03 December 2014
One kritik

Stand By Me Doraemon

"Kumpulan kisah pendek Doraemon dan Nobita yang dijadikan satu, untuk menjadi kenangan indah bagi semua yang tumbuh besar dengannya"

Nobita, anak SD berumur 10 tahun yang ceroboh dan pemalas tiba-tiba didatangi oleh Sewashi dari abad ke-22, cucu generasi ke-4 dari Nobita. Sewashi menceritakan keluarganya yang menderita di masa depan, dan bermaksud mengubah nasib keluarganya dengan membuat Nobita bahagia. Untuk itu, Sewashi menugaskan Doraemon, robot kucing penjaga, untuk misi membuat Nobita bahagia - kalau tidak berhasil, maka Doraemon tidak dapat kembali ke masa depan.

Rasanya banyak orang di Indonesia tumbuh besar dengan Doraemon. Sejak kemunculan kartunnya di salah satu televisi swasta tahun 90-an - yang masih ada hingga sekarang - publik pun tidak dapat melupakan karakter kartun ini dari kepala. Mulai dari anak-anak, hingga orang tua jaman sekarang rasanya hampir semua mengenal Doraemon. Stand By Me Doraemon adalah film Doraemon pertama dalam format 3D CGI dengan konsep "reboot" yang menggabungkan beberapa cerita pendek terbaiknya yang pernah muncul dalam anime maupun manga.



Film ini konsisten menceritakan tentang persahabatan Doraemon dan Nobita dalam perspektif menceritakan karakter baru kepada orang baru. Dari pertama kali bertemu, berantem, saling membantu, hingga berpisah, semua dirangkum menjadi satu dalam durasi 95 menit film ini. Film ini sangat setia dengan jalan cerita yang pernah dirilis dalam bentuk komik dan kartun, bahkan hingga ke detil dialognya. Ya, termasuk kisah Doraemon pergi meninggalkan Nobita, yang kisahnya diambil dari serial anime berjudul "Doraemon Comes Back" yang pernah dirilis tahun 1998. Dengan kata lain, jika anda ingin mengenalkan karakter Doraemon kepada orang yang sama sekali tidak pernah mendengar tentang robot kucing ini, film Stand By Me Doraemon adalah instrumen yang sangat tepat.

Namun film ini tentu akan bermakna berbeda bagi orang-orang yang tumbuh besar bersama Nobita - walau umur Nobita tetap segitu-segitu saja. Stand By Me Doraemon adalah sebuah mesin waktu ajaib untuk mengenang masa kecil anda, televisi waktu untuk bernostalgia menonton serial kartunnya, dan baling-baling bambu untuk terbang mengarungi lautan emosi saat membaca setiap edisi komiknya. Kita tahu ceritanya, kita mengenal dekat dengan para karakternya, tetapi tetap saja kita akan dibuat tertawa, tersenyum, hingga meneteskan air mata dalam menonton film ini.


Promosi yang menekankan bahwa film ini akan membuat anda bersedih hati dan meneteskan air mata benar-benar tidak dibuat-buat. Roller coaster emosi-nya sungguh nyata terjadi bagi kita yang benar-benar tumbuh besar dengan karakter Doraemon, Nobita, Shizuka, Giant, Suneo, dan Dekisugi. Adegan awal pengenalan karakternya sangat brilian dan efektif. Ekspresi komikal ala kartun dan komik dengan setia ditampilkan dalam film ini. Ketika hati anda telah tersangkut pada setiap adegan, maka dijamin air mata tidak akan terasa untuk menetes di pipi ketika Doraemon mengucapkan selamat tinggal kepada Nobita.

Keputusan untuk membuat kisah Doraemon dalam format 3D CGI adalah keputusan brilian. Hasilnya adalah sebuah visual yang sangat menakjubkan, dengan detil-detil yang luar biasa indah. Proses pembuatan film ini menggunakan benda dan tempat sungguhan sebagai detil latar belakang. Dibungkus dengan scoring yang kuat dengan alunan gitar yang sederhana, namun sangat cocok dengan adegan hingga efektif meningkatkan emosi yang ada pada layar. Akhir kata, Stand By Me Doraemon adalah sebuah film yang timeless, dapat diakses oleh semua orang dari berbagai umur dan kalangan, dan hasil karya seni yang menjadi penanda tersendiri bagi jalan kehidupan orang-orang yang mengenal Doraemon.



Japan | 2014 | Animation | 95 min | Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
10 dari 10










- sobekan voucher bioskop tanggal 3 Desember 2014 -

1 kritik:

  1. Film yang dalem banget nih untuk konsep sentuhan hati nya... suatu film momok yang sampai membuat penontonnya mempunyai suatu konsep hidup seperti "enak yah hidup kalo ada doraemon" dan pada akhirnya di film ini menghapus momok tersebut dengan membuktikan bahwa kita harus berdikari (berusaha dibawah kaki sendiri) atau mandiri. dan disini Nobita membuktikannya dengan memberikan sedikit sentilan motivasi dan usaha yang ia tampilkan. terjawab dan mematahkan mindset kita dengan momok "enaknya punya doraemon".

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top