11 May 2011
3 kritik

Priest

7:37 AM
Sobekan tiket bioskop tertanggal 10 Mei 2011 adalah Priest. Ketertarikan gue akan film ini hanyalah berdasarkan pada berbagai iklan yang tersaji di sekeliling gue. Bahkan iklan film ini sempat muncul di atas banner IMDb yang membuat gue langsung berpikir positif tentang film ini. Belum lagi bagaimana film ini hanya muncul dalam versi 3D di jaringan bioskop terdekat, yang membuat gue berpikir mungkin memang film ini dibuat hanya untuk versi 3D saja seperti My Bloody Valentine (2009).

Di sebuah realitas alternatif dimana bumi telah porak-poranda akibat perang tanpa akhir antara manusia dengan kaum vampir, pastur menjadi satu-satunya senjata ampuh manusia untuk melawan para vampir yang ganas. Institusi gereja pun menjadi satu-satunya tumpuan hidup dan Cathedral City menjadi satu-satunya peradaban manusia yang tersisa di muka bumi. Suatu ketika, kedamaian yang telah dijaga selama bertahun-tahun robek oleh serangan vampir pada sebuah keluarga di daerah terbuang, di luar Cathedral City. Seorang pastur pun berniat untuk menyelidiki serangan tersebut. Para petinggi Gereja yang masih ingin mempertahankan kedamaian lebih memilih untuk tidak bertindak apa-apa dan melarang penyelidikan tersebut. Sang pastur pun terpaksa melanggar sumpahnya pada Gereja demi rasa kemanusiaan terhadap anak dari keluarga tersebut yang ternyata diculik oleh para vampir. Petualangan sang pastur ternyata membuka tabir rencana jahat kaum vampir terhadap manusia.

Film ini diangkat berdasarkan graphic-novel berjudul sama asal Korea, yang ternyata malah versi Hollywood ini mengganti banyak jalan cerita dan karakter antagonis dari cerita aslinya. Alih-alih melawan 12 malaikat yang terbuang seperti pada graphic-novel, sang Pastur harus melawan vampir-vampir yang telah berevolusi menjadi  semacam Nemesis dan Lickers dari Resident Evil. Entah siapa dan kenapa vampir-vampir mutan ini dipilih sebagai karakter antagonis melawan pada Pastur, mungkin simply karena drakula atau vampir takut terhadap benda-benda suci macam salib dan air suci? Entah apapun itu alasannya, yang jelas karakter vampir CGI ini banyak mengingatkan gue akan Resident Evil dan (sayangnya) tidak terlihat seperti vampir atau drakula sama sekali. Dengan berbentuk seperti monster dan bergigi tajam, sama sekali tidak meningkatkan kengerian yang berarti. Tentunya masih jauh kalah mengerikan dibandingkan dengan kaum vampir dari kutub utara dalam 30 Days of Night (2007).

