapa sedihnya ketika sebuah film yang sangat bagus kemudian harus berakhir dan ditutup oleh barisan nama dan posisi dari pemain dan kru film. Gue pun merasakan kesedihan yang sama ketika film ini berakhir. Namun kesedihan itu memiliki makna yang lain. Kesedihan dimana selesai sudah kisah karakter Charlie-Patrick-Sam, dan mereka kembali ke dunia nyata sebagai Logan Lerman, Ezra Miller, dan Emma Watson. Kesedihan dimana selama 102 menit tadi gue merasa bahwa gue tidak sendirian mengalami masa-masa "wallflower" di era remaja gue, dan ketika film berakhir, teman-teman "misfit toys" gue tadi pun pergi. Namun film ini jelas menyampaikan pesannya dengan baik. However nerd and freak you are, as long you have friends who cares about you, and someone who loves you, then you are infinite.

Gambar diambil dari RottenTomatoes
Dengan perkembangan karakter yang sangat kuat, penampilan akting yang natural dari para pemainnya, dan jalan cerita yang membumi, membuat film ini dapat dengan mudah membuat keterhubungan yang signifikan dengan para penontonnya. Dan mungkin saja keterhubungan ini tidak hanya pada kelas sosial "wallflower", tetapi juga pada kelas sosial yang lain. Jelas sudah, film ini layak untuk ditonton berkali-kali, hanya untuk mengingatkan gue bahwa gue bukan satu-satunya orang yang mengalami masa-masa coming-of-age yang berada di pinggir lampu sorot. Dan jelas sudah, review dan rating yang gue berikan terhadap film ini akan sangat subjektif. But i don't give a f*ck, this is my own blog.



USA | 20122 | Drama / Romance | 102 min | Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
9 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 20 April 2013 -

2 kritik:

  1. Hai sobekan tiket bioskop.

    Boleh tukeran link gak? Saya juga suka mereview film-film. Link kamu udah terpasang cakep di blog saya. :D

    http://hawinwidyo.blogspot.com/

    ReplyDelete
  2. damn,lagi lagi ,,,
    gg di cerita gg di film nya,,,
    buat saya sedih,
    ini cerminan hidup saya waktu SMA . . .

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top