04 May 2011
0 kritik

Fast Five

11:41 PM
Sobekan tiket bioskop tertanggal 3 Mei 2011 adalah Fast Five. Gue memang kurang menggemari franchise yang satu ini. Apalagi dengan bertebarannya sekuel-sekuel sampai ke-4 yang malah makin menenggelamkan nama franchise film tentang balap-balapan mobil dan dunia kriminal ini. Jujur gue cukup suka dengan versi orisinilnya, namun sekuel kedua sampai keempat terasa terlalu komersil dan makin kehilangan arah dari ide dasarnya; pengendara mobil hebat yang terjebak dalam area abu-abu dunia kriminal. Bahkan gue dengan sengaja melewatkan sekuel keempatnya. Namun setelah membaca berbagai review positif tentang sekuel yang kelima ini, maka gue pun ingin mencoba sekaligus bernostalgia dengan Paul Walker, Vin Diesel, Jordana Brewster, dan kawan-kawan.


Setelah Brian (Walker) dan Mia (Brewster) membebaskan Dominic (Diesel), mereka harus menyembunyikan diri di Rio de Janeiro, Brazil untuk menghirup udara kebebasan. Namun satu "pekerjaan ringan" malah menyeret mereka kembali ke sisi lain dari hukum, setelah pekerjaan tersebut berakhir tidak sebagaimana mestinya. Kini mereka diburu oleh dua pihak; gembong mafia Rio yang ingin membunuh mereka dan agen federal Luke Hobbs (Dwayne Johnson) yang ingin menangkap dan menyeret mereka kembali ke AS.


Secara mengejutkan, gue cukup menyukai film ini! Cerita dalam film ini seakan kembali pada ide dasar dari film orisinilnya, bahwa dunia kriminal dan hukum tidak semudah hitam dan putih. Sebenarnya Dominic dan kawan-kawan yang ingin mengungkap dan menghancurkan gembong mafia nomor satu di Brazil, namun ternyata harus berurusan dengan agen federal AS karena masa lalu mereka yang kelam. Film ini juga berhasil memenuhi ekspektasi dan tujuan awal dibuatnya film ini; menghibur! Dengan rentetan adegan aksi sepanjang film, yang praktis membuat gue beberapa kali menahan nafas. Bukan franchise The Fast and The Furious namanya kalau tidak ada adegan balap-balapan dan kejar-kejaran mobil. Tapi film ini juga meregangkan adegan aksi itu dengan menyelipkan adegan-adegan berkelahi tangan kosong yang sangat seru dan enjoyable. Apalagi jika adegan berkelahi tersebut melibatkan seorang bintang laga ternama dan seorang mantan pegulat.


Gambar diambil dari RottenTomatoes
Sepertinya, Paul Walker dan Vin Diesel adalah mesin bagi franchise film ini. Gue engga tahu apa yang terjadi pada sekuel keempatnya karena gue memang sengaja melewatkannya, tapi mereka benar-benar tampil maksimal dan menjadi jiwa penggerak dalam film ini. Dipermanis dengan kehadiran Jordana Brewster, mereka bertiga piawai memindahkan perseneling cerita; dari adegan laga yang menegangkan sampai adegan drama yang menyentuh. Belum lagi gue cukup dikejutkan dengan bagaimana film ini seakan reuni bagi para pemeran pembantu dari sekuel-sekuel sebelumnya. Sebut saja Matt Schulze dari film orisinilnya, Tyrese Gibson dan Ludacris dari sekuel kedua, Sung Kang dari sekuel ketiga dan keempat, serta Gal Gadot dari sekuel keempat. Ditambah dengan dua karakter baru dalam tim mereka yang diperankan dengan baik oleh Don Omar dan Tego Calderon. Tim yang Dominic bentuk entah kenapa mengingatkan gue akan tim yang dibentuk oleh Danny Ocean, seakan ini adalah sebuah hal yang tipikal jika ingin membentuk tim dengan misi pencurian yang berisikan karakter-karakter yang bervariasi. Oh ya, jangan lupa kehadian Dwayne Johnson yang super-maskulin dalam film ini. Melihat dia hadir dalam film ini seakan membuat otot besar Vin Diesel terlihat "tidak ada apa-apanya". Bisa gue bilang, setiap kemunculan menonjolnya badan dan otot The Rock benar-benar seakan menenggelamkan setiap karakter yang berada dalam satu layar dengannya. Dengan karakterisasi yang dibangun dengan baik, apalagi dengan hormon testosteron yang selalu dipacu sepanjang film, Dwayne Johnson bisa dibilang sebagai man of the match pada film ini.

Gambar diambil dari RottenTomatoes
Gue sangat suka bagaimana cerita dalam film ini mempermainkan dua sisi mata uang yang sangat berbeda; kebaikan dan kejahatan. Walaupun tidak se-ekstrem Christopher Nolan dalam The Dark Knight, tapi film ini berbicara dengan caranya sendiri. Bagaimana baik-buruknya seseorang tidak bisa semata-mata dinilai dari perbuatan dan masa lalunya, tapi juga dari niat dan motivasinya. Banyak sekali adegan dalam film ini, terutama adegan drama beserta dialog-dialognya, yang seakan menaruh homage pada The Fast and The Furious yang dirilis 10 tahun yang lalu. Dimana pun dan dalam situasi apapun, family matters.


Gue berani bilang bahwa sekuel kelima ini jauh lebih baik daripada keempat pendahulunya. Meskipun layaknya mobil yang ngebut secepat 200 km/jam dengan mudah menjadikan apa saja yang dilihat hanya menjadi sekelebat bayangan yang bergerak cepat, seperti bagaimana dalam jangka waktu tertentu kita akan dengan mudah melupakan film ini. Namun bagi yang ingin berkenalan dengan franchise ini, gue akan merekomendasikan film ini sebagai kencan pertama mereka. Injak gas sampai pol, ganti persneling, dan siap-siap tekan tombol NOS!




Rating?
7 dari 10

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top