29 April 2013
One kritik

Java Heat

"Film aksi Hollywood dengan setting 100% di Indonesia ini memang lemah di eksekusi, namun niat Conor dan Rob Allyn untuk mengangkat ciri khas budaya Indonesia hingga ke detil-detilnya perlu diapresiasi"

Sebuah peristiwa bom bunuh diri terjadi di kota Yogyakarta. Seorang warga Amerika yang sedang belajar di Indonesia selamat dari pemboman tersebut pun menjadi saksi kunci yang mencurigakan. Jake Travers pun diinterograsi secara intensif oleh Letnan Hashim, anggota dari Densus 88. Ketika Hashim dan Jake ditembaki oleh kawanan bersenjata, mereka berdua pun harus bekerja sama dan membangun rasa percaya, untuk menemukan dalang dibalik rentetan peristiwa teror ini. Sementara seorang penjahat internasional yang sedang menjalankan misinya di Yogyakarta, Malik, sedang menyusun rencana besarnya yang berkaitan dengan keluarga Keraton. Hashim dan Jake pun harus berpacu dengan waktu demi keberlanjutan Keraton.

Yang pertama harus diketahui adalah, ini adalah film Hollywood 100% yang memang bersetting 100% di Indonesia. Film ini merupakan proyek bapak-anak Rob dan Conor Allyn yang memang sebegitu jatuh cintanya dengan Indonesia. Trilogi Merah Putih (Merah Putih, Darah Garuda, dan Hati Merdeka) menjadi proyek pertama mereka mengangkat nama Indonesia di dunia perfilman internasional, dimana naskahnya digarap oleh mereka berdua dengan Conor yang juga duduk di kursi sutradara bersama Yadi Sugandi di sekuel kedua dan ketiganya. Selepas film tentang perang kemerdekaan Indonesia yang memang 100% produksi Indonesia, kini Rob dan Conor Allyn memboyong cast & crew dari Hollywood untuk membuat film action dengan latar kota Yogyakarta dan kota Magelang.


Jika mengulas film ini dengan standar Hollywood (mengingat film ini memang diproduksi oleh sineas berkebangsaan negeri Paman Sam), maka sayang sekali gue harus menulis banyak hal yang harus ditingkatkan dari film ini. Kepiawaian Rob dan Conor Allyn dalam menulis sebuah naskah film memang tidak perlu diragukan. Trilogi Merah Putih telah membuktikan bahwa duet bapak-anak ini berbakat dalam menulis naskah sebuah film aksi yang penuh dengan lika-liku. Trilogi Merah Putih, ditambah Java Heat, adalah bukti bahwa betapa Rob dan Conor telah melakukan riset yang mendalam mengenai kebudayaan Indonesia; mulai dari latar belakang budaya hingga aspek perilaku budaya dan agama yang ada di Indonesia. Namun sayang, eksekusi dari potensi naskah dalam Java Heat sangat lemah. Karakterisasi yang ada kurang terlihat enak untuk ditonton. Jalan cerita yang ada pun sulit untuk dikejar oleh logika; aksi-reaksi para karakter dan pergerakan sebab-akibat alur cerita yang kurang realistis.

Jalan cerita dan aksi dalam Java Heat memang berangkat dari plot buddy-cop antara Jake dengan Hashim. Namun bagaimana untuk mensejajarkan dua karakter ini yang masing-masing diperankan oleh Kellan Lutz dan Ario Bayu, dimana secara fisik saja sudah cukup berbeda jauh. "Oh, let's make Jake's character look clumsy and very rely on his muscle than his brain". "Wait, let's make Hashim's character to look more wise as well". Trik ini memang cukup berhasil. Otot dan badan besar Kellan Lutz dapat diredam oleh kecerobohannya, dengan begitu Ario Bayu dapat meningkatkan kekuatan karakternya lewat dialog-dialog bijaknya. Namun hasilnya, chemistry yang sudah menjadi syarat mutlak bagi plot buddy-cop kurang terasa dalam film ini. Memang banyak adegan dimana mereka berdua dipasangkan bersama, dan saling beraksi. Namun semua itu terasa terlalu dipaksakan, apalagi dengan dialog bahasa Inggris dari Ario Bayu yang terasa kurang natural. Rasanya, penampilan dan dialog-dialognya dalam Dead Mine (2012) masih lebih baik.


