20 December 2011
0 kritik

Machine Gun Preacher

Seberapa tinggi jiwa sosial yang harus dimiliki untuk menolong anak-anak yatim piatu di Afrika? Setinggi mungkin bahkan sampai rela mengesampingkan tanggung jawab sebagai kepala keluarga? Mari berkenalan dengan Sam Childers, seorang mantan pengguna narkoba yang kini mengabdi untuk menyelamatkan sebanyak mungkin anak-anak Sudan. Kisah hidupnya kini telah diadaptasi dalam bentuk film oleh penulis naskah debutan Jason Keller dan disutradarai oleh Marc Foster (Finding Neverland, Quantum of Solace) dalam Machine Gun Preacher.

Sam Childers memiliki masa lalu yang cukup kelam; anggota geng motor besar, pemabuk, pengguna narkoba, sampai pernah membunuh gelandangan. Namun semua itu berubah ketika dia dibaptis di sebuah gereja dan bertobat kepada Tuhan. Terinspirasi oleh pastor dan tayangan televisi, dia pun pergi ke Sudan untuk membantu apapun yang dibutuhkan disana. Namun pengalaman selama beberapa minggu di Sudan ternyata sangat menyentuh hatinya, terutama ketika melihat fakta bahwa anak-anak yang kehilangan orang tua dipaksa untuk menjadi tentara. Hatinya yang tergerak untuk membantu anak-anak di Afrika ternyata malah membuat Sam menjadi terobsesi. Obsesi inilah yang membuat posisi Sam sebagai ayah dari istri dan satu anak perempuan menjadi goyah.

Film ini sebenarnya adalah sebuah film yang sangat inspiratif. Meninggalkan "dosa-dosa" masa lalu, menemukan Tuhan, kemudian membantu anak-anak terlantar di Afrika. Too good to be true, tapi ini terjadi dalam kehidupan nyata pada seorang Sam Childers yang asli - walaupun dalam film ini dibubuhi banyak detil yang didramatisasi. Tidak ada yang lebih mulia dibandingkan dengan menjual bisnis demi membeli sebuah truk tambahan untuk dapat mengangkut anak-anak yang lebih banyak di Sudan. Namun apakah demi tujuan mulia tersebut, peran sebagai kepala keluarga harus ditinggalkan? Itulah yang ingin digali dan digambarkan oleh film ini.

gambar diambil dari sini
Entah bagaimana yang dialami oleh Sam Childers yang asli, namun Gerard Butler membuat karakter Sam dalam film ini terlihat sebagai seseorang yang terlalu terobsesi dalam kerja sosial dan memiliki kecenderungan Post-traumatic Stress Disorder. Pulang pergi dari Amerika ke Sudan dan terekspos oleh perbedaan material dan budaya yang ekstrim dari dua negara tersebut mengubah Sam perlahan-lahan. Hal-hal material dan duniawi menjadi tidak penting lagi bagi hidup Sam, dan hal ini menjadi sebuah kejutan tersendiri bagi anak dan istrinya. Kepentingan-kepentingan keluarga mulai dikesampingkan demi memprioritaskan hidup dan nyawa anak-anak Sudah yang ia selamatkan.

Kontroversi pribadi Sam Childers yang berubah sama sekali tidak hanya berhenti disitu. Traumanya melihat anak-anak yang meninggal dengan cara yang mengerikan secara perlahan membuat dia menjadi seorang pemburu bayaran. Ya, memburu dan membunuh tentara-tentara pemberontak Lord's Resistance Army (LRA) yang menculik anak-anak untuk menyelamatkan anak-anak tersebut. Tujuannya, sekali lagi, sangat mulia; tinggal di panti asuhan jauh lebih baik dibandingkan memegang senjata dan membunuh orang bagi anak-anak yatim piatu tersebut. Tapi melawan kekerasan dengan kekerasan? Melawan peluru dengan peluru? Mengingat profesi Sam sebagai seorang pendeta di negara asalnya membuat tindakan Sam di Sudan menjadi ironis. Tidak heran jika dia mendapat julukan "Machine Gun Preacher" oleh jemaat dan media di Amerika. Beberapa orang mungkin tidak setuju dengan bagaimana cara Sam menyelamatkan anak-anak tersebut, karena peluru tidak akan memuluskan jalan perdamaian. Tapi alasan Sam yang diungkapkan pada shot dokumentasi di ending credit title cukup logis; jika dia bisa membawa pulang hidup-hidup anak anda yang diculik, "bagaimana caranya" apakah menjadi hal yang penting bagi anda?
gambar diambil dari sini
Film memang menjadi alat yang ampuh untuk menyebarkan tindakan mulia dari seorang Sam Childers. Penonton dapat melihat dan mendapat gambaran jelas mengenai seperti apa keadaan di Afrika sana. Namun apakah film adaptasi ini adalah satu-satunya pilihan untuk menceritakan kisah heroik tersebut? Apalagi jalan hidup Sam yang berliku dan penuh dengan perubahan psikologis yang cukup signifikan. Sayangnya, gaya penceritaan dari sutradara Marc Foster tidak mampu untuk membuat perubahan tersebut menjadi mulus. Pada seperempat awal film, Marc terlihat terburu-buru untuk membuat Marc cepat-cepat "bertobat". Namun sisanya, terlihat bagaimana Marc ingