18 December 2014
0 kritik

Exodus: Gods and Kings

"Visualisasi yang logis dari kisah biblikal tentang Musa"

Berdasarkan kisah Keluaran dari Kitab Suci, film ini bercerita tentang Musa seorang Israel yang dibesarkan dalam lingkungan kerajaan Mesir sementara orang-orang Israel diperbudak. Tumbuh besar bersama Ramses membuat hubungan Musa dan Ramses seakan seperti kakak-beradik. Namun suatu hari Musa diasingkan karena identitas Israelnya terungkap. Di luar tembok istana, Musa melihat lebih jelas penderitaan bangsa Israel. Bersama Tuhan, Musa pun memimpin pemberontakan terhadap Mesir, sampai pada akhirnya membawa 600 ribu orang Israel keluar dari tanah Mesir menuju Kanaan.

Exodus: Gods and Kings menandai film adaptasi biblikal kedua dalam tahun ini oleh Hollywood, setelah Noah (2014) yang batal tayang di Indonesia. Sama-sama dibintangi oleh aktor-aktris dan sutradara papan atas, namun sambutan publik kepada dua film ini sama-sama memberikan mixed reviews. Tanggapan yang paling keras mungkin datang dari pihak-pihak yang memegang teguh Alkitab dan ajaran agamanya. Sementara gue sendiri menyambut dengan gembira film ini.



Film ini bukan adaptasi pertama tentang exodus yang pernah gue tonton, namun jelas merupakan sebuah film dengan visualisasi yang sangat baik tentang 10 tulah yang menimpa bangsa Mesir. Selain itu, berkat film ini gue menjadi lebih paham mengenai konteks bangsa Mesir dan bangsa Israel yang terjajah pada waktu itu. Meski adaptasinya tidak sesetia itu terhadap kitab Keluaran, tapi setidaknya sedikit tergambar bagaimana karakter Musa dan Ramses, serta interaksi diantara keduanya.

Yang sangat gue suka dari film ini adalah, tim penulis naskah (Adam Cooper, Bill Collage, Jeffrey Caine, Steven Zaillian) berani untuk menginterpretasi dengan caranya sendiri dari Kitab Suci. Setiap interpretasinya sangat logis dan masuk akal. Mulai dari terjadinya 5 tulah pertama, surutnya Laut Merah, hingga penulisan 10 Perintah Allah. Mungkin ini semua yang menjadi bulan-bulanan kelompok yang loyal pada ajaran agamanya, namun gue sendiri memuji manuver ini.


Menceritakan kisah tentang ajaibnya kekuatan Tuhan kepada orang banyak jelas tidak bisa 100% penuh dengan mukjizat. Pertama-tama, penjelasan logis dan ilmiah jelas harus ditawarkan. Untuk kemudian, kekuatan Tuhan akan masuk ketika penjelasan sains tidak didapatkan. Kalau memang Laut Merah surut karena tumbukan asteroid di malam sebelumnya, tetapi ada campur tangan Tuhan yang membuat Musa hadir di bibir Laut Merah itu dan tepat pada momen tersebut bukan?

Pada skala yang lebih kecil, Exodus: Gods and Kings dapat dengan tepat dan deskriptif menggambarkan bagaimana sekiranya jika Musa tumbuh dalam keluarga kerajaan. Sudah pasti Ia akan dianggap anak sendiri, dan memiliki hubungan khusus dengan anggota kerajaan, termasuk Ramses si penerus takhta Mesir. Tanpa peduli apakah ini benar terjadi atau tidak, tetapi setidaknya gambaran ini cukup mudah untuk diterima oleh akal sehat.

Diluar akting yang kurang meyakinkan dari Joel Edgerton sebagai Ramses dan minimnya penampilan dari Aaron Paul, film ini tetap nikmat untuk dinikmati. Tidak perlu mengeluh dengan sosok Tuhan yang digambarkan oleh film ini, mengingat Martin Scorsese menggunakan pendekatan yang sama dalam The Last Temptation of Christ (1988). Akhir kata, film ini akan sangat untuk dilewatkan bagi mereka yang merindukan visualisasi bacaan Keluaran yang selalu dibacakan setiap hari Kamis Putih sebagai hari raya orang Katolik.



USA | 2014 | Drama | 150 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 18 Desember 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top