12 December 2014
3 kritik

Pendekar Tongkat Emas

"Kisah filosofis yang dibalut dengan adegan silat yang brilian"

Cempaka adalah seorang pendekar yang disegani di dunia persilatan, yang juga memegang senjata mematikan; Tongkat Emas. Cempaka yang mulai menua, harus mewariskan Tongkat Emas dan jurus pamungkasnya kepada salah satu anak muridnya. Namun, sebelum dunia persilatan memiliki Pendekar Tongkat Emas yang baru, pembunuhan dan pengkhianatan terjadi. Tongkat Emas jatuh ke tangan yang salah. Satu-satunya orang yang dapat merebut Tongkat Emas kembali adalah Pendekar Naga Putih yang telah lama menghilang.

Setelah duo Mira Lesmana dan Riri Riza membuat standar baru di genre drama romansa remaja lewat AADC? (2001), kini rasanya mereka akan melakukan hal yang sama dengan genre silat. Tentunya kita masih ingat betapa genre film silat sempat merajai dunia pertelevisian Indonesia nyaris dua dekade yang lalu, entah lewat Si Buta dari Goa Hantu dan kawan-kawannya. Kini Pendekar Tongkat Emas jelas menandai hadirnya kembali film silat Indonesia dengan garapan yang sangat serius serta hasil yang kelewat apik.



Pendekar Tongkat Emas jelas unggul di berbagai segi teknis. Yang pertama adalah visualnya yang mengagumkan. Memilih lokasi syuting di pelosok Sumba Timur jelas keputusan yang brilian. DOP Gunnar Nimpuno benar-benar mengeksploitasi habis-habisan keindahan alam Sumba Timur, baik yang tipikal hingga lokasi yang sepertinya "non-mainstream". Mulai dari perbukitan savana hingga pantai, yang kemudian dikawinkan dengan adegan dan karakter yang ada. Hasilnya luar biasa cantik dan indah. Bahkan mungkin terkesan kelewat artistik lewat insert-insert yang terlalu banyak di tengah film.

Lalu film ini memiliki departemen artistik yang luar biasa. Sangat detil, sangat membangun suasana, dan terlihat sangat nyata. Set perkampungan yang sengaja dibangun, dengan detil setiap rumah, bahkan barang-barang perintilan di dalam rumah. Terlihat betapa tinggi dedikasi yang diberikan untuk urusan "latar belakang" film ini agar terlihat nyata sebagai film dengan lokasi di desa-desa yang lekat dengan dunia persilatan.


Kemudian, acungan jempol jelas harus diberikan kepada fight choreography-nya. Tidak sia-sia Mira Lesmana memboyong Xiong Xinxin ke Indonesia, ahli bela diri asal China yang terkenal menjadi stuntman dari Jet Li dan segudang pengalamannya menjadi action director di berbagai film laga. Berbagai jurus wushu yang diperagakan dalam film ini benar-benar luar biasa, meski sayang pengambilan gambarnya terlalu cepat sehingga sulit untuk benar-benar menikmati setiap koreografi silatnya. Bertahanlah dengan berbagai adegan drama dan alur lambatnya di awal dan tengah film, karena semuanya akan terbayar tuntas dengan final fight yang skalanya mungkin akan membuat orang membandingkannya dengan The Raid dan sekuelnya.

Bagi mereka yang merindukan akting dari Nicolas Saputra, siap-siap untuk memuji betapa berbakatnya aktor yang satu ini. Meski karakternya masih setipe dengan setiap karakter yang pernah dia mainkan, tetapi kehadirannya jelas menambah warna tersendiri dalam film ini. Dipadukan dengan peraih penghargaan aktor terbaik FFI 2013 Reza Rahadian membuat film ini sangat menarik dengan melihat mereka berdua beradu akting. Eva Celia dan Tara Basro pun tampil sangat kuat dan tidak semata-mata tenggelam oleh Nico dan Reza. Dan Christine Hakim...well, she is Christine Hakim :D


Naskah garapan Jujur Prananto, Mira Lesmana, Ifa Isfansyah, dan Seno Gumira juga terbilang cukup kuat. Jalan ceritanya memang sederhana, tetapi sisi filosofisnya cukup kuat - sebuah hal yang lumrah bagi film-film bertema silat yang memang banyak menyimpan filosofi hidup. Naskah ini juga banyak menyimpan line dialog yang bagus dan cerdas. Apalagi dialog-dialog tersebut dibawakan dengan meyakinkan dan tidak terkesan kaku oleh aktor-aktris yang berpengalaman tersebut. Meski sayang, kisah anak-anak murid Cempaka ini terkesan dipanjang-panjangkan di tengah film.

Akhir kata, Pendekar Tongkat Emas jelas adalah film terbaik Indonesia di tahun ini. Bukan tidak mungkin film garapan Ifa Isfansyah ini akan meraih beberapa penghargaan pada Festival Film Indonesia dan Indonesia Movie Awards tahun depan. Diberkahi dengan aktor-aktris dan kru terbaik di dunia perfilman Indonesia, diperkuat dengan naskah yang filosofis, kemudian dibungkus dengan scoring megah oleh Erwin Gutawa. Meski terkesan terlalu "art-house" lewat banyak bahasa gambar, insert, dan minim dialog, namun film ini ditutup dengan final fight yang sempurna dan akan diingat oleh banyak orang. Semoga saja dengan Pendekar Tongkat Emas yang memakan biaya hingga 25 milliar rupiah ini, genre silat klasik Indonesia akan kembali bangkit lewat terobosan ambisius dari duo Mira Lesmana dan Riri Riza.


Indonesia | 2014 | Action / Drama | 112 mins | Aspect Ratio 2.35 : 1


Rating?
9 dari 10

sobekan tiket bioskop tanggal 12 Desember 2014 -

3 kritik:

  1. Bang, AADC tahun 2001 hehe
    Tapi, reviewnya tetep bagus kayak biasanya! Suka deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iye, kepeleset nih 0 sama 1-nya.

      Thanks yaa udah mampir! :D

      Delete
  2. i like the way you say...Well...she is... Christine Hakim :)

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top