07 May 2011
One kritik

Thor

3:36 AM
Sobekan tiket bioskop tertanggal 6 Mei 2011 adalah Thor. Siapa yang masih ingat scene after credit dari film Ironman 2? Adegan yang memperlihatkan bagaimana palu milik Thor yang telah jatuh ke bumi dan ditemukan oleh salah satu agen S.H.I.E.L.D. Yup, ini adalah film superhero terbaru dari Marvel Studios demi mempersiapkan mega-proyek untuk menggabungkan semua superhero yang pernah di angkat ke layar lebar, The Avengers, yang akan rilis tahun 2012. Untuk mempersiapkan diri dalam menonton The Avengers, tampaknya film tentang God of Thunder dari alam Asgard ini tidak boleh dilewatkan.

Dewa petir yang bersenjatakan palu sakti ini diusir keluar karena arogansinya oleh ayahnya, Odin, dari alam Asgard dan jatuh ke bumi. Sayangnya pengusiran Thor (Chris Hemsworth) dari Asgard dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mengambil alih kekuasaan Odin sebagai dewa para dewa, dan menciptakan perang dengan Frozen Giants. Sementara itu di bumi, Thor belajar banyak dari orang-orang yang ada di sekitarnya, serta membangun hubungan dengan ilmuwan Jane Foster (Natalie Portman).

Sebagai film superhero aksi, film ini memang menghibur. Apalagi dengan parade visual efek serta penggambaran dunia Asgard yang megah (walaupun banyak mengingatkan gue akan dunia Star Wars dan Avatar). Disisipi oleh lelucon-lelucon dengan penempatan yang tepat dan sanggup mengocok perut, apalagi ketika Thor baru sampai di bumi. Namun sayang, gue sendiri merasa kurang terserap oleh cerita dalam film ini. Berhubung universe dalam film ini sama dengan Ironman dan kawan-kawan, maka gue bisa membandingkannya dengan Ironman yang jauh lebih punya hati dan jiwa dalam ceritanya ketimbang film ini.

Ini memang kencan pertama gue dengan si dewa petir ini, yang mana memang sebelum menonton film ini gue sama sekali tidak tahu cerita tentang Thor. Gue yang seakan gelas kosong pun memang diisi oleh pengetahuan tentang siapa dan bagaimana Thor itu serta legenda dan mitos yang menyertainya. Gue cukup suka bagaimana cerita dalam film ini mencampuradukkan tidak hanya antara magis dengan sains, tapi juga antara mitos dengan sains. Pencinta teori fisika kuantum mungkin akan menyukai konsep yang ditawarkan oleh film ini tentang darimana asal Thor sebenarnya, apalagi film ini memvisualisasikan teori wormhole-nya Einstein dengan caranya sendiri.
gambar diambil dari sini
Namun sayang, pendalaman dan pengembangan karakter Thor dalam film ini gue rasa terlalu terburu-buru. Karakter Thor yang arogan dan emosional memang digambarkan dengan baik oleh Chris Hemsworth, yang memulai karir akting layar lebarnya lewat Star Trek (2009). Namun perubahan karakternya yang berubah menjadi lebih baik kurang bisa gue rasakan, seakan perubahan tersebut tidak gradual sama sekali. Di akhir film, Thor yang menjadi lebih bijak pun memang ditampilkan baik juga oleh Hemsworth, tapi mungkin memang aktor yang satu ini kurang maksimal dalam menampilkan perubahan karakter secara tepat. Dengan karakter Thor yang menjadi titik gravitasi dalam film ini memang sangat bertumpu banyak pada karakter si dewa petir berpalu ini. Ya Chris Hemsworth memang bukan seorang Robert Downey Jr. yang mampu melarutkan penonton dalam karakter Tony Starknya yang cuek namun ambisius. Namun gue cukup khawatir bila nanti Hemsworth dan RDJ akan satu layar dalam The Avengers jika pendalaman karakter Thor hanya didukung oleh palu saktinya.

Natalie Portman seperti biasa tampil maksimal, walaupun ini bukan penampilan terbaik dia. Susah ya, setelah Black Swan sepertinya gue mengharapkan dia akan berakting dan mendapatkan karakter - setidaknya - setingkat dengan Nina Sayer. Sayangnya juga, karakter Jane Foster yang diperankannya adalah karakter tipikal dan pasaran, karakter yang seakan hanya sebagai pelengkap dan pemanis dari sebuah film macho dan penuh hormon testosteron.
gambar diambil dari sini
Karakter-karakter sampingan pada film ini pun cukup menarik, terkadang malah lebih menonjol dibandingkan Thor sendiri. Mulai dari Loki, adik dari Thor yang kalem namun memiliki keinginan yang misterius. Lalu tentunya Odin, si dewa para dewa yang diperankan dengan sangat baik oleh Sir Anthony Hopkins. Ada juga Stellan Skarsgard yang memerankan Erik Selvig, rekan ilmuwan dari Jane Foster. Sepanjang film gue bertanya-tanya, wah masa aktor sekaliber Skarsgard hanya diberikan peran "ringan" seperti ini? Namun ternyata pertanyaan gue terjawab oleh scene after credit yang ada dalam film ini. Namun diantara itu semua, gue paling suka dengan karakter si Gatekeeper (aduh, gue engga tahu nama karakternya dalam film ini). Karakterisasi yang menarik, dengan suara yang benar-benar menghidupkan karakternya, kehadirannya di layar selalu gue tunggu-tunggu.

Untuk anda yang mencari hiburan aksi, atau sekedar ingin menambah referensi film superhero keluaran Marvel (demi persiapan menyambut The Avengers), film ini memang sayang untuk dilewatkan. Namun jangan berharap banyak dengan kedalaman film ini yang sedatar versi tiga dimensinya film ini.
gambar diambil dari sini
Rating?
7 dari 10

1 kritik:

 
Toggle Footer
Top