21 June 2013
0 kritik

World War Z

"Kisah investigator PBB yang mencari asal mula virus zombie yang menyebar di seluruh dunia ini adalah paket lengkap untuk pencinta genre zombie"

Ketika virus mematikan yang dapat membunuh seseorang dalam hitungan detik, kemudian menghidupkannya menjadi zombie menyebar luas, tiap kota tiap negara pun berjatuhan dikuasai oleh para zombie yang beringas. Korea Utara merespon dengan mencabut gigi semua rakyatnya, sementara Israel membangun tembok pembatas mengelilingi negaranya. PBB pun memindahkan markasnya ke kapal-kapal perang di tengah laut, harus menugaskan kembali investigator terbaiknya yang telah pensiun. Gerry Lane dan keluarganya dipanggil dan diungsikan ke salah satu kapal perang dengan ijin khusus. Demi istri dan kedua anak perempuannya tidak dikeluarkan dari kapal, Gerry harus bertugas kembali untuk menyelidiki asal mula virus ini berasal dan mencari "patient zero". Penyelidikannya membawa ia terbang ke semenanjung Korea, Israel, hingga Wales untuk mencari jawaban, atau setidaknya kelemahan dari virus mematikan tersebut.

Film yang diadaptasi dari novel karya Max Brooks tahun 2006 ini mungkin adalah paket menu lengkap bagi para pecinta genre zombie. Adegan menegangkan mencoba melewati zombie, ada. Adegan kejar-mengejar dengan zombie, ada. Adegan zombie outbreak di tengah kota yang ramai, ada - dan sangat menegangkan. Hingga adegan zombie yang berlari kencang, bahkan hingga lompat mencoba mencapai helikopter pun ada. Semenjak era zombie di Night of the Living Dead-nya George A. Romero, rasanya kemampuan zombie di World War Z mencapai puncaknya. Tentunya jauh lebih realistik ketimbang zombie CGI di I Am Legend (2007). Realistik plus kemampuan meloncat dan tak takut mati ini yang menambah ketegangan sedemikian rupa, bahkan membuat orang yang berada di balik tembok besar atau gedung tinggi pun harus tetap waspada karena kumpulan zombie ini dapat menumpuk seperti semut!


Gambar diambil dari RottenTomatoes
Yang gue dengar, naskah adaptasi ini cukup melenceng jauh dari novelnya yang lebih ke arah politis. Di tangah para penulis naskah, novel zombie politis Max Brooks disetir sedemikian rupa untuk menjadi sebuah film blockbuster, dengan bintang besar sebagai pemeran utamanya. Sudut pandang yang diambil pun cukup brilian. Bagaimana caranya untuk menceritakan kisah bencana besar dari sudut pandang tingkat mikro seperti keluarga, namun dapat juga melihat sisi makro dengan proporsi yang sama kuatnya? Maka ciptakanlah karakter staf PBB yang memiliki keluarga dan pekerjaan keliing dunia sebagai investigator. Dengan jalan cerita utama untuk mencari "Patient Zero", sensasi penyelidikan dalam film ini pun terasa seakan menonton Contagion (2011) yang mencari virus zombie. Slurps!

Unsur-unsur politis yang terdapat dalam novel pun direduksi menjadi hanya berupa dialog atau bahkan adegan beberapa menit saja, namun tetap kuat untuk mendukung jalan cerita. Pemerintah Korea Utara yang dingin memutuskan untuk mencabut gigi semua warganya untuk mencegah penularan virus melalui gigitan? Cerdas dan getir. Israel yang selama ini butuh seribu tahun namun dalam waktu semalam saja dapat membangun tembok besar mengelilingi negaranya? Brilian.


Meski kemampuan para zombie yang menjadi tolok ukur ketegangan baru, sayang score yang mengiringi film ini menjadi tenggelam begitu saja dan tidak mampu mengikuti kecepatan berlari para zombie haus darah ini. Sepanjang film, score yang ada seperti nyaris tak terdengar hingga gue berharap John Murphy mengisi score film ini dengan score tema 28 Weeks Later (2007).

Namun pada akhirnya, gue keluar bioskop dengan tatapan yang puas, sepuas Gerry Lane yang akhirnya dapat berjalan like a boss melewati zombie-zombie di markas WHO. Film ini jelas menambah daftar film zombie favorit gue.



USA | 2013 | Action / Horror / Thriller | 116 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 21 Juni 2013 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top