Gue cukup memuji upaya Rob dan Conor Allyn untuk benar-benar mengangkat secara detil ciri khas budaya Indonesia ke ranah internasional. Meski istilah "bule" sebagai "stupid white people" sudah tidak relevan lagi, di lain sisi, detil nasi goreng sebagai ciri khas kuliner pun diangkat dengan baik. Adegan kejar-kejaran di gang-gang sempit di tengah perumahan padat penduduk memang keren dan "sangat Indonesia"; mulai dari detil aktivitas warga lokal hingga kehadiran pedagang kaki lima. Pokoknya dengan semua setting Indonesia dan departemen artistik yang melakukan tugasnya dengan baik, menonton film ini gue benar-benar merasa di "rumah". Perasaan Waisak atau Vesak Day beserta Candi Borobudur-nya pun terangkat dengan baik. Namun sayang, kemunculan salah satu candi Buddha terbesar di dunia tersebut tampak terlalu dipaksakan dengan jalan ceritanya. Masa iya ada seorang penjahat internasional yang melakukan transaksi berharga di tengah-tengah kerumunan orang, kemudian dikejar dan lari ke puncak candi, bak King Kong yang terpojok di puncak gedung Empire State. Selain itu, setahu gue Candi Borobudur itu adalah situs budaya yang sangat berharga yang bahkan harusnya ditutup oleh kubah raksasa, tapi ini malah dijadikan ajang adu tembak bersimbah darah. Aduh. *tepok jidat* Tapi ya sekali lagi, dua jempol plus angkat topi untuk niat baik dan usaha Rob dan Conor Allyn dalam mengangkat detil-detil ciri khas budaya Indonesia, khususnya budaya Jawa.

Salah satu alasan utama gue untuk menonton film ini di bioskop adalah demi memberikan apresiasi terhadap para pemeran yang terlibat di dalamnya. Gue cukup terhibur dengan penampilan beberapa aktor lokal dalam film ini, mulai dari Rio Dewanto, Mike Muliadro, Verdi Solaiman, Tio Pakusodewo, Atiqah Hasiholan, hingga Rudi Wowor! Walaupun porsi mereka lebih kecil ketimbang Ario Bayu, Kellan Lutz, dan Mickey Rourke, namun setiap penampilan para aktor/aktris lokal ini cukup menggigit dan memberikan kesan yang berarti. Siapa yang sangka kemunculan Verdi akan membuat dia tembak-menembak sambil teriak-teriak dalam bahasa Mandarin? Atau Mike yang menjadi seorang jihad yang sedang mencari identitas agamanya. Karakter Mike sebagai Achmed seakan menjadi pesan kepada dunia internasional bahwa Islam tidak melulu berada di balik peristiwa teror.


Pada akhirnya, mari kita mengapresiasi niat baik Rob dan Conor Allyn untuk mengangkat potensi Indonesia dalam dunia perfilman, lengkap dengan unsur budayanya ke panggung internasional. Film Java Heat memang adalah sebuah film aksi yang masih perlu banyak peningkatan dan pembelajaran. Mungkin lebih bijak untuk menikmati film ini dengan meninggalkan otak kita di pintu studio. Dengan begitu, mungkin penonton akan lebih menikmati universe Yogyakarta yang diciptakan oleh Rob dan Conor dalam filmnya. Universe dimana ada orang-orang berpakaian sorjan lengkap dengan blangkon yang menenteng senjata api serta bazooka. Hell, I love that scene!




USA | 2013 | Action / Crime | 100 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
6 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 29 April 2013 -

1 kritik:

  1. aku kebagian tiket ntn gratis dan yah, rada2 gimana gitu buat mengulas soalnya ada bbrp hal kecil yg mengganggu. Pertama, ada bajaj toh di Jogja atau shooting-nya sempet ke Jkt? Jadi bingung nih. Kedua, apa boleh ya sementara luka di jahit si pasien merokok?

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top