18 March 2007
0 kritik

Dreamgirls

1:13 AM
Sobekan Tiket Bioskop kelima pada bulan Maret 2007 adalah Dreamgirls. tertanggal 17 Maret 2007. fiuh. bulan ini adalah bulan panen film-film bagus. dan film ini udah gue tunggu-tunggu sejak film ini mendapat 8 nominasi dan memenangkan 2 penghargaan Oscar. ditambah lagi kehadiran bintang-bintang Holywood seperti Beyonce, Foxx, dan Eddie Murphy.

Akhir tahun 1960an dan awal 70an, trio wanita -- Effie (Jennifer Hudson), Deena (Beyoncé Knowles) dan Lorrell (Anika Noni Rose) -- membentuk grup penyanyi yang menjanjikan bernama Dreamettes. Pada kompetisi bakat, mereka ditemukan oleh seorang manajer ambisius, Curtis Taylor, Jr. (Jamie Foxx), dan menawarkan mereka kesempatan seumur hidup: menjadi penyanyi latar untuk James "Thunder" Early (Eddie Murphy). Curtis lambat laun memegang kendali atas penampilan dan suara mereka, memberi mereka kesempatan tampil dengan nama The Dream
s.
Pusat perhatian mulai tertuju pada Deena, membuat Effie yang nampak kurang menarik mengundurkan diri. Meskipun Dream menjadi jembatan kesuksesan, mereka menyadari bahwa harga kemasyuran dan kekayaan lebih tinggi dari yang pernah mereka bayangkan.

yummy. another musical film. tapi yang ini lumayan bagus, setidaknya bila dibandingkan dengan The Phantom of the Opera yang 90% nyanyian. kalo yang ini masih imbang antara nyanyian dan cerita. ditambah dengan kekuatan vokal pada pemain-pemainnya. belum lagi lagu-lagunya secara 3 lagu menyabet 3 nominasi Oscar sekaligus.

tetapi alur cerita terkesan terlalu cepat tapi lumayan masih bisa diikuti. overall, ini memang film yang menceritakan perjalanan kelompok penyanyi The Dreams dari pertama kali naik panggung sampai pensiun yang dirangkum dalam film berdurasi kurang lebih dua jam. dan ciri khas Holywood memang sangat kental disini. mungkin kalau digarap oleh para pembuat film ala Jiffest, Dreamgirls bisa lebih baik lagi.

perlu gue akui dari segi soundtrack, Dreamgirls cukup oke dan membuat gue pengen nyari soundtrack2nya.

banyak cerminan-cerminan sosial yang bisa dilihat di film ini. selain yang paling kental adalah persoalan rasisme, persoalan bahwa bisnis musik diatas segala-galanya, termasuk diatas teman seperjuangan. bagaimana sebuah musik dikomersialisasikan. dan sebagainya.

rating?
8 of 10

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top