26 November 2012
0 kritik

In A Better World

"Susanne Bier membawakan deskripsi tentang balas dendam dan kekerasan secara logis dan psikologis dalam film Denmark yang sangat menyentuh ini"

Seberapa jauh anda akan bertindak jika seseorang berbuat salah kepada anda? Respon yang paling mudah dan effortless mungkin adalah marah, lalu kemudian membalas orang tersebut. Pembelaan diri menjadi tameng yang paling rasional dalam situasi seperti ini. Namun apakah hal tersebut memang menyelesaikan masalah? Terkadang sebuah pembalasan dendam pun menimbulkan konsekuensi tersendiri. Lingkaran setan kekerasan pun tidak akan pernah berhenti. Kira-kira ini yang ingin diutarakan oleh sutradara dan penulis naskah Susanne Bier dalam film terbarunya, In A Better World.

Dua anak berumur 11 tahun kini bersahabat setelah Christian membela Elias yang suka di-bully oleh teman-teman sekolah yang berbadan jauh lebih besar dari mereka berdua. Pertemanan mereka berdua pun perlahan membuka cerita pada latar belakang keluarga kedua anak ini. Elias berusaha untuk menjalani hidupnya dengan hubungan jarak jauh dengan ayahnya yang melayani di Afrika sebagai dokter. Sementara Christian baru saja kehilangan ibunya karena kanker, dan menyalahkan ayahnya karena menyerah pada kematian ibunya.


Ternyata kesedihan mendalam yang dirasakan oleh Christian berimbas pada perilakunya yang menjadi tidak ingin menyerah dan ingin terus melawan, termasuk melawan siapapun yang mencoba menyakiti dirinya, Elias, dan orang-orang yang dikenalnya. Suatu hari Anton, ayah dari Elias ditampar oleh seorang asing di tempat umum di depan Elias dan Christian. Anton menunjukkan kepada dua anak itu tentang menerima dan memaafkan, sedangkan Christian tidak dapat menerima Anton diperlakukan seperti itu. Tragedi pun terjadi ketika Christian berniat membalas orang asing tersebut, dan mengajak Elias untuk ikut serta.
gambar diambil dari sini
Sementara kembali ke Afrika, Anton dihadapkan pada kenyataan dimana dia diminta mengobat seorang penjahat perang yang menyebabkan kemiskinan dan kelaparan di suatu desa. Sumpah dokter dan jiwa melayani dari Anton memang awalnya jauh lebih kuat sehingga dia menyembuhkan si penjahat perang ini. Namun ketika orang ini membuat Anton mencapai garis batas kesabarannya, prinsipnya yang tidak akan membalas kekerasan dengan kekerasan pun harus diuji.

Film ini sangat deskriptif untuk menjelaskan betapa dunia ini penuh dengan lingkaran setan kekerasan yang tidak pernah berhenti hanya karena satu kait penghubung ini; balas dendam. Judul asli film ini adalah Hævnen yang terjemahannya adalah "The Revenge". Sangat jelas bahwa film ini memang bercerita tentang dinamika balas dendam; bagaimana latar belakangnya, garis logika yang menyertainya, serta akibat yang ditimbulkannya.

Dalam film ini penonton dihadapkan pada dua plot terpisah yang membahas dinamika balas dendam dan kekerasan itu. Pertama, penonton dihadapkan pada tindakan balas dendam dari seorang anak berumur 11 tahun yang mendapatkan banyak pengetahuannya dari internet, termasuk pengetahuan cara membuat bom. Motif balas dendamnya jelas; ingin memberi pelajaran pada orang yang seenaknya menampar Anton di depan umum. Melihat plot ini, penonton dapat dengan mudah merasa ngeri melihat apa yang bisa dilakukan oleh anak 11 tahun yang memiliki pola pikir seperti itu dan pengetahuan yang ia miliki.
gambar diambil dari sini
Kedua, penonton diberikan gambaran pekerjaan Anton di benua Afrika. Sebelumnya memang kepribadian dan prinsip Anton telah tergambar jelas ketika ia berusaha untuk memaafkan orang yang telah menamparnya.  Rasa kasihan dan empatinya pun membuat ia mengobati seorang penjahat perang. Namun ketika penjahat tersebut melakukan kekerasan pada Anton, secara psikologis dan emosional serta didukung oleh orang-orang disekitarnya bahwa orang ini pantas untuk dihukum, Anton pun terseret untuk melakukan juga apa yang Christian lakukan. Di tahap sini, penonton mulai dibuat blur. Dapat dibilang, akan terbagi dua kelompok penonton; yang mendukung reaksi Anton dan yang tidak mendukungnya. Namun mungkin lebih banyak yang mendukung reaksi Anton terhadap penjahat perang tersebut dengan banyak sekali alasan yang dibaliknya. Penjahat itu memang layak dihukum, dan tidak layak untuk disembuhkan karena dia menyebabkan banyak kesulitan pada warga desa. Tapi bagaimana dengan peribahasa yang mengatakan air susu dibalas dengan air tuba?

Sutradara dan penulis naskah asal Denmark Susanne Bier telah sukses menunjukkan kepada penonton filmnya bahwa sangat mudah untuk memilih reaksi marah pada suatu tindakan tidak menyenangkan yang tertuju pada kita. Sementara sangat sulit untuk memilih reaksi menerima dan memaafkan pada hal tersebut.


Won for Best Foreign Language Film of the Year, Academy Awards, 2011.
Won for Best Foreign Language Film, Golden Globes, 2011.

Denmark | 2010 | Drama / Thriller | 119 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
9 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 26 November 2012 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top