26 April 2013
0 kritik

Iron Man 3

"Kisah Tony Stark dalam menemukan jati dirinya ini mengembalikan karakter serial Iron Man ke sisi humanis, sekaligus menjadi sebuah anti-klimaks yang berkelas"

Setelah kejadian di New York dalam film The Avengers (2012) dimana Iron Man selamat dari lubang hitam, kini Tony Stark harus menghadapi musuh baru yang menghancurkan kehidupan pribadinya. Ketika Mandarin dan pasukannya menghancurkan rumah dan laboratoriumnya, Tony harus melakukan perjalanan mencari jati dirinya. Hanya bertahan hidup dari sisa-sisa alat serta kecerdasannya, Tony harus melawan balik dan menjawab pertanyaan; siapakah yang selama ini menjadi pahlawan sebenarnya, baju baja tempur Iron Man atau individu Tony Stark?

Sepertinya kisah Tony Stark yang membuat armor tempur baja telah kembali ke jalur yang tepat. Pada sekuel pertamanya penonton dihadapkan dengan bagaimana seorang Tony Stark bertahan hidup dengan membuat arc reactor dan armor baja untuk melindungi dirinya dan melawan penjahat. Di sekuel keduanya, bisa dibilang sebagai yang terburuk dari franchise Iron Man, penonton diberikan kisah bagaimana kelanjutan Tony Stark dalam menghadapi arc reactor yang semakin "memakan" tubuhnya sendiri. Nah di sekuel ketiga ini, sutradara / penulis naskah Shane Black yang mewarisi posisi Jon Favreau, membuat cerita "anti-klimaks" dari perjalanan Tony Stark dengan baju Mark 1 hingga Mark 42-nya. Jika memang benar rumor yang mengatakan bahwa sekuel ketiga ini adalah penutup dari franchise Iron Man (dimana gue sangat berharap rumor itu benar), maka sekuel ini menjadi penutup yang megah, sekaligus meaningful dengan bagaimana perjalanan akhir dari Tony Stark dalam mencari jati dirinya sendiri.

Gambar dari RottenTomatoes
Musuh utama dalam film ini memang Mandarin dan pasukan Extremis-nya. Rumah dan laboratorium Tony Stark memang dihancurkan hingga rata dengan tanah. Pepper Potts pun terancam keselamatannya. Tapi semua itu tampak hanya sebagai side story belaka. Pusat gravitasi film ini justru kembali pada karakter Tony Stark. Banyak menggunakan referensi dari alur cerita The Avengers (2012) demi menjaga kontinuitas Marvel Universe, dalam sekuel ketiga ini dikisahkan bagaimana seorang Tony Stark yang semakin bergantung pada baju-baju armor bajanya, apalagi setelah Iron Man membantu melawan para pasukan alien dan akhirnya mencegah nuklir yang mengarah pada kota New York. Tony sadar bahwa seorang manusia Tony Stark saja tak mampu menghadapi para penjahat hingga serbuan alien semacam itu tanpa baju armornya. Maka serangkaian panic-attack hingga paranoid pun menyerang kondisi psikologis jagoan utama kita.

Untuk para penggemar komik Iron Man mungkin akan memekik bahagia, sekaligus bersyukur bahwa karakter Tony Start mengalami masa paranoid setelah peristiwa New York. Pasalnya, dikisahkan Tony Stark menghilang dari peredaran selama berbulan-bulan karena membuat belasan jenis baju Iron Man. Tidak hanya itu, Tony pun meng-upgrade teknologi dalam pemasangan baju Iron Man, yang membuat teknis pemakaian baju di sekuel ke-1 dan ke-2 terlihat kuno. Hasilnya? Penonton akan disuguhkan sebuah final battle yang penuh kejutan dan megah, semegah refrain dari lagu klasik Symphony no. 5 dari Beethoven.


