Hanna (Ronan) adalah remaja berusia 16 tahun yang dibesarkan di kerasnya hutan Finlandia oleh ayahnya yang seorang mantan agen CIA, Erik (Bana). Secara khusus, Erik membesarkan dan melatih Hanna menjadi seorang "prajurit" untuk menjalankan satu misi; membunuh mereka yang mengancam keselamatan mereka berdua. Ketika Hanna siap, tiba saatnya bagi Hanna untuk membuktikan apa yang sudah ia persiapkan sejak kecil, dengan menjelajahi benua Eropa untuk menjalankan misi tersebut.
Wow, wow, dan wow. Film ini telah membuat gue kagum bahkan dari menit-menit pertamanya. Dari premis cerita yang menarik, sinematografi yang indah dan artistik, score elektronik yang menghentak dan meningkatkan ketegangan, tapi diatas itu semua adalah penampilan brilian dari Saoirse (diucapkan "seer-sah") Ronan.
Hanna adalah Saoirse Ronan dan Saoirse Ronan adalah Hanna. Gue tidak yakin jika karakter Hanna dapat dimainkan oleh aktris remaja lain selain Ronan. Tidak hanya gerakan tubuh dan ekspresi, mata biru dari Ronan benar-benar membuat gue yakin dan percaya bahwa ia adalah seorang anak remaja 16 tahun yang dilatih untuk menjadi seorang pembunuh bertangan dingin. Aksen Irlandianya di dunia nyata pun tergantikan sama sekali dengan aksen Inggris-Jerman, plus, dapat dengan lafal berbicara bahasa Jerman, Itali, Spanyol, Perancis, dan Arab! Ya, kematangan Saoirse Ronan dalam berakting memang tidak perlu diragukan lagi. Di umur 13 tahun, ia telah menantang Cate Blanchett dalam perebutan piala Oscar untuk nominasi Aktris Pendukung Terbaik lewat Atonement (2007), dimana pada film ini mereka berdua harus beradu akting. Benar saja, ketika Blanchett dan Ronan berada dalam satu layar, gue bisa merasakan betapa akting Ronan tidak tenggelam dan malah mendominasi suasana adegan dengan karakter Hanna yang super-dingin. Bagi seorang Ronan yang sudah pernah meninggal dan terjebak dalam alam penantian dalam The Lovely Bones (2009) dan pernah menyeberangi Rusia, Cina, sampai India dalam The Way Back (2010), tentunya bukan masalahnya baginya untuk beradu akting dengan Cate Blanchett maupun Eric Bana. Terlalu dini untuk memprediksikan nominasi Oscar pada Ronan, apalagi Oscar cenderung lebih suka pada film-film drama. Tapi gue memprediksikan nama Ronan akan terselip dalam nominasi Golden Globe atau BAFTA.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Belum cukup dengan dinginnya peran antagonis yang diperankan dengan baik oleh Cate Blanchett, film ini menghadirkan Tom Hollander sebagai kaki tangan dari Marissa. Tampaknya Joe Wright senang sekali bekerja sama dengan Hollander, setelah kerja sama mereka dalam Pride & Prejudice (2005) dan The Soloist (2009). Hollander yang rasanya memang tipikal karakter dia untuk menjadi peran antagonis, selalu berhasil membuat gue sebal-sesebal-sebalnya dengan semua peran antagonis yang ia perankan. Meskipun tingkat kesebalan itu tidak setinggi saat ia menjadi Lord Beckett dalam trilogi Pirates of the Caribbean, namun karakter yang ia perankan dalam film ini ditampilkan dengan sedikit psycho dan bukan karakter orang yang ingin anda hadapi dalam kehidupan nyata.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Musik elektronik The Chemical Brothers jelas membantu banyak untuk menghidupkan setiap adegan, terutama adegan kejar-kejaran dan adegan berkelahi. Mungkin sedang trendnya dimana musisi-musisi di dunia musik terjun ke dunia film untuk menjadi komposer tunggal untuk mengisi score sebuah film. Trent Reznor dan Atticus Ross telah membuktikan kesuksesan mereka dengan meraih piala Oscar untuk The Social Network (2010). Daft Punk, menurut gue, sukses berat dalam menjadikan dunia komputer sinkron dengan musik mereka dalam Tron: Legacy (2010). Mereka ini membuat komposisi score film yang didominasi oleh orkestra seakan ketinggalan jaman. Film assassin macam ini dengan komposisi scoring yang mengena, selama ini gue bersandar pada The Bourne Trilogy. Namun scoring The Chemical Brothers ini tampaknya menjadi standar baru gue dalam membandingkan scoring, khususnya pada genre film sejenis. Apalagi dalam film ini, melodi-melodi score-nya sangat sinkron dengan editing film yang brilian.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Untuk film yang berdiri sendiri, film ini memang patut diberi acungan jempol. Apalagi melihat jejak sutradara Joe Wright yang tiga film sebelumnya yang ia sutradarai berada dalam ranah drama romantis. Jelas film ini adalah sebuah banting setir bagi Joe Wright, dan dia membuktikan bahwa dia adalah sutradara berbakat yang sepertinya dapat bergerak di genre film apa saja. Joe Wright menambah daftar orang-orang berbakat yang siap meraup sukses di dunia perfilman di kedepannya nanti, bersama Saoirse Ronan dan The Chemical Brothers.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Rating?
8 dari 10






Website theater lokal di sini masukin film ini ke kategori art-house malahan. Hahahaha, jadi bisa sebenarnya film ini di masukin ke kategori itu.
ReplyDeleteBetul banget, hebatnya si Ronan ini ga tenggelam sama Cate Blanchett. Wah, ngeliat dia dinominasiin di Golden Globe aja sudah seneng *mata berbinar*