08 June 2013
0 kritik

Jurassic Park 3D



"Film yang kembali dirilis dalam format 3D yanghasilnya tidak terlalu dapat diharapkan, tetap memberikan sensasi luar biasa menonton aksi T-Rex dkk di layar lebar"


Dalam rangka ulang tahun 20 tahun, Jurassic Park (1993) dirilis kembali dalam format konversi-3D. Tentunya ini adalah berita gembira, setidaknya bagi saya. Dirilisnya kembali film fenomenal karya Steven Spielberg ini akan menjadi kencan pertama saya dengan film ini di bioskop, walaupun telah menyaksikannya berbelas kali di layar kaca.

Dengan teknologi kloning DNA, John Hammond menyajikan kemajuan teknologi tersebut dalam sebuah taman atraksi yang berisi berbagai spesies dinosaurus yang hidup. Ketika keamanan Jurassic Park dipertanyakan, John Hammond harus mendapatkan pernyataan dari opini eksternal, yaitu Dr. Grant dan Dr. Sattler sebagai ahli arkeologi dinosaurus dan Dr. Malcolm sebagai ahli matematika. John juga mengajak kedua cucunya untuk mengikuti tur pertama Jurassic Park bersama para ahli. Ketika salah seorang staf berniat menyelundupkan embrio dinosaurus keluar pulau dan mematikan sistem keamanan, pagar listrik yang menjaga para dinosaurus pemakan daging tetap di dalam kandang pun mati. Kini tur pertama Jurassic Park menjadi sebuah tur untuk menyelamatkan diri dari T-Rex dan kawanan Velociraptor.


Saya baru berumur di bawah 10 tahun ketika pertama kali menonton film ini, dan saya sangat sangat terhibur. Tidak hanya terhibur oleh setiap adegan aksi dan kejar-mengejar antara spesies manusia-dinosaurus, tetapi juga menerima banyak pelajaran berharga tentang kloning, DNA, dan tentu saja beberapa spesies dinosaurus baik yang herbivora maupun karnivora. Pada umur itu, saya belum tahu bahwa beberapa dinosaurus yang digunakan dalam film tersebut adalah CGI, dan ada pula yang berupa animatronik sehingga tampak benar-benar nyata. Namun yang saya ingat, teknologi menciptakan dinosaurus yang begitu nyata di dalam sebuah film adalah benar-benar teknologi yang cukup mengagumkan di jamannya. Bravo, Mr. Stan Winston!

Pada waktu kali pertama saya menonton Jurassic Park, saya juga sama sekali tidak paham mengenai Chaos Theory yang diutarakan oleh Dr. Malcolm, yang menjadi penggerak utama dalam setiap film-film "animal chaos" dari Mr. Spielberg. Jujur, baru di tanggal 7 Juni 2013 kemarin saya baru paham mengenai teori yang bisa disebut sebagai butterfly effect, yang di demonstrasikan dengan meneteskan setetes air ke atas punggung tangan oleh Dr. Malcolm di satu adegan. Sebuah adegan sederhana yang cerdas untuk menggambarkan kesederhanaan sekaligus kerumitan dari sebuah efek berantai yang tidak pernah dapat diprediksi oleh siapapun.


Menonton film ini di bioskop benar-benar membangkitkan rasa nostalgia saya yang ketika pertama kali menonton Jurassic Park, saya sedang dalam euforia untuk mempelajari dinosaurus beserta setiap spesiesnya. Melihat Triceratops atau Brachiosaurus benar-benar menjadi cinematic-orgasm tersendiri. Apalagi menyaksikannya kembali dalam layar lebar, plus tiga dimensi! Kualitas 3D post-conversion dalam versi re-released ini memang tidak begitu memuaskan, mengingat memang pada awalnya film ini tidak dipersiapkan untuk menggunakan efek depth atau pop-out. Namun pada adegan-adegan tertentu, terutama adegan close-up si T-Rex yang meraung-raung, efek 3D-nya akan memberikan sensasi yang berpuluh kali lipat.




Won - Best Sound Effects Editing - Academy Awards 1994

Won - Best Visual Effects - Academy Awards 1994

Won - Best Sound - Academy Awards 1994
Won - Best Special Effects - BAFTA Awards 1994
Nominated - Best Sound - BAFTA Awards 1994

USA | 1994 | Adventure / Sci-Fi | 127 min | Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 7 Juni 2013 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top