07 December 2011
2 kritik

The Adventures of Tintin

Siapa yang tidak kenal Tintin? Tokoh komik rekaan komikus asal Belgia, Herge, ini langsung tenar ketika pertama kali diciptakan tahun 1929 dengan gaya gambar ligne claire (clear line). Kisah-kisah petualangan seorang reporter muda berjambul asal Belgia yang menyelipkan referensi-referensi satir terhadap situasi politik dan budaya di Eropa pada saat itu, membuat komik ini begitu disukai di berbagai negara di Eropa. Setelah mendapatkan hak untuk mengadaptasinya ke dalam layar lebar pada tahun 1983, Steven Spielberg harus menunggu 25 tahun agar kecintaannya terhadap Tintin dan Snowy dapat terwujud dalam layar lebar. Menggandeng Peter Jackson untuk mendukung animasi motion capture dalam film ini dengan perusahaannya Weta Digital, Spielberg untuk menyutradarai film animasi pertama dalam karirnya, The Adventures of Tintin.

Kisah petualangan Tintin (Jamie Bell) dimulai ketika kapal model Unicorn yang baru saja dibelinya dicuri oleh seseorang. Pertemuannya dengan Ivanovich Sakharine (Daniel Craig) membuat Tintin mempelajari bahwa setiap tiruan asli kapal model Unicorn yang legendaris menyimpan suatu rahasia, yang berhubungan dengan misteri karamnya kapal tersebut beberapa abad yang lalu. Investigasi demi artikel berita membuat Tintin bertemu dengan Kapten Haddock (Andy Serkis) yang ternyata keturunan terakhir dari kapten kapal Unicorn yang selamat. Tintin, Haddock, dan Snowy pun harus bekerja sama untuk mengungkap misteri kapal Unicorn dan mengapa Sakharine bisa terlibat di dalamnya.

Inilah hasilnya jika seorang sutradara legendaris yang mengubah wajah Hollywood bekerja sama dengan ahli animasi motion capture yang memborong piala Oscar lewat trilogi Lord of the Rings. Dipadukan dengan tokoh komik klasik yang fenomenal pada akhir abad ke-20, akan membuat para pencinta reporter berjambul ini bernostalgia, sekaligus mewariskan kisah petualangan ini ke generasi berikutnya. Dengan cerita yang seru dan asyik, didukung dengan visual animasi yang mengagumkan, proyek pertama dari petualangan Tintin yang telah disiapkan ini akan menghibur penonton dari berbagai generasi.

gambar diambil dari sini
Cerita yang ada dalam film ini diadaptasi dari tiga buku komik yang berbeda; The Crab with the Golden Claws (1941) dimana Tintin pertama kali berjumpa dengan Kapten Haddock, The Secret of the Unicorn (1943) dimana Tintin menemukan misteri dari kapal legendaris yang karam, dan kemudian kisah tersebut berlanjut dalam komik sekuelnya, Red Rackham's Treasure (1944). Kombinasi ini merupakan hal yang cerdas untuk memperlihatkan kepada penonton generasi baru, bagaimana cerita awal Tintin bertemu dengan teman seperjuangannya, Kapten Haddock, sebagai pondasi untuk menuju petualangan mereka menguak misteri kapal Unicorn dan harta karun Red Rackham. Semua ini berkat skenario adaptasi yang awalnya ditulis oleh Steven Moffat, untuk kemudian disempurnakan oleh dua sekawan sutradara/penulis skenario asal Inggris; Edgar Wright (Hot Fuzz, Shaun of the Dead) dan Joe Cornish (Attack the Block).

