30 November 2012
0 kritik

Even the Rain

"Dengan konsep film di dalam film, cerita dalam film asal Spanyol ini membawa penontonnya untuk merefleksikan apakah penjajahan oleh bangsa Barat terhadap negara-negara terbelakang di abad pertengahan sudah benar-benar hilang di era sekarang"

Sutradara asal Spanyol, Sebastian, dan produser eksekutifnya, Costa, sedang berada di kota Cochabamba, Bolivia untuk membuat film terbaru mereka. Dengan budget yang ketat, mereka mencoba membuat film epic yang menceritakan kisah Christopher Columbus di eksplorasi pertamanya menguasai "New World" di Amerika Tengah tahun 1511. Di Cochabamba, mereka dapat menyewa aktor lokal dan figuran dengan upah yang sangat murah, cocok untuk budget ketat mereka. Kesempatan untuk menjadi aktor-aktris lokal ini pun dimanfaatkan dengan baik oleh para warga lokal yang memang rata-rata memiliki kesulitan ekonomi dan mencari penghasilan tambahan. Masalah timbul ketika ada privatisasi air di kota Cochabamba, dan salah satu aktor yang memiliki peran yang cukup signifikan dalam film tersebut adalah aktivis utama dalam demonstrasi besar-besaran di kota tersebut.

Film ini adalah sebuah film dengan skenario cerdas yang menggunakan bentuk film di dalam film. Paruh awal film, penonton diberikan kisah duet sutradara dan produser eksekutif yang berusaha menyelesaikan film mereka dengan waktu yang sesingkat mungkin dan budget yang seminim mungkin ini. Di paruh awal ini pula, penonton tidak sulit untuk membaca karakter dari kedua tokoh utama yang ada dalam film ini. Si sutradara yang idealis dan fokus pada film dan para aktor-aktris yang terlibat di dalamnya, sementara si produser yang bertindak sebagai kepala tim pembuat film yang hanya memikirkan bagaimana untuk menelan pengeluaran seminim mungkin. Di paruh awal ini, penonton juga diberikan penggalan demi penggalan adegan film yang sedang mereka kerjakan. Mulai dari kali pertama Columbus mendarat di pantai Costa Rica, pertemuan pertama rombongan Spanyol dengan penduduk asli yang mereka sebut "Indians" karena mereka menyangka mereka mendarat di India, hingga eksploitasi mereka terhadap penduduk asli untuk mencari emas. Yang menarik adalah bagaimana penggalan-penggalan film ini dikemas dengan berbagai bentuk; mulai dari bentuk latihan tanpa kostum hingga take asli.


Cerita menjadi semakin menarik ketika isu privatisasi air oleh sebuah perusahaan swasta asing di kota Cochabamba menyeruak. Daniel, aktor lokal yang disewa untuk memerankan salah seorang dari penduduk asli yang cukup vokal dan agresif, terlibat dalam demonstrasi massa menentang privatisasi air dan menjadi seorang pimpinan demonstran. Costa sebagai pihak yang menyewa Daniel untuk keperluan syuting film pun mulai melarang Daniel untuk terus terlibat dalam demonstrasi, dengan resiko syuting film tidak akan dapat dilanjutkan dengan alasan continuity jika Daniel dipukuli atau ditangkap oleh polisi. Di paruh film, mungkin penonton digiring untuk merasa seperti apa yang Sebastian dan Costa rasakan ketika Daniel terlibat dalam demonstrasi tersebut; the show must go on! Syuting film harus dilanjutkan karena cerita dalam film tersebut adalah kisah sejarah yang akan membuka mata banyak orang tentang kekejaman bangsa Spanyol dalam menaklukkan yang mereka sebut-sebut sebagai "the New World". Namun ketika Daniel semakin dalam terlibat dalam demonstrasi tersebut, dan unjuk rasa semakin meluas dan mengancam keberlanjutan syuting film, penonton dibuat kehilangan arah bahkan seakan dipecah menjadi dua kelompok besar; kelompok yang mendukung keberlanjutan syuting film dan kelompok yang mendukung aspirasi masyarakat tentang hak mereka akan air gratis.


Di paruh akhir dari film ini, cerita dalam film ini seakan bergeser 180 derajat. Saya sendiri yang memiliki ekspektasi besar untuk melihat hasil akhir dari film yang sedang dibuat oleh Sebastian dan Costa, harus melongo dan siap memutar otak ketika ternyata plot cerita bergeser ke ranah yang memiliki makna yang lebih dalam; sifat dasar manusia untuk memperjuangkan dan mempertahankan mati-matian apa yang telah menjadi hak mereka. Yang membuat skenario ini menjadi tampak cerdas dan brilian adalah bagaimana penulis naskah Paul Laverty (The Wind that Shakes the Barley - 2006, Route Irish - 2010) menempatkan plot syuting film tentang ekplorasi Columbus di Amerika Tengah. Lapisan plot ini digunakan sebagai lapisan lain, atau sebagai plot pembanding dari plot tentang privatisasi air yang terjadi di kota Cochabamba. Bayangkan, 500 tahun lalu Columbus datang dan secara paksa mempekerjakan penduduk lokal untuk mengumpulkan emas, yang secara tidak langsung juga membelenggu kebebasan penduduk lokal. Kini di kota Cochabamba, sebuah perusahaan air asal AS mengklaim dan memasang kenaikan harga sebesar 300% atas air yang tadinya secara bebas mengalir di setiap rumah di Cochabamba.

Ada lapisan lain lagi yang layak untuk direfleksikan. Ada tujuan khusus dari Paul Laverty menempatkan karakter Sebastian dan Costa sebagai tokoh utama dalam film ini, serta Daniel sebagai representatif dari para aktor lokal yang dibayar sangat murah oleh mereka. Yes, Sebastian dan Costa yang datang dari benua lain untuk mencapai tujuan mereka (membuat film) dan (secara paksa) memperkerjakan aktor lokal dengan bayaran sangat rendah. Ketika ada masalah yang mengancam keberlanjutan tujuan awal mereka, Sebastian dan Costa pun secara tidak sadar menggeser cara pandang mereka terhadap film mereka. Awalnya Sebastian yang sangat peduli terhadap para pekerja dan aktor-aktrisnya, menjadi sangat terobsesi untuk menyelesaikan filmnya tanpa memperdulikan hal lain. Sementara Costa yang sibuk untuk menekan budget seminim mungkin dan tidak peduli dengan kesejahteraan para aktor lokal, secara perlahan membangun empati kepada kejadian yang menimpa warga lokal lewat interaksinya terhadap Daniel dan keluarganya. Nah, lapisan ini yang sangat menarik untuk dibahas secara mendetil, untuk dibandingkan dengan plot kisah Columbus dan para Indian.
gambar diambil dari RottenTomatoes
Dalam cerita Columbus yang sedang diarahkan oleh Sebastian, bangsa Spanyol membawa serta para pastor untuk menyebarkan ajaran agama Katolik kepada penduduk lokal yang mereka sebut sebagai "tak ber-Tuhan". Para pastor ini seakan "mengawal" pasukan Spanyol untuk tetap melakukan segala hal menurut ajaran agama Katolik. Niat awal Columbus memang hanya ingin menemukan dunia baru beserta hasil buminya, dan berdagang dengan penduduk lokal. Seperti halnya manusia adalah serigala, Columbus pun menjadi serakah dan semakin terobsesi untuk mengumpulkan emas sebanyak-banyaknya. Setelah melihat penderitaan para penduduk lokal yang diakibatkan oleh pasukan bangsa Spanyol, ada beberapa pastor yang menentang hal tersebut dan kembali kepada ajaran agama untuk memandang semua manusia setara. Pertentangan dan perbedaan cara pandang pun menjadi tidak dapat terelakkan antara Columbus dan pasukannya dengan para pastor. Hal ini yang kemudian terjadi atau "berulang kembali" pada Sebastian dan Costa. Awalnya mereka memiliki "niat baik" yang sama untuk menceritakan kembali kisah Columbus ini, yang kemudian cara pandang mereka berdua menjadi bergeser dan timbul pertentangan diantara mereka. Sebastian yang seakan merepresentasikan tokoh Columbus, dan Costa yang seakan merepresentasikan pendeta yang mengawal sepak terjadi dari Sebastian untuk menyelesaikan filmnya.

Frase kuno "history is repeating itself" menjadi hidup dalam film ini, dengan berbagai lapisan plotnya yang memiliki hubungan pararel antara satu dengan yang lainnya. Tujuan-tujuan utama para pendatang yang tampak datang dalam penuh kedamaian ini memiliki hubungan yang signifikan di setiap lapisan plot; emas, air, atau film. Semuanya adalah sumber kehidupan para penduduk lokal, dan bagaimana pendatang yang datang dari budaya yang lebih maju ini dengan pintar mengeksploitasi para penduduk lokal demi memenuhi tujuan mereka. Tampaknya, kolonialisasi adalah sebuah hal yang tidak dapat dielakkan, dan terus dilakukan tanpa sadar oleh kelompok manusia yang "lebih maju" terhadap kelompok manusia yang "sedang berkembang".


Saya pribadi sangat tertarik pada karakter Daniel, yang diperankan dengan baik oleh aktor asli asal Cochabamba, Juan Carlos Aduviri. Awal terlibatnya dia dalam casting film yang dipimpin oleh Sebastian adalah karena bagaimana dia memprotes keras ketika Costa memutuskan untuk memulangkan banyak orang yang membludak karena iklan casting. Protes keras dari Daniel itu yang membuat Sebastian tertarik dan memasang dia sebagai salah satu tokoh utama Indian yang memprotes kehadiran bangsa Spanyol. Di sisi kehidupan lain, Daniel juga termasuk orang yang memprotes keras kehadiran perusahaan swasta asing yang menaikkan harga air. Protes-protes yang dilakukan Daniel itu adalah seakan instingnya sebagai manusia untuk bertahan hidup. Bertahan hidup untuk mencari nafkah tambahan dengan main film, bertahan hidup untuk pula untuk dapat tetap mengkonsumsi air dengan harga murah. Even the Rain pun ditutup dengan dialog yang sangat menyentuh antara Daniel dengan Costa yang telah memiliki hubungan baik. Pertanyaan "what do you do next?" dilontarkan terhadap masing-masing karakter. Jawaban Costa masih sama dengan tujuan awalnya "will try to finish the movie". Jawaban Daniel pun juga sama dengan karakter Daniel di Cochabamba dan karakter Daniel dalam film garapan Sebastian,
"to survive, as always"



"the memory of oppressed people cannot be taken away and for such people revolt is always an inch below the surface" - Howard Zinn

Spain | 2010 | Drama / History | 120 mins | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
9 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 30 November 2012 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top