Mempertahankan kesinambungan dengan judul tulisan dan judul film, sudah saatnya gue membahas si karakter protagonis pada film ini. Satu hal yang membuat gue cukup risih dan tidak bisa membuat mata gue beralih pada hal tersebut; tanda (tato?) dari dahi sampai hidung yang membentuk tanda salib pada setiap pastur dalam film ini. Ya memang tanda tersebut sebagai simbol yang paling nyata akan identitas mereka sebagai seorang yang "lebih" dari sekedar orang biasa. Tapi entah kenapa tanda tersebut tampak menggelikan di mata gue. Selain itu, karakter pastur yang dilatih secara khusus untuk berkelahi (dengan tangan kosong) melawan para vampir yang ganas ini adalah suatu hal yang menarik. Apalagi ditambah dengan institusi Gereja yang menjadi kekuasaan tunggal atas Cathedral City dan mengatasi para pejuang pastur di dunia alternatif ini. Film-film yang memiliki referensi kuat pada suatu agama tertentu memang telah banyak sebelumnya, seperti misalnya Da Vinci Code (2006) atau Stigmata (1999) misalnya. Namun pada film ini, referensi tersebut memang tersamarkan namun menyiratkan betapa agama bisa menjadi suatu pihak otoritas yang sangat kuat dan berpengaruh, seperti layaknya diktator pada V for Vendetta (2006). Akibat referensi dan citra yang nyeleneh ini, alih-alih menikmati adegan aksi gue malah sibuk mencari-cari makna dan maksud dari para pembuat film dan mengaitkannya ke dunia nyata.
gambar diambil dari sini
Paul Bettany sekali lagi terperangkap pada karakter tipikal; misterius, dingin, dan jago berantem. Setelah sukses memerankan Silas dengan memberikan visualisasi yang menarik dari karakternya yang anti-sosial dan kelewat loyal pada gereja, Bettany kembali memerankan sosok biarawan yang jago berkelahi dalam film ini, sang Pastur. Sayangnya, karakter ini sangat tipikal dengan film-film dengan genre sejenis dan Bettany kurang mampu membawakannya secara berbeda. Untuk wanita-wanita, bersiaplah untuk berteriak kegirangan melihat penampilan Cam Gigandet yang dibuat macho dan gaya dalam film ini. Namun sayang, karakternya secara tidak sengaja karena perkembangan naskah yang lemah, malah menjadi side of the sidekick atau istilahnya, Robinnya Robin. Seakan-akan, kalau saja karakternya dicoret dari naskah maka praktis tidak akan berpengaruh apa-apa pada keseluruhan jalan cerita. Sayang memang, dimana sebenarnya gue cukup menyukai akting dari Gigandet semenjak Pandorum (2009) yang memberikan bukti bahwa kiprahnya di dunia akting tidak hanya bermodalkan tampang saja.

Salah satu hal yang gue suka pada film ini adalah bagaimana film ini menggambarkan keadaan dunia yang telah kering kerontang sehingga hanya menyisakan gurun dan padang tanpa batas yang hanya dihiasi tonggak-tonggak batu besar hasil ukiran dari cuaca bertahun-tahun. Sayangnya gue tidak bisa menemukan hal lain yang gue sukai dari film ini lantaran pergerakan jalan ceritanya sangat tipikal dengan film-film post-apocalyptic yang melawan makhluk-makhluk aneh. Setiap pergerakan dan pikiran karakter benar-benar bisa membuat adegan selanjutnya tertebak, saking tipikal dan terlampau kaku pada formula film sejenis. Drama yang disisipkan pun tak kalah tipikal dan cenderung klise yang seakan hanya dipaksakan untuk masuk agar film tidak hanya berisi adegan-adegan berkelahi dengan makhluk CGI ini. Sayangnya, dengan talenta drama yang ada, kisah drama tersebut tidak digali lebih lanjut dan dibiarkan terbengkalai begitu saja. Praktis tidak ada perkembangan karakter sama sekali, alias kedalaman karakternya sedatar visual 3D yang ditawarkan oleh film ini.



Rating?
6 dari 10

3 kritik:

  1. Haaaa, emang udah ragu sama kualitas film ini dari awal :D

    ReplyDelete
  2. Film ini yg buat directornya si Legion juga kan? Si Paul Bettany terlalu loyal buat terus kolaborasi film macam gini. Worth it ga nonton di 3D?

    ReplyDelete
  3. @Movfreak: Gue juga ragu, tapi penasaran aja. Gue kira film ini dibuat khusus untuk 3D, ternyata engga kok. Bioskop sini aja yang pede jaya nayangin yang versi 3D doank.

    @Mikhael: Betul! Sutradaranya Legion juga, baru sadar euy. Pantes mirip-mirip gitu. Gue nonton 3D, ga ada eye-popping sama sekali. Malah menurut gue konversi 3D-nya menurunkan kualitas gambar yang sebenarnya udah oke dari sananya.

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top