Di Edo (sekarang Tokyo) pada era Shogun, seorang samurai ternama diminta untuk melakukan suatu misi rahasia; membunuh Lord Naritsugu yang jahat. Shinzaemon pun mengumpulkan samurai-samurai terhebat di era tersebut untuk menyelesaikan misi yang cukup berbahaya. Misi pun tampak seakan misi bunuh diri, setelah Shinzaemon mengetahui bahwa Lord Naritsugu dikawal oleh sepasukan samurai hebat pula, termasuk rekan seperguruannya; Hanbei.
Gue ingat perkenalan pertama gue dengan film samurai Jepang yang sangat berdarah-darah, Zatoichi (2003). Nah, ketika dalam film Zatoichi itu hanya ada seorang Ichi yang mahir mengayunkan pedang dan menghunuskannya ke lawan-lawannya, dalam film arahan Takashi Miike ini ada puluhan samurai yang akan saling beradu pedang. Namun film yang berdasarkan kejadian nyata ini akan fokus pada ketiga-belas jagoan kita yang ingin membela kebaikan dengan membunuh seorang Lord Naritsugu yang terkenal kejam dan berdarah dingin. Setengah film pertama memang dihabiskan oleh bagaimana usaha Shinzaemon untuk merekrut samurai-samurai terhebat pada era Shogun. Selain itu, cerita juga silih berganti dengan di lain pihak, Hanbei, mencoba untuk menerka hal apa dan siapa yang mengancam keselamatan tuannya, Lord Naritsugu. Drama dan dialog-dialog heroik pada bagian ini memang terasa lambat dan membuat penonton menjadi tidak sabar untuk menanti adegan aksi yang akan terjadi. Namun ketidaksabaran ini terjawab tuntas dan melebihi ekspektasi, ketika penonton disuguhi adegan peperangan; panah, ledakan, adu pedang selama 45 menit non-stop!
Premis 13 samurai melawan ratusan orang mungkin senada dengan premis 300 prajurit Sparta melawan 100 ribu pasukan Persia di Thermopylae. Namun pertarungan "Daud melawan Goliath" versi Jepang ini jelas jauh berbeda dengan film 300 (2006), yang membutuhkan tiga hari bagi pasukan Persia untuk mengalahkan para prajurit Sparta. Battle scene di sebuah desa kecil yang dipilih sebagai tempat pembantaian para pengawal Lord Naritsugu benar-benar membuat penonton sesekali menahan nafas. Setengah pertama film yang memperkenalkan satu persatu siapa saja yang menjadi ke-13 samurai jagoan kita ternyata berpengaruh besar ketika penonton menyaksikan mereka bertarung sampai titik darah penghabisan. Takashi Miike benar-benar menggunakan setiap sudut desa tersebut untuk menampilkan berbagai spot pertarungan pedang tersebut diantara puing-puing desa yang hancur. Berbagai macam ledakan, strategi serangan pasukan Shinzaemon yang cerdas, serta adu pedang a la samurai yang ada dalam film ini benar-benar memukau. Memang tidak sesadis dan seberdarah-darah Zatoichi dan tidak se-modern The Last Samurai, tapi justru itu yang memikat; pertarungan massal antar-samurai dengan gaya tradisional dan otentik mereka.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Menarik melihat bagaimana para samurai tanpa tuan ini yang pikirannya mulai terbuka; tidak terlalu kaku pada kode etik samurai yang setia pada tuannya sampai mati. Ini pun terjadi tepat sebelum Restorasi Meiji dimana era Shogun ditumbangkan dan imbasnya sistem kelas - termasuk kelas samurai - pun dihapuskan. Dalam film ini terlihat bagaimana para "Last Samurai" ini mencoba bertahan hidup di akhir era mereka. Mungkin bisa dibilang bahwa cerita dalam film ini melengkapi kisah samurai dengan mundur beberapa puluh tahun kebelakang dari film The Last Samurai (2003) sebelum dunia barat memasuki dan banyak mempengaruhi era industrialisasi di Jepang.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Gue sangat suka dengan setiap dialog yang terucap dari berbagai karakter dalam film ini. Setiap pilihan kata dan kalimat seakan-akan menggambarkan budaya tradisional Jepang yang dianut pada era tersebut. Berbagai kebijaksanaan dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat Jepang pada saat itu tergambar jelas dengan dialog-dialog yang ada, khususnya mengenai kehidupan dan ketaatan seorang samurai.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Rating?
8 dari 10





No comments