12 December 2011
One kritik

Puss in Boots

Semenjak kemunculannya tujuh tahun yang lalu dalam Shrek 2 (2004), karakter kucing yang jago menggunakan pedang dan bersepatu boot ini menjadi salah satu karakter yang cukup membuat para penggemar franchise Shrek tersenyum gemas. Apalagi kalau bukan senjata rahasianya; mata memelas khas kucing yang minta dimanja. Cukup yakin dengan basis fans yang cukup kuat, rumah produksi Dreamworks Animation pun membuat satu film khusus untuk menceritakan latar belakang salah karakter yang tampil di tiga film Shrek itu, Puss in Boots.

Untuk memulihkan nama baik akibat tindakan masa lalunya, Puss in Boots (Antonio Banderas) ingin mencuri kacang ajaib dari duet penjahat Jack & Jill. Namun usaha Puss harus diintervensi oleh kucing yang juga ahli dalam berkelahi, Kitty Softpaws (Salma Hayek), dan membuatnya bertemu kembali dengan sahabat lama - yang sekarang menjadi musuh - Humpty Dumpty (Zach Galifianakis). Dihantui oleh masa lalu kelam dengan Humpty Dumpty, akhirnya Puss memutuskan untuk membantunya mencuri kacang ajaib, pergi ke Istana Raksasa, mengambil telur emas, dan memulihkan nama baik.

Bagaimana Dreamworks Animation memutuskan untuk memfilmkan karakter Puss in Boots membuktikan bahwa karakter dengan archetype pahlawan masih lebih menarik bagi khalayak ramai dibandingkan dengan karakter dengan archetype joker, seperti Donkey atau Ginger Bread. Karena memang archetype hero menjanjikan jalan cerita yang penuh aksi petualangan dan ketegangan tersendiri, dibandingkan archetype non-hero dimana jalan cerita akan cenderung datar dan lebih condong ke drama. Apalagi dalam franchise Shrek, Puss memiliki kedalaman karakter yang menarik untuk digali masa lalunya. Seekor kucing yang cerdik, namun berpihak pada kaum lemah, sekaligus menggemaskan? Setidaknya film dimana Puss menjadi karakter utama ini akan ditonton oleh banyak kaum hawa dan kelompok pencinta kucing.

gambar diambil dari sini
Bagi penggemar karakter Puss, tentunya film ini akan sangat memuaskan dan menghibur. Jalan cerita yang diberikan akan menelanjangi si kucing ini, dalam artian yang sebenarnya. Masa kecil Puss di kota kecil San Ricardo, hingga pertemanannya dengan Humpty Dumpty yang mengubah garis kehidupan Puss selamanya. Kuatnya karakter Puss juga membuat penonton menjadi nyaman dan penasaran untuk mengikuti petualangannya.

Konsekuensi dari penggambaran karakter dengan logat Latino tentu adalah setting latar belakang di sebuah tempat di Amerika Latin. Maka tidak heran jika ada beberapa kata dalam bahasa Spanyol yang dipertahankan dalam film ini demi memperkental suasana Latin; lecce (susu), gato (kucing), diablo (setan). Selain itu, film ini juga cukup tepat dalam menggambarkan sedikit budaya dari Amerika Latin, terutama hubungan antar teman dan keluarga. Dalam film ini jelas terlihat bagaimana peran ibu menjadi sangat signifikan dalam hidup seseorang (dan sesekucing) di Amerika Latin. Apa saja akan dilakukan demi membahagiakan dan tidak mengecewakan sang ibu.

Pembuat film yang kebanyakan terlibat dalam empat franchise Shrek sebelumnya, masih mempertahankan formula yang sama yaitu memparodikan berbagai cerita dongeng ke dalam satu cerita panjang. Karakter Puss in Boots sendiri berasal dari cerita dongeng yang terdapat dalam kumpulan cerita dongeng dan lagu pengantar tidur, Mother Goose. Berikut pula tokoh antagonis dalam film ini, Jack dan Jill dan juga teman lama Puss, Humpty Dumpty yang juga merupakan karakter dalam lagu pengantar tidur dalam Mother Goose. Film ini pun memberikan homage kepada Mother Goose dengan memunculkan karakter Mother Goose dalam artian yang sebenarnya. Nah karakter-karakter ini kemudian dipersatukan dalam sebuah cerita petualangan dengan pondasi kisah dongeng kacang ajaib yang akan tumbuh menjadi pohon besar yang mencapai suatu istana diatas awan, dimana ada seekor angsa yang bisa bertelur emas.
gambar diambil dari sini
Yang menarik adalah visualisasi dari tokoh-tokoh dongeng ini adalah bagaimana para pembuat film sangat bebas membuat interpretasinya sendiri. Konsekuensinya tentu saja citra diri yang cukup jauh dari citra asalnya di kisah dongeng dan lagu pengantar tidur di awal mula. Karakter Puss in Boots mungkin masih pararel dengan kisah dongengnya, yaitu seekor kucing yang cerdik dan senang membantu orang yang lemah, walaupun pada dongeng aslinya Puss adalah seekor kucing asal Perancis - bukan dari Amerika Latin. Namun kasihan bagi karakter Humpty Dumpty dan Jack & Jill yang sifat karakternya diputarbalikkan oleh film ini. Dengan karakterisasi dan akting suara yang baik, penonton akan dengan mudah untuk menaruh sebal pada mereka.

Selain parade campur sari dunia dongeng, film ini juga menyajikan karakter-karakter baru yang tak kalah menarik. Ada si kucing pencopet bercakar ringan Kitty Softpaws yang menjadi love interest dari Puss. Namun tidak ada yang spesial dengan kehadiran karakter ini, yang terkesan hanya mempercantik kisah petualangan yang dipenuhi oleh hormon testosteron ini. Mungkin yang banyak mencuri perhatian penonton adalah karakter Ohhh Cat yang mampu mengundang gelak tawa pada screen time-nya yang tidak lebih dari tiga detik. Ya, rasanya hanya karakter ini yang mampu memberikan humor yang orisinil.

Film yang merupakan spin off dari franchise Shrek ini jelas tidak dapat dibandingkan dengan film Shrek (2001). Yang menyentuh hati para penonton Shrek adalah kisah cinta yang tidak biasa antara ogre dengan manusia (yang ternyata ogre juga), dibalut dengan humor campuran dari berbagai dongeng, dan dibungkus dengan soundtrack yang pop. Unsur-unsur ini yang tidak ada dalam Puss in Boots; kisah petualangan yang formulatif dimana unsur romansanya hanya tempelan belaka, humor yang berusaha terlalu keras untuk menjadi lucu, dan scoring yang orkestral dan instrumental - meskipun menggunakan gaya Latin. Tidak heran jika maksud awal Dreamworks Animation membuat film ini adalah sebagai tontonan rumah dalam bentuk DVD saja. Namun dengan kedalaman karakter yang ada, tepatnya situasi kultural Amerika Latin, dan cerita petualangan yang seru dan penuh dengan tipu daya, film ini tetap menjadi sebuah tontonan yang menghibur.



USA | 2011 | Animation/Adventure/Comedy/Fantasy | 90 Mins | Aspect Ratio 2.35 : 1

Nominated for Best Animated Feature, Washington DC Area Film Critics Association Awards, 2011.

Rating?
7 dari 10

sobekan tiket bioskop tertanggal 12 Desember 2011 -

1 kritik:

  1. Lumayan menghibur tapi kayaknya franchise Shrek udah nggak perlu diterusin lagi deh

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top