20 June 2013
One kritik

Cinta Dalam Kardus



"Kisah 21 mantan gebetan dari Miko ini memiliki konsep film yang sangat unik dengan mengeksplorasi ide-ide visual, dibungkus dengan komedi komikal khas Raditya Dika"


Ditengah kejengahannya menjalin hubungan dengan Putri, Miko mencoba sesuatu yang baru di malam minggunya kali ini. Alih-alih rutinitas makan malam bersama dengan pacar, Miko mencoba stand up comedy di salah satu kafe langganannya. Disaat berbagai materi komedi yang disiapkannya gagal mengundang tawa, celetukan-celetukan penonton seputar topik percintaan pun menyentil Miko yang memiliki sederet pengalaman kegagalan cinta. Kardus berisi barang-barang kenangan dari para mantan gebetan yang niatnya dibuang, pun buka suara. Satu persatu, Miko menceritakan setiap barang yang menjustifikasi teorinya bahwa cinta tak akan bertahan lama karena ada sindrom BTB (Berubah Tidak Baik). Sementara para penonton malah mempertanyakan balik teori Miko tersebut, dengan sudut pandang bahwa Miko lah yang tidak berusaha untuk mengerti pasangannya.

Film terbaru karya penulis naskah-beralih-sutradara Salman Aristo ini mengusung konsep yang benar-benar baru, unik, dan segar ke dalam dunia perfilman Indonesia. Berangkat dari extended-universe dari serial pendek Malam Minggu Miko yang telah ditonton ratusan ribu kali di youtubeCinta Dalam Kardus mengusung konsep film sureal dan teatrikal. Bak teater, setiap kali Miko menceritakan kilas balik kisah kegagalan cinta terhadap setiap mantan gebetan, penonton film akan dibawa pada adegan dengan latar belakang set yang terbuat dari kardus. Adegan butik tempat Miko biasa menemani mantan gebetannya, adegan ospek kampus, hingga adegan kantor, semua set dan properti kecil pun terbuat dari kardus. Seakan-akan konsep tersebut menggambarkan bagaimana kenangan Miko terhadap deretan mantan gebetannya telah dibuang di sebuah kardus, bersama barang-barang kenangan dari mereka.


Dengan naskah yang ditulis oleh Salman Aristo dan Raditya Dika sendiri, masih jelas terlihat ciri khas komedi dari Dika yang cukup komikal dan penuh dengan punch line. Setiap lelucon yang dikeluarkan memang mampu mengundang tawa. Namun sayang, kebanyakan adegan dengan punch line yang cukup ampuh, dieksekusi dengan momen "canggung" yang terlalu lama sepersekian detik. Maksudnya memang menampilkan sketsa komedi komikal berakhir canggung, namun kamera dibiarkan terlalu lama menunggu para karakternya yang sedang mengalami awkward moment, yang setiap detiknya malah semakin melunturkan kekuatan punch line tersebut.

Karakter yang dimainkan oleh Raditya Dika masih saja dalam zona nyaman aktingnya; lugu dan selalu menjadi korban dari hubungan asmara. Karakter ini seakan-akan menjadi andalan Dika dalam menggambarkan dunia asmara remaja - menurut sudut pandangnya, tentunya - dimana pria selalu menjadi korban dari perilaku wanita yang kebanyakan suka menuntut, maunya sendiri, dan terkadang bertindak irasional. Hal ini yang kemudian diargumentasi tanpa ampun oleh para penonton kafe, yang berujung pada kesadaran diri dan perdamaian batin pada karakter Miko.


Benang merah yang dibawa film ini memang berupa bagaimana seorang pria beranjak dewasa yang masih menyalahkan cinta atas setiap kemalangan yang menimpanya, untuk kemudian menyadari bahwa dirinya pun harus ikut aktif berpartisipasi dalam bercinta. Tidak semerta-merta mengharapkan cinta apa adanya dari pasangannya, tetapi juga turut bergerak bersama menuju jalan tengah. Jalan yang diambil untuk menarik benang merah ini, termasuk dengan perubahan karakter Miko, adalah berupa sketsa-sketsa memori Miko terhadap pengalaman para mantan gebetannya. Cukup rasional pula bagaimana berbagai pengalaman tersebut membentuk diri Miko sehingga berteori BTB. Namun sayang, sketsa-sketsa memori yang ditampilkan terkesan terlalu banyak sehingga cukup mendistraksi dari benang merah utama tersebut. Mungkin memang tujuannya hanya sebagai intermezzo dan bahan guyonan, namun durasi dan kualitas dari sketsa sampingan yang ada tampak setara dengan sketsa utama, yang malah sedikit menyamarkan garis utama dalam film ini.

Disamping segala kekurangannya, Cinta Dalam Kardus tetaplah menjadi sebuah film unik dan jelas memberikan udara segar bagi perfilman Indonesia, terutama genre komedi.



Indonesia | 2013 | Comedy / Romance | 88 menit | Aspect Ratio 2.35 : 1


Rating?
7 dari 10

sobekan tiket bioskop tertanggal 20 Juli 2013 -

1 kritik:

 
Toggle Footer
Top