10 June 2013
0 kritik

Sang Kyai



"Film perjuangan kemerdekaan dengan cara diplomatis KH Hasyim Ashari yang dieksekusi menjadi film perjuangan yang terlalu melodramatis"


KH Hasyim Ashari adalah kyai besar dan ternama yang memimpin pesantren Tebu Ireng di Jawa Tengah, dan aktif menentang penjajahan bangsa asing dengan jalan diplomatis. Ketika Jepang menjajah Indonesia, sang kyai menentang keras paksaan untuk melakukan "sekerei", atau penghormatan kepada dewa matahari. Selain itu, Kyai Hasyim Ashari menanggapi propaganda pelipatgandaan hasil bumi dan militerisasi pemuda dengan cara yang diplomatis. Bahkan sang kyai mengambil kesempatan militerisasi tersebut sebagai kesempatan untuk membekali para santri dengan kemampuan militer, yang kemudian bisa digunakan untuk membela tanah air.

Semenjak Trilogi Merah Putih, dunia perfilman Indonesia boleh bernafas lega mendapatkan tema baru di bioskop-bioskop lokal; perjuangan kemerdekaan. Namun masih sangat sedikit film-film perjuangan kemerdekaan yang melulu secara fisik. Baru ada Soegija karya Garin Nugroho dan Sang Kyai ini yang menceritakan perjuangan kemerdekaan secara diplomatis. Dicampur dengan unsur religi, praktis kedua film ini memberikan cara pandang yang berbeda, bagaimana gambaran perjuangan kemerdekaan secara diplomatis dari sisi tokoh agama dengan latar belakang agama yang berbeda.


Sang Kyai memang fokus pada perjuangan diplomatis sejak awal film. Mulai dari bagaimana beliau menolak melakukan sekerei hingga propaganda pelipatan hasil bumi. Namun fokus film tersebut bergeser dan kehilangan arah, ketika Laskar Hizbullah digerakkan untuk membantu menghadang Belanda. Dari titik tersebut, pembuat film seakan-akan kembali terjebak untuk harus menghibur penonton dengan adegan aksi berupa tembak-tembakan dan berbagai ledakan yang ada di layar. Sebuah film biopik memang harus diceritakan secara keseluruhan, khususnya pada saat "masa-masa emas"-nya. Meski memang KH Hasyim Asyari akhirnya menggerakkan Laskar Hizbullah untuk membantu perjuangan fisik, tetapi seharusnya sudut pandang terhadap hal tersebut dapat dibuat sedemikian rupa agar konsisten di dalam sebuah film yang ingin menceritakan perjuangan diplomatis

Selain itu, film ini juga terjebak pada pemikiran bahwa untuk mendapatkan simpati penonton maka perlu ada (dan banyak) adegan tangis-menangis. Bagaimana caranya? Menurut film Sang Kyai, buat beberapa karakter untuk mati di tengah atau akhir film. Untuk mempertajam adegan-adegan tersebut, pasanglah score yang mendayu-dayu, atau sedikit disisipkan teknik slow-motion, dan minta para cast-nya untuk menangis sedemikian rupa. Sungguh sebuah cara yang sangat kuno dan terlalu sinetron-ish sekali. Perkembangan karakternya memang sangat baik, dan ketika karakter tersebut harus meninggal pun - tanpa diiringi oleh score melodramatik dan akting tangis berlebihan - rasanya sudah cukup untuk mendapatkan simpatik dari penonton. Apalagi deretan adegan melodramatik ini cukup banyak dan tersebar di seluruh durasi film. Demonstrasi, lalu nangis-nangisan, tembak-menembak, lalu nangis-nangisan, dar-der-dor-BUM, lalu nangis-nangisan lagi. Sungguh sebuah film perjuangan yang kelewat melodramatis menurut hemat saya.



Indonesia | 2013 | Drama / Biographies / History | 136 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
6 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 10 Juni 2013 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top