21 May 2011
0 kritik

The Way

8:14 PM
Sobekan tiket bioskop tertanggal 19 Mei 2011 adalah The Way. Tidak ada alasan khusus untuk menonton film ini selain karena ketertarikan gue akan El Camino de Santiago de Compostela, atau jalan perziarahan yang pernah dilalui oleh Santo Yakobus yang merupakan salah satu murid dari Yesus Kristus (baca artikel wikipedia disini). Jalan ini terbentang sepanjang kurang lebih 800 kilometer dari utara sampai barat daya Spanyol dan berakhir di Katedral Santiago de Compostela. Jalan ini telah menjadi rute perziarahan selama berabad-abad dan bahkan sampai detik ini, jalan ini menjadi perziarahan modern bagi orang-orang yang datang dari seluruh dunia dan dari beragam latar belakang. Alasan mereka dibalik melakukan perziarahan panjang dengan berjalan kaki tersebut pun tidak hanya berdasar pada alasan religius semata, tapi juga karena alasan sejarah, budaya, atau malah karena alasan kesehatan.

Cerita pada film ini dibuka dengan bagaimana seorang dokter mata yang telah settled, menerima kabar bahwa anaknya meninggal dalam kecelakaan saat menempuh rute Santiago de Compostela. Hubungan yang kurang dekat antara keduanya pun membuat sang ayah, Tom (Martin Sheen), diliputi perasaan bersalah. Setelah mengkremasikan tubuh Daniel (Emilio Estevez), Tom  membawa abu Daniel dan berniat menyelesaikan perziarahan anaknya yang belum tuntas; berjalan kaki sejauh 800 kilometer sampai Katedral Compostella di kota Santiago.

Menonton film yang berdurasi 120 menit ini benar-benar membawa penonton seakan-akan menempuh perziarahan Santiago de Compostela. Melewati berbagai tanda penunjuk jalan, spot-spot tipikal perziarahan (ibu-ibu di sebelah gue yang tampaknya telah melakukan El Camino selalu berkomentar "ah, jembatan itu" "ah, desa itu" ketika menjumpai adegan dengan setting tempat yang ia kenal), sampai pertemuan Tom dengan berbagai orang dengan beragam latar belakang. Meskipun pertengahan film sempat terasa melelahkan karena terasa perjalanan yang seakan tiada habisnya, tapi mungkin itu yang Tom dan peziarah lain benar-benar rasakan di tengah perjalanan. Namun entah karena terbius oleh rasa penasaran akan apa yang menunggu mereka di kota Santiago sebagai tujuan akhir mereka, penonton pun mau tidak mau harus betah dan memaksakan diri untuk menyelesaikan perjalanan bersama Tom.

Seperti halnya film-film roadtrip lainnya, pertemuan Tom  dengan peziarah-peziarah lainnya yang memiliki tujuan sama walaupun dengan motivasi berbeda membuat film ini semakin berwarna. Akhirnya Tom pun mendapatkan beberapa teman perjalanan; seorang pria bertubuh besar yang tidak pernah berhenti berbicara asal Belanda, seorang wanita ketus dan sinis asal Kanada, dan seorang penulis yang sedang mengalami writer's block asal Irlandia. Pertemanan mereka tidak serta merta diawali dengan mudah, malah sepanjang perjalanan pun banyak konflik yang menyertai perjalanan mereka. Satu persatu cerita masa lalu kelam yang dipendam oleh masing-masing karakter perlahan-lahan terbuka tirainya. Sekilas tampak bahwa motivasi mereka melakukan El Camino adalah sebagai pelarian dari permasalahan yang sedang mereka hadapi. Namun setelah melewati rute panjang dan berbatu, Katedral Santiago de Compostela yang menjadi tujuan akhir perziarahan membawa mereka pada pemahaman baru pada hidup masing-masing karakter, termasuk proses berduka yang dialami oleh Tom.

Salah satu hal menarik dan menjadi kekuatan utama dalam film ini adalah, Martin Sheen yang berperan sebagai ayah dari karakter Emilio Estevez adalah ayah aslinya di kehidupan nyata. Kemiripan wajahnya yang tidak dapat disangkal lagi, membuat adegan dimana mereka berdua hadir dalam satu layar membawa kekuatan tersendiri antara hubungan ayah dengan anak. Seakan-akan mereka tidak perlu berakting, chemistry hubungan ayah dengan anak itu begitu kuat dan secara otomatis menghanyutkan penonton pada hubungan mereka dengan ayah atau anak masing-masing. Mereka berdua memang telah menempuh El Camino sebelum melakukan syuting untuk film ini, sebuah hal yang menjadi inspirasi Emilio Estevez yang menjadi penulis sekaligus sutradara untuk membuat film tentang rute perziarahan modern ini. Kesan pesan Emilio Estevez akan pengalamannya menempuh rute tersebut tampak kuat dan terasa sepanjang film. Seakan-akan kisah berduka dari Tom hanyalah latar belakang dari cerita keseluruhan, rute perziarahan modern ini berbicara lebih dalam dari sekedar menjawab motivasi dan ekspektasi awal dari para peziarah, baik mereka yang beragama maupun yang tidak. Pernyataan seorang gipsi Spanyol pun rasanya cukup mengena, "It has nothing to do with religion, my friend. Nothing at all."

Mungkin banyak penonton menjadi ingin melakukan El Camino seusai menonton film ini. Apalagi melihat berbagai simbol yang digunakan selama perziarahan, mulai dari pilgrim's passport yang mendapat cap setiap sampai pada satu lokasi, batu doa, sampai pada kerang yang menjadi simbol khusus El Camino. Tapi rasanya mempromosikan rute perziarahan dari agama tertentu bukanlah niat awal dari seorang Emilio Estevez yang sukses menelurkan Bobby (2006). Sepertinya Estevez ingin menyampaikan dan membagikan beberapa kunci utama dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan; terbuka terhadap orang lain dan waktu untuk merenung di alam terbuka. Bahwasanya menempuh rute Santiago de Compostela bukanlah sebagai satu-satunya alat untuk menyelesaikan permasalahan dalam hidup. Adalah percuma jika menempuh rute tersebut namun tidak melebur ke dalam situasi dan kondisi, budaya lokal setempat, serta pertemanan dengan sesama peziarah. Mungkin pula para peziarah hidup yang ingin merenung tentang sesuatu bisa menempuh sebuah "rute" selain Santiago de Compostela asalkan membawa nilai-nilai yang ingin disampaikan dalam film ini.
gambar diambil dari sini
Film ini tidak hanya memberikan keindahan yang berarti lewat makna dan pesan yang dikandungnya, tetapi juga indah secara visual dan audio. Emilio Esteves secara brilian dapat menangkap keindahan setiap lokasi yang menjadi rute El Camino. Shot-shot jauh dan lebar serta sinematografi yang indah jelas merupakan hasil dari eksplorasi tanpa henti untuk dapat menggambarkan paradoksal keadaan perziarahan yang sulit dan berbatu sekaligus indah dan bermakna. Selain itu, pilihan soundtrack yang disajikan pun terbilang tepat dan cukup menggambarkan emosi adegan yang sedang terjadi dilayar.

Film ini jelas bukan merupakan sebuah film yang menghibur untuk menghabiskan waktu senggang. Malah sebaliknya, film ini adalah film yang dapat mencerahkan sudut-sudut gelap kehidupan dan memberikan pemahaman serta sudut pandang baru tentang kehidupan dan perziarahan manusia yang tidak berawal dan berakhir.

Buen Camino!



Rating?
8 dari 10

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top