01 April 2013
4 kritik

Argo

"Berdasarkan kisah nyata, kisah heroik penyanderaan staf kedubes AS di Iran ini diceritakan dengan ketegangan yang terus memuncak walau tanpa desingan peluru dan ledakan gedung"

Jika ditanya apa ciri khas dari AS yang menjadi konsumsi publik dunia, mungkin jawaban banyak orang bukanlah: minyak, kopi, batu bara, gas alam, dan lain-lain. Bukan itu semua, melainkan film. Cerita imajinatif, karakter unik, efek make-up dan visual yang luar biasa. Namun sebenarnya ada lagi yang menjadi ciri khas dari AS; spionase. Yang mungkin ide dasar dari spionase dan film cukup pararel satu dengan yang lain; membuat sekelompok orang percaya dengan "skenario" yang mereka buat. Film tentang spionase mungkin jumlahnya sudah ratusan. Film tentang membuat film juga sudah semakin sulit dihitung dengan jari tangan dan kaki. Namun film tentang spionase yang menyamar sebagai pembuat film, apalagi berdasarkan pada dramatisasi kisah nyata (dan memenangkan penghargaan tertinggi; Best Motion Picture di Academy Awards 2013), rasanya baru Argo.

Revolusi Iran meletus di tahun 1979, Kedubes AS di Teheran diserbu, semua staf Kedubes pun disandera. Namun, enam orang berhasil lolos dan bersembunyi di Kedubes Kanada. Dikejar waktu bahwa identitas keenam orang itu akan terungkap oleh otoritas Iran, Pemerintah AS lewat CIA menyusun rencana untuk mengeluarkan keenam orang itu dari Iran. Ahli ekstraktor, Tony Mendez, pun dipanggil untuk menyusun skenario penyelamatan tersebut; membuat proyek film palsu asal Kanada yang sedang mencari lokasi syuting di Teheran dan mengeluarkan keenam "kru produksi asal Kanada" tersebut. Namun operasi penyelamatan tersebut semakin dikejar waktu, baik oleh semakin dekatnya otoritas Iran dalam mengungkap identitas keenam orang tersebut dan Gedung Putih yang mulai meragukan rencana tersebut.

18 tahun sejak peristiwa penyanderaan tersebut, pemerintah AS memutuskan untuk membuka misi yang tadinya rahasia tersebut, dan tetap memberikan kredit besar bagi pemerintahan Kanada. Ben Affleck pun tertarik untuk mengadaptasi kisah heroik tersebut dalam media film. Hasilnya, Argo adalah salah satu film terbaik dalam mengeksekusi drama sekaligus thriller dalam ceritanya. Sangat mudah sekali untuk membangun ketegangan dengan tembakan peluru atau ledakan gedung-gedung. Namun sulit untuk membuat penonton sebegitu tegangnya hingga kedua tangannya memeras sandaran kursi bioskop hanya lewat perkembangan cerita dan akting dari para karakternya yang ada di layar. Ben Affleck, sebagai pemeran utama sekaligus sutradara, sangat berhasil membangun momen klimaks yang menegangkan lewat perkembangan ceritanya yang halus dan tertata rapi.


Gambar diambil dari RottenTomatoes
Kengerian sebuah revolusi yang meletus di sebuah negara yang sangat membenci AS tidak dibangun dengan desingan peluru dan tembakan tank, tapi dengan kolase bahasa gambar berupa demonstrasi, konferensi pers, pembakaran bendera AS, serta otoritas Iran yang menggunakan anak-anak untuk menyatukan potongan-potongan kertas hasil dari mesin penghancur kertas. Semua kegiatan-kegiatan itu, dan benar-benar historically accurate, secara reaksi berantai akan membuat siapapun yang mengetahui rangkaian kisah penyanderaan tersebut tidak dapat membayangkan hal mengerikan apa yang akan terjadi jika keenam orang tersebut akhirnya tertangkap oleh otoritas Iran. Mungkin hal ini yang cukup signifikan untuk membangun adegan klimaks menjadi sebegitu menegangkannya, dengan menyuntikkan pemikiran tersebut ke balik benak penonton ketika menonton bagaimana pihak otoritas Iran dalam memandang segala hal yang berhubungan dengan AS - dan orang-orang kulit putih.

Gue tidak ingin mengkomentari bagaimana Ben Affleck yang memang tampaknya lebih berbakat di balik kamera ketimbang di depan kamera. Mr. Affleck memang menjadi konduktor yang baik dalam meramu setiap aspek dalam filmnya; make-up, kostum, dan musik yang cocok di tahun 1970-an, screenplay yang nyaris sempurna, dan storytelling yang sangat baik untuk membangun ketegangan tanpa adegan aksi. Namun rasanya terlalu berlebihan untuk memberi hadiah Best Motion Picture untuk film ini, apalagi bagi penghargaan film sekelas Oscar. Yang biasanya, menurut hemat gue, penghargaan Best Motion Picture diberikan untuk film-film yang memberikan suatu hal positif kepada para penontonnya untuk kemudian dibawa dalam kehidupan nyata mereka. Entah hal positif tersebut berupa kisah unik seorang Jerman yang menyelamatkan ratusan warga Yahudi dalam Schindler's List (1993), atau berupa makna kehidupan tentang konsekuensi rasisme dalam Crash (2005), atau sebagai contoh dan penyemangat bagi ribuan orang gagap yang berjuang melancarkan bicaranya lewat film The King's Speech (2010). Hingga detik ini, gue masih mencari apa yang bisa dibawa pulang oleh penonton dengan menonton film pemenang Best Motion Picture tahun 2013 ini. Kedigdayaan AS lewat agensi terbaik mereka, CIA? Industri film Hollywood yang masih laku dikonsumsi di berbagai belahan dunia? Tindakan heroik Tony Mendez untuk pantang menyerah ketika atasan telah memutuskan untuk membatalkan rencana?
Gambar diambil dari RottenTomatoes
Argo adalah sebuah film drama/thriller yang dieksekusi dengan nyaris sempurna lewat segala elemen teknis hingga gaya bercerita yang menggigit, sembari diselingi oleh dark humor dan lelucon cerdas. Tapi jus atau sari dari film ini yang rasanya kurang layak untuk menyandang gelar Best Motion Picture yang biasanya diisi oleh film-film yang inspiratif.



Won for Best Motion Picture, Best Adapted Screenplay, Best Editing, Nominated for Best Supporting Actor, Best Original Score, Best Sound Editing, Best Sound Mixing, Academy Awards, 2013.
Won for Best Film, Best Director, Best Editing, Nominated for Best Adapted Screenplay, Best Leading Actor, Best Supporting Actor, Best Original Music, BAFTA, 2013.
Won for Best Motion Picture - Drama, Best Director, Nominated for Best Screenplay, Best Supporting Actor, Best Original Score, Golden Globes, 2013.

USA | 2012 | Drama / History / Thriller | 120 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 1 April 2013 -

4 kritik:

  1. setuju ttg film ini kurang cocok jadi Best Motion Picture. Lagipula ceritanya terlalu di dramatisir dan tidak sesuai dengan kejadian yg sebetulnya terjadi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau "based on a true story" di dramatisir sih wajar di film2 Hollywood, otherwise akan jadi boring sekali. Tapi ya masih ada film lain yang lebih layak menang Best Motion Picture. Such as Life of Pi ;p

      Delete
    2. hmmmm... kalo Les Miserables, fokusnya banyak sih dan kelemahannya ada di alur plot yang agak maksa. kalo aku sih lebih pilih film yang inspiring dan multi-interpretation. hihi.

      Delete

 
Toggle Footer
Top