20 May 2011
2 kritik

Attack the Block

6:05 AM
Sobekan tiket bioskop tertanggal 18 Mei 2011 adalah Attack the Block. Ada dua hal yang membuat gue menantikan kemunculan film ini di jaringan bioskop terdekat. Publikasi media tentang film ini yang digadang-gadang sebagai debut sutradara berbakat asal Inggris dan ketertarikan gue akan sinema Inggris, atau disebut sebagai Brit-Buster, sebagai "pihak oposisi" atas dominasi Hollywood di dunia perfilman dunia. Joe Cornish, orang yang berada di balik layar dari film ini sebagai sutradara sekaligus penulis naskah. Nama di belakang layar dari film ini diperkuat dengan nama Edgar Wright, sutradara Inggris yang sukses menelurkan film tipikal komedi Inggris; Shaun of the Dead (2004) dan Hot Fuzz (2007), dimana kali ini ia duduk di kursi produser pada film araham Cornish.

Cerita dimulai dengan seorang suster muda, Sam, ditodong oleh lima anak geng di sebuah jalanan di selatan kota London. Saat akan merampas uang dan cincin dari Sam, kelima anak ini dikejutkan oleh sebuah benda asing yang jatuh dari langit dan menimpa salah satu mobil yang diparkir di pinggir jalan. Ternyata benda asing tersebut berisi seekor makhluk berbulu aneh nan ganas, yang langsung menyerang Moses, pimpinan dari geng tersebut. Anak-anak geng tanpa rasa takut ini pun mengejar dan membunuh makhluk tersebut. Tak lama setelah itu, benda-benda asing yang sama mulai berjatuhan di lingkungan sekitar rumah susun mereka. Menyadari akan adanya serangan alien, mereka yang terbilang anak geng dan tukang palak pun dalam sekejap menjadi pahlawan demi mempertahankan rumah susun mereka dari serangan alien ganas.

Film ini jelas menambah ramai barisan film-film bertema serangan alien dalam tahun ini. Mulai dari film-film dengan efek visual yang megah seperti Skyline dan Battle: Los Angeles, sampai pada film dengan minim efek  visual seperti Paul dan Monster. Film panjang pertama dari Joe Cornish ini pun tidak kalah menariknya, efek visual seadanya dengan budget hanya 8 juta poundsterling sukses membius penonton untuk tetap duduk tegang sampai akhir film. Praktis efek visual yang ada dalam film ini hanya pada si alien berbulu lebat a la serigala besar yang giginya bersinar layaknya fosfor. Namun hal ini tidak mengurangi keasyikan dalam mengikuti film ini, karena ada hal yang lebih dalam yang ingin disampaikan oleh Joe Cornish. Hadirnya alien di bagian kota London yang "terbuang" lantaran tingginya angka kriminalitas dan banyaknya pengedar ganja dan obat-obatan terlarang, seakan hanya menjadi background dibelakang aktor utama pada cerita; sisi kemanusiaan. Tukang palak, pengedar, korban palak, polisi, siapapun itu menjadi sama derajat dan martabatnya ketika dihadapkan pada kekuatan yang lebih besar dari manusia. Namun film ini setia untuk fokus pada dinamika anak-anak geng pinggiran dan kerap disebut sebagai "sampah masyarakat" ini dalam menghadapi serangan alien.

Anak-anak geng dengan segudang permasalahannya seperti obat-obatan, keluarga yang retak, kemiskinan dan sebagainya pernah hadir di layar lebar dalam bentuk film yang lebih "serius" dalam NEDS (2010). Namun, Joe Cornish seakan ingin mencampuradukkan permasalahan sosial yang menjangkiti Inggris Raya tersebut dengan hadirnya alien di tengah-tengah mereka. Jika dalam film-film serangan alien lainnya para jagoan bersenjatakan senjata tempur dan tank baja serta pesawat tempur, maka dalam film ini para jagoan kita bersenjatakan samurai, pemukul baseball, kembang api, pisau dapur serta berkendaraan skuter pengantar pizza dan sepeda BMX. Anak-anak remaja yang "tersesat" dalam arah kehidupan ini memang tidak kenal takut dalam menghadapi sesama manusia dan tegar dalam menjalani kerasnya kehidupan kota London. Namun keberanian dan pengalaman mereka dalam memalak orang lain dengan senjata tajam seadanya harus dibuktikan dengan taruhan nyawa dalam melawan pendatang dari luar angkasa.
gambar diambil dari sini
Menarik menelusuri perkembangan cerita, ketika di setengah awal film betapa anak-anak ini tidak disukai oleh penonton lantaran gaya bahasa mereka yang kelewat "jalanan" dan perilaku seenak-jidatnya sendiri. Namun di setengah terakhir film, para penonton malah menjadi memohon agar setiap karakter dari para jagoan ini dapat bertahan hidup sampai akhir cerita. Selain itu, emosi cerita makin direnggangkan dan keberpihakan antagonis-protagonis semakin diputarbalikkan ketika Sam, si korban palak di awal film, secara tidak sengaja terlibat dalam pertarungan antara Moses dkk melawan alien. Moral sosial dan perasaan marah karena telah dirampok  pun masih tersisa dalam diri Sam, namun pada akhirnya dia harus memilih pada sisi manakah dia harus berpihak untuk dapat bertahan hidup.

Lewat sudut pandang luas dunia perfilman dengan deretan film-film alien invasion lainnya, film ini memang akan mudah tenggelam karena tema dan cara bercerita yang terlalu ringan dan sederhana. Namun sebagai film debutan dari seorang sutradara berbakat dengan budget rendah, film ini dapat berbicara banyak dengan sendirinya. Isu permasalahan sosial yang diangkat memang tidak seberat isu apartheid-nya District 9 (2009), aliennya pun tidak semengerikan Alien (1979). Tapi justru lewat kesederhanaan dan ringannya tema, cerita, dan karakter yang diangkat, film ini justru memberikan suatu kesegaran dan kenikmatan sendiri. Dialog-dialog dan celetukan-celetukan yang terlontar dari mulut anak-anak geng ini mengundang tawa dan senyum sekaligus reflektif akan isu sosial yang nyata. Kurang merakyat bagaimana, ketika Joe Cornish terinspirasi membuat cerita film ini setelah dirinya ditodong oleh anak-anak geng di jalanan dekat rumahnya, dimana anak-anak tersebut masih sangat muda dan adalah tetangga dari Cornish. Oya, anak-anak geng jagoan kita diperankan oleh para aktor non-profesional tanpa pengalaman akting sedkitpun. Penampilan mereka pun tidak serta merta tenggelam oleh penampilan Nick Frost dan Jodie Whittaker yang menemani sepak terjang mereka. John Boyega yang memerankan Moses yang jarang bicara dan misterius patut mendapat acungan jempol lantaran sukses menjadi seorang karakter dari yang paling dibenci sampai menjadi yang paling dicintai.
gambar diambil dari sini
Disamping alien-alien berbulu lebatnya, sangat mudah untuk mencintai jalan cerita dan karakter serta dinamika mereka dalam film ini.



Rating?
7 dari 10

2 kritik:

  1. Kayaknya mantep film ini setelah denger gunjang gunjingnya yang heboh banget. Minggu lalu dibagiin tiket screening gratis di 25 kota. ga satupun kebagian. Gatau keluarnya kapan disini.

    Kalo dibanding Paul, okean yg mana?

    ReplyDelete
  2. Wah tidak semudah itu bisa dibandingkan dengan Paul. Tergantung selera dan mau cari jenis film apa. Kalau Paul kan lebih ke komedi, sedangkan Attack the Block lebih ke thriller dan sedikit banyak mengangkat isu permasalahan sosial karena memang isu ini yang menjadi titik awal Joe Cornish dalam menulis naskah film ini.

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top