Rapinya kesinambungan antar cerita yang diadaptasi dari tiga buku seri komik yang berbeda menjadi keunggulan utama dalam film ini. Pertama-tama, penonton awam diajak untuk berkenalan dengan siapa Tintin dengan mengunjungi rumah dan dinding ruang kerjanya dipenuhi oleh bingkai-bingkai berisi artikel hasil investigasi dan petualangan Tintin sebelumnya. Lalu penonton diajak berkenalan dengan Snowy yang pintar dan menggemaskan, detektif kembar yang kocak Thompson & Thomson, kemudian dengan kapten kapal yang ceroboh dan arogan yang menjadi titik gravitasi dalam film ini, kapten Haddock.
gambar diambil dari sini
Spielberg sangat setia dalam mentransfer segala macam ciri khas Herge dalam komiknya ke dalam versi layar lebar. Humor slapstick yang menjadi ciri khas humor dalam komiknya, tetap menjadi cara utama untuk membuat penonton (muda) tersenyum, atau bahkan tertawa. Snowy (atau Milou dalam komik terjemahan bahasa Perancis), anjing peliharaan Tintin yang berperan cukup signifikan dalam petualangan Tintin, dan beberapa kali menyelamatkan nyawanya, juga mewarnai kisah yang tergambar di layar lebar. Belum lagi dengan serunya petualangan Tintin dalam membongkar setiap rahasia dan misteri, serta menghindari marabahaya yang dibuat musuh untuk menghentikannya. Mengenai petualangan mencari harta karun, rasanya  hanya Spielberg yang mampu membuat kisah tersebut menjadi sebuah film yang sangat menarik - setidaknya itulah pendapat Herge sehingga beliau memberikan hak adaptasinya kepada Spielberg. Hal tersebut juga terlihat dari bagaimana sebuah ulasan membandingkan secara signifikan antara Raiders of the Lost Ark (1981) dengan kisah petualangan Tintin dalam komik-komiknya.

Menonton film animasi ini, bagaikan sebuah pengalaman membaca komik Tintin dengan gambar yang lebih modern dan bisa bergerak, serta memiliki suara dalam dialog dan latar belakang musiknya. Tidak tanggung-tanggung, setiap karakter penting dalam film ini diisi suaranya oleh aktor-aktor Inggris papan atas. Dengan akting suara yang meyakinkan, Jamie Bell-Daniel Craig-Andy Serkis serta dua sekawan Simon Pegg-Nick Frost benar-benar menghidupkan setiap karakter yang diperankannya, dan memuaskan imajinasi para pencinta serial komiknya. Belum lagi dengan aransemen musik klasik karya John Williams yang - pastinya - digandeng oleh Spielberg dalam film ini.
gambar diambil dari sini
Animasi visual dalam film ini menjadi keunggulan utama. Sebuah keputusan yang bagus dari produser Peter Jackson, dimana tadinya Spielberg ingin membuat film ini dalam bentuk live action. Ternyata lewat animasi, Spielberg malah bisa jauh bereksplorasi dengan berbagai imajinasi dan adegan aksi yang ada. Setiap adegan aksi memang seakan tidak mungkin terjadi dalam dunia nyata, tapi hey, ini adalah film animasi. Yang mengagumkan adalah bagaimana pembuat film membuat animasi tersendiri untuk setiap perpindahan adegan. Shot dua tangan yang sedang berjabat tangan kemudian lambat laun berubah menjadi gurun pasir, adalah salah satu contoh imajinasi cerdas yang divisualisasikan dengan baik. Detilnya animasi yang ada, bahkan sampai lapisan kulit dari Tintin, merupakan sebuah peningkatan yang signifikan dalam sejarah motion-capture animation, setidaknya semenjak The Polar Express (2004) dan Beowulf (2007). Semua pihak memang pantas berterima kasih pada Weta Digital, yang bertanggung jawab atas efek visual dalam film-film seperti trilogi Lord of the Rings, King Kong (2005), Avatar (2009), dan Rise of the Planet of the Apes (2011).

Bagi penggemar sejati Tintin, Spielberg memberikan sebuah kejutan untuk mereka melalui sebuah homage singkat terhadap hasil gambar Herge di awal film. Bagi penggemar sejati Spielberg, beliau juga cukup iseng menyelipkan satu adegan yang memiliki referensi terhadap film Jaws (1975). Sedangkan bagi penggemar Indiana Jones, pakailah topi dan siapkan pecut masing-masing untuk menyaksikan petualangan Indy yang berbentuk animasi seorang reporter muda berjambul ini.

 

USA/New Zealand | 2011 | Animation/Action/Adventure/Family | 107 mins. | Aspect Ratio 2.35 : 1

Nominated for Best Adapted Screenplay (Steven Moffat, Joe Cornish, Edgar Wright), Satellite Awards, 2011. Nominated for Best Animated Feature, Washington DC Area Film Critics Association Awards, 2011.

Rating?
8 dari 10

 -sobekan tiket bioskop tertanggal 7 Desember 2011-

2 kritik:

  1. kalo elo perhatiin dgn seksama, di ending credit bagian animator, ada terselip sebuah nama indonesia, yang kebetulan seorang indo yg kerja di weta digital, yang kalo di indo rumahnya di kelapa gading! :)

    ReplyDelete
  2. namanya Sindharmawan Bachtiar kah? http://www.imdb.com/name/nm2858348/ lo kenal ya??

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top