13 November 2012
0 kritik

Jakarta Hati

"Omnibus tentang Jakarta yang mempertanyakan dimana nurani setiap warganya, dari sudut pandang beberapa warganya dari kelas sosial dan ekonomi yang berbeda, yang sayangnya kurang representatif terhadap latarnya sendiri"

Setelah menggambarkan Jakarta yang menuju saat-saat kontemplasinya dalam Jakarta Maghrib (2010), kali ini sutradara dan penulis naskah Salman Aristo melanjutkan ceritanya tentang ibukota dari sudut pandang yang lain dalam Jakarta Hati. Berangkat dari ide cerita mengenai masih adakah hati dan perasaan di tengah kehidupan kota besar yang nyaris menelan makna kehidupan dari para penghuninya sendiri, film ini dibuat dengan konsep yang sama dari pendahulunya. Enam cerita pendek yang berbeda diceritakan dalam total durasi 114 menit ini menyasar para karakter yang berasal dari generasi, kelas ekonomi, dan kelompok masyarakat yang berbeda.

Ada segmen Orang Lain, ketika seorang lelaki paruh baya yang sedang membunuh waktu di sebuah kafe dihampiri oleh seorang perempuan muda yang cantik. Segmen tersebut dibuka dengan percakapan singkat dan menjadi benang merah dari cerita ini; "istri anda selingkuh dengan pacar saya". Sama-sama memendam sakit hati, mereka berdua pun menghabiskan waktu dengan menyusuri Jakarta, untuk kemudian mempertanyakan siapa yang telah menjadi orang lain dalam masing-masing hubungan mereka. Kemudian ada segmen Kabar Baik, dimana seorang polisi muda harus mengurus BAP dari seorang penipu kelas kakap yang ternyata adalah ayahnya sendiri. Dilema pun terjadi ketika urusan profesional bercampur aduk dengan urusan keluarga yang memiliki latar belakang yang pahit. Dalam segmen Masih Ada, seorang anggota DPR yang hendak ke Senayan untuk melakukan transaksi korupsi, harus berhadapan langsung dengan rakyat kecil yang sudah muak dengan politik beserta politisinya. Alasan keluarga memang menjadi akar dibalik transaksi gelap yang merugikan negara tersebut, namun hati nuraninya masih terketuk lewat interaksinya dengan berbagai orang di jalan.

Permasalahan idealisme dengan realita hidup pun turut diangkat dalam segmen Hadiah. Seorang penulis naskah yang sudah dua tahun tidak menghasilkan naskah film layar lebar, dihadapkan dengan realita hidup ketika ia tetap harus menghidupi keluarganya. Dilema muncul ketika ada tawaran pekerjaan, namun yang harus digarap adalah film komedi seks murahan. Bukan film tentang Jakarta jika tidak ada plot perselingkuhan. Dalam satu kamar yang gelap karena pemadaman bergilir, sepasang suami-istri pun berdebat mengenai kehidupan kasur mereka yang hambar dan perselingkuhan yang ada di masing-masing pasangan dalam segmen Dalam Gelap. Film pun ditutup dengan cerita yang cukup ringan, tentang janda keturunan Pakistan dan pemuda keturuan Cina yang dirundung asmara dalam segmen Darling Fatima. Pertengkaran dan perdebatan yang terjadi di tengah sebuah pasar tradisional pun membahana, sehubungan dengan rasa cemburu, hingga keinginan untuk menikah.


Diantara ke-6 segmen cerita ini, favorit saya adalah Dalam Gelap dan Kabar Baik. Ketertarikan saya pada segmen Dalam Gelap adalah pada penempatan kamera statis sepanjang cerita dan makna simbolis yang menyertai selama durasi cerita. Kamera tersebut secara stagnan menyoroti tempat tidur dan pasangan suami-istri yang berada diatasnya. Stagnasi kamera mungkin sebuah simbol bagi stagnannya kehidupan seks dan rumah tangga mereka, ditambah dengan situasi gelap akibat mati lampu. Ketika tidak ada kegiatan pengalih, pasangan ini pun terpaksa harus berinteraksi satu sama lain dan membahas apa yang sedang terjadi diantara mereka. Situasi gelap ini bisa pula mencerminkan kehidupan pernikahan mereka yang sedang berada pada puncak kekelaman, dan mereka berdua pun mempertanyakan dimana hati mereka masing-masing.

Di segmen Kabar Baik, ceritanya memang terlalu fiktif dan cukup jarang ditemui di dunia kriminal, namun bukan tidak mungkin untuk terjadi; seorang polisi yang mengurus perkara dari anggota keluarganya sendiri. Yang menarik adalah bagaimana cara Salman Aristo bertutur, dengan membuka latar belakang dari masalah diantara kedua karakter ini secara perlahan dan rapi. Ketika penonton mulai bertanya-tanya, dialog-dialog dari setiap karakternya pun secara perlahan menjawab pertanyaan tersebut. Selain itu, Andhika Pratama tampil meyakinkan lewat ekspresi dan tatapan matanya, yang memerankan seorang polisi yang harus berhadapan dengan masa lalu buruk dengan ayahnya dan juga seragam yang melekat pada badannya.
Dengan judul Jakarta Hati, Salman Aristo bermaksud memotret kota Jakarta lewat potongan-potongan peristiwa kecil yang terlewatkan di tengah derasnya aktivitas di kota besar ini. Benang merah yang berupa hati atau perasaan yang menjadi keunggulan spesies manusia pun kali ini diangkat. Namun sayang, latar belakang Jakarta yang diambil tampak hanya sebagai setting gambar yang cantik dan artistik. Kecuali segmen Masih Ada, setiap cerita yang ditampilkan praktis tidak memiliki unsur kausalitas terhadap latarnya. Atau bisa dibilang, cerita-cerita tersebut sangat mungkin terjadi di kota-kota besar lainnya di Indonesia. Selain itu, setiap cerita yang ada jauh dari frase "down to earth" dan representatif terhadap sebagian kelompok masyarakat Jakarta. Fiksi-fiksi yang ditampilkan, kecil kemungkinannya untuk terjadi di kehidupan nyata di Jakarta dan terkesan terlalu mengawang-awang. Sehingga sulit bagi penonton untuk menempatkan diri ke dalam adegan yang sedang berlangsung di layar lebar.

Diluar berbagai ide cerita yang terlampau fiktif, penonton masih mendapat referensi lebih mengenai plot yang terjadi. Bahwa kisah asmara antara warga keturunan Pakistan dan Cina dan penulis naskah film yang harus hidup di bawah UMR mungkin saja terjadi di sekitar kita. Lewat film ini, Salman Aristo jelas ingin mengajak para penontonnya untuk berhenti sejenak dari rutinitasnya, untuk melihat dan merenungkan berbagai peristiwa kecil yang sering terlewat dari mata kita. Bahwa di tengah hiruk pikuk kota metropolitan yang menjunjung tinggi materialisme dan logika ini terkadang kehilangan hatinya untuk merasakan setiap emosi yang muncul.



Indonesia | 2012 | Drama / Omnibus | 114 min | Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 13 November 2012 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top