16 December 2014
0 kritik

The Hobbit: The Battle of the Five Armies

"Babak terakhir yang megah, yang akan membuat anda ingin menonton kembali trilogi LOTR"

Bilbo bersama kelompok Dwarfs yang dipimpin oleh Thorin Oakenshield berusaha menyingkirkan cengkraman si naga Smaug dari gunung Erebor. Namun mereka harus siap menghadapi kenyataan lain; ketika Smaug mati, maka Manusia, Elves, dan Orc akan datang untuk turut mengambil harta yang ada dalam gunung Erebor.

The Battle of the Five Armies adalah penutup yang kuat dan berkesan bagi trilogi The Hobbit, sekaligus menjadi jembatan yang sempurna bagi trilogi Lord of the Rings. Tim penulis naskah Fran Walsh, Philippa Boyes, Peter Jackson, dan Guillermo del Torro brilian dalam menambahkan hal-hal yang tidak ada pada novelnya. Penambahan beberapa plot cerita dan karakter ini memang semata-mata agar menjadi jembatan yang baik ke trilogi LOTR.

Visualnya jelas mengagumkan dan sangat layak untuk ditonton di layar sebesar mungkin. Apalagi penggunaan efek 3D yang sangat maksimal dan efektif. Namun yang harus dipuji adalah format High Frame Rate yang sangat cocok untuk digunakan dalam sekuel ketiga ini. Dengan banyaknya adegan perang - apalagi perang final lima pasukan besar Middle Earth - gerakan-gerakan tersebut akan menjadi mulus dan atraktif dalam format 48 frame per second.



Gaya penceritaan lambat yang menjadi kritikan pedas pada sekuel pertama dan kedua, dijawab dengan baik dalam sekuel ketiga ini. Dimulai dengan adegan pembukaan yang dahsyat dan akan membantu penonton untuk mengingat kembali jalan cerita beserta karakter-karakter yang ada, hingga peperangan di mulut gunung Erebor yang tak terhindarkan. Semua berjalan dengan pace yang cukup cepat serta tanpa basa-basi. Kemudian di akhir film, semua itu dijawab dengan adegan perang epik yang berdurasi kira-kira 45 menit. 

Namun sekuel ketiga ini masih menderita kekurangan yang sama yang ada pada dua sekuel pertamanya; tidak memiliki hati. Perkembangan karakternya tidak digarap dengan baik karena terlalu sibuk memperkenalkan banyak karakter baru dalam layar. Padahal ada banyak kesempatan mengingat satu novel tipis ini dibagi menjadi tiga film berbeda. Belum lagi 13 Dwarfs kita yang begitu kuat karakternya di sekuel pertama, lambat laun makin menipis hingga sekuel ketiga ini yang hanya fokus pada Fili dan Kili. Belum lagi dengan karakter Thorin yang memang memiliki love/hate relationship dengan Bilbo - dan penonton - tetapi tampil repetitif sehingga membuat gue mulai tak peduli lagi akan nasibnya.


Tetapi jelas bahwa The Battle of the Five Armies adalah yang terbaik diantara trilogi The Hobbit. Tempo cerita yang pas dsn langsung pada intinya. Ketika An Unexpected Journey menjadi nostalgia yang manis untuk mengenang keajaiban LOTR - termasuk adegan memorable Bilbo vs Smeagol, The Desolation of Smaug terkesan terlalu lamban yang ditutupi oleh kehadiran Smaug yang brilian, maka The Battle of the Five Armies adalah kisah puncak petualangan Bilbo Baggins membantu Thorin dan kawan-kawan untuk merebut kembali rumah mereka. Sebuah kisah pendek yang dibanggakan oleh Bilbo kepada Frodo. Dan pada akhirnya menjadi sebuah kisah pelengkap bagi Middle Earth cinematic universe.


USA | 2014 | Action / Fantasy | 144 mins | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

Wajib 3D? YA!

Wajib HFR 3D? YA!

Wajib IMAX? YA!

Wajib 4DX? Relatif

sobekan voucher bioskop tanggal 16 Desember 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top