26 December 2011
One kritik

Sherlock Holmes: A Game of Shadow

Sekuel, sekuel, dan sekuel. Entah sampai kapan industri perfilman Hollywood akan bosan untuk membuat sekuel untuk film-film box office mereka. Namun selama film-film mereka dapat mengeruk uang sebanyak mungkin, rasanya tradisi sekuel ini akan terus bertahan. Ya, sekuel sih boleh saja asal tetap semenarik atau bahkan meningkat kualitasnya dibandingkan film sebelumnya. Lalu bagaimana dengan petualangan detektif Inggris yang kelewat cerdas dan terlampau eksentrik, Sherlock Holmes? Film orisinilnya yang dirilis tahun 2009 kemarin telah menuai banyak pujian karena sutradara Guy Ritchie mampu menghadirkan jenis baru film detektif yang penuh dengan misteri, plus memvisualisasikan berbagai ciri khas dari Sherlock Holmes ke dalam layar. Kini hadir sekuel kedua yang bermaksud untuk meneruskan film orisinilnya, Sherlock Holmes: A Game of Shadows.

Penyelidikan kejahatan dan konspirasi Sherlock Holmes (Robert Downey Jr.) membawanya ke sebuah nama dengan reputasi yang cukup tinggi; Prof. James Moriarty (Jared Harris). Ternyata kepintaran Holmes akhirnya menemukan tandingannya, yaitu Moriarty yang memang ahli strategi dan pintar untuk menghilangkan jejak dari setiap kejahatannya. Dibantu oleh teman setianya yang telah menikah, Dr. John Watson (Jude Law) dan Sherlock Holmes berusaha untuk mengumpulkan bukti dan menggagalkan rencana jahat Moriarty yang mengancam benua Eropa.

Formula baku sebuah sekuel tetap diusung oleh para pembuat film ini. Untuk menambah keseriusan sebuah kasus, tingkatkan saja daya hancur dari sebuah rencana jahat dan perluas wilayah targetnya. Jika pada film pertama, Lord Blackwood "hanya" mengincar kehancuran Inggris Raya, maka kali ini Prof. James Moriarty ingin menciptakan perang besar di benua Eropa. Selain itu, Prof. James Moriarty juga "diberkahi" oleh intelegensi yang menyaingi kecerdasan seorang Sherlock Holmes. Perencanaan strategi yang matang, serta kemampuan untuk membaca situasi bahkan sampai situasi yang belum terjadi, menjadikan karakter Moriarty sebagai seorang arch-enemy atau musuh seimbang dari Holmes. Plot ini tentunya jauh lebih menarik dan lebih menegangkan dibandingkan film pertamanya. Namun bagaimana dengan eksekusinya?

gambar diambil dari sini
Beruntung sutradara berbakat asal Inggris Guy Ritchie masih tertarik untuk melanjutkan kerjanya menceritakan detektif terkenal dengan kebangsaan yang sama dengannya, kalau tidak entah apa yang akan terjadi dengan franchise Sherlock Holmes. Oh ya, seorang pahlawan fiktif Inggris idealnya diarahkan oleh seorang Inggris sejati. Apalagi memang Ritchie sudah berpengalaman menukangi film-film drama kriminal yang berliku-liku dan penuh misteri seperti Lock, Stock, and Two Smoking Barrels (1998) dan Snatch (2000). Arahannya pada Sherlock Holmes (2009) jelas masih menunjukkan segala macam ciri khas seorang Guy Ritchie, seperti kisahnya yang berliku dan bagaimana penonton diajak untuk turut serta berpikir bersama Holmes. Namun pada film terbarunya kali ini, Ritchie terlihat sangat memanjakan penontonnya, dengan melemparkan semua tanggung jawab untuk berpikir kepada Sherlock Holmes dan membiarkan penonton untuk duduk manis menikmati jalan cerita.

Seperti film pertamanya, dari awal film penonton telah diberitahu siapa musuh utama yang harus dihadapi oleh Sherlock Holmes. Kemudian jalan cerita pun bergerak seiring dengan usaha Holmes untuk mengumpulkan petunjuk dan bukti yang dapat menjerat si tokoh antagonis. Yang mengasyikkan pada film pertama adalah bagaimana Holmes mengajak penontonnya untuk turut bingung serta nyaris putus asa untuk mengungkap kejahatan Lord Blackwood. Formula pada film kedua ini pun sebelas-duabelas dengan film pertama; penonton diberitahu siapa musuh utama di awal film, untuk kemudian bersama-sama mengumpulkan petunjuk dan bukti-bukti melawan Moriarti. Namun Holmes terlalu pintar disini, dan tidak meninggalkan sisa petunjuk bagi penonton untuk ikut berkontribusi menguak konspirasi Moriarty. Minimnya misteri yang tersaji di layar pun menurunkan suspens yang ada dalam film ini. Yang pada akhirnya, penonton hanya pasrah saja pada duet Holmes dan Watson untuk menggagalkan rencana jahat Moriarty. Adu pintar antara Holmes dan Moriarty yang digambarkan dalam film ini memang menarik dan seru, tapi setelah itu adegan tersebut seakan sekedar numpang lewat saja.
gambar diambil dari sini
Namun ada beberapa unsur yang cukup menghibur dalam film ini. Kali ini penonton diperkenalkan dengan Mycroft Holmes, kakak kandung dari Sherlock Holmes. Berbeda dari Sherlock, Mycroft memiliki penampilan yang besar dan terlampau cuek. Namun Mycroft ternyata jauh lebih cerdas daripada Sherlock, namun tidak memiliki niat dan motivasi yang cukup untuk menggunakan kecerdasan tersebut dalam usaha mengungkap kejahatan. Selain itu, ada seorang gipsi Perancis yang mewarnai layar kali ini, meskipun perannya tidak cukup signifikan dalam membantu Holmes dan Watson.

Hiburan positif yang lain adalah bagaimana Guy Ritchie mempertahankan ciri khas editingnya yang sangat menarik. Gabungan antara shot-shot cepat dan super slow-motion yang dijahit dalam satu adegan yang sangat memanjakan mata dan telinga. Setidaknya ada satu adegan yang cukup menegangkan dan unggul di berbagai aspek teknisnya, yaitu kejar-kejaran di hutan yang ada dalam trailer juga. Ya setidaknya adegan tersebut cukup ampuh untuk menutupi berbagai kekurangan dalam film ini. Keasyikan yang lain adalah bagaimana film ini memberikan homage pada film orisinilnya yaitu beberapa adegan yang pararel mirip. Mulai dari bagaimana Holmes memamerkan kemampuannya "membaca" seseorang terhadap wanita dan kemampuan observasi mendetil yang sangat berguna untuk mencari petunjuk baru.
gambar diambil dari sini
Akhir kata, film ini memang masih menghibur dan mengobati kerinduan penonton akan karakter nyentrik dan cerdas dari Sherlock Holmes. Namun jangan terlalu menaruh harapan terlalu tinggi bagi yang mendambakan keasyikan mengupas misteri seperti film pendahulunya.



USA | 2011 | Action/Crime/Mytery | 129 Mins. | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 26 Desember 2011 -

1 kritik:

 
Toggle Footer
Top