Gue bukanlah tipikal penonton film yang gemar mengikuti sekuel film terus-menerus, apalagi hingga seri ke-5 atau bahkan ke-9. Jika ada sekuel-sekuel film yang benar-benar bagus, alangkah baiknya bagi pembuat film untuk merencakan sebuah exit strategy yang classy dalam menutup franchise filmnya. Yes, I'm talking about The Dark Knight Rises. Begitu pula dengan kisah apakah Tony Stark mampu bertahan hidup tanpa baju baja tempurnya, maka Iron Man 3 arahan Shane Black adalah sebuah exit story yang cukup berkelas dari kisah Iron Man. Drama yang cukup panjang di setengah awal film, yang berkutat dengan keadaan psikologis Tony Stark dan bagaimana dia mengembangkan teknologi baru pemakaian baju tempurnya, menjadi titik utama kisah penutup Iron Man ini. Plot cerita ini akan menjadi titik signifikan dalam 15 menit terakhir film ini, termasuk dalam final battle-nya.

Selain Bruce Wayne / Batman dalam trilogi The Dark Knight, Tony Stark / Ironman juga memberikan kisah bahwa seorang pahlawan super pun adalah seorang manusia yang lemah. Hal tersebut tampak secara signifikan dalam sekuel pertamanya, namun diselewengkan sedemikian rupa oleh Jon Favreau yang tampak silau dengan kesuksesannya dalam sekuel kedua, kemudian dikembalikan ke jalur yang benar oleh Shane Black (thanks to Jon Favreau who turned down the offer to direct this third sequel, prevented to mislead the film again). Sisi humanis dari seorang pahlawan super Tony Stark dalam sekuel ketiga ini, terlihat pararel dengan sekuel pertamanya dimana ia sedang membangun sebuah arc reactor dan baju baja tempur untuk melindungi dirinya sendiri. Namun sayang, Shane Black yang baru menyutradarai dua film panjang, tampaknya harus belajar dari Matthew Vaughn atau bahkan Christopher Nolan untuk bagaimana menampilkan sisi psikologis dan manusiawi dari seorang pahlawan super. Meskipun menjadi dorongan utama dalam film ini, sisi manusiawi dan psikologis dari Tony Stark terasa sangat kurang dieksplorasi lebih jauh. Sisi manusiawi itu pun tampak hanya sebagai tempelan belaka, lewat dialog-dialog Tony dan kondisi gangguan mentalnya, tanpa menghubungkannya secara signifikan ke plot manapun. Sehingga plot ini yang seharusnya menjadi titik gravitasi utama pun seakan tenggelam oleh plot jahat Mandarin dan pasukan Extremis-nya.


Beruntung Robert Downey, Jr. adalah aktor yang sangat tepat untuk memerankan playboy kaya namun sombong dan arogan, sehingga dapat sedikit mengangkat kondisi psikologis dari karakter Tony Stark. RDJ yang memang hanya dikontrak untuk tiga instalasi film Iron Man, serta dua instalasi The Avengers, maka tidak terbayangkan siapa lagi yang mampu menggantikan perannya jika pihak studio memaksa untuk melanjutkan franchise ini. Namun, dengan exit yang classy dalam Iron Man 3, maka para penonton akan semakin penasaran dengan evolusi macam apa lagi yang akan ditunjukkan oleh Tony Stark dalam The Avengers 2.

3D / IMAX Notes
Iron Man 3 tidak di-shoot dengan kamera 3D maupun kamera IMAX. Film ini pun tidak dibuat dengan konsep tiga dimensi, dimana akan dipersiapkan efek pop-out atau depth. Maka efek tiga dimensi yang ada hanyalah hasil konversi, dan jelas tidak akan ada pengalaman pop-out scenes (tidak seperti Hugo atau Life of Pi). Versi IMAX pun hanyalah "blow-up" atau rasio yang diperlebar, dengan kualitas resolusi yang sama dengan versi reguler (tidak seperti Tron: Legacy atau  The Dark Knight Rises). Gue menonton versi reguler dengan dua dimensi, dan cukup puas.




USA | 2013 | Action / Sci-Fi | 130 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 26 April 2013 -

Nominated for Best Visual Effects, Academy Awards, 2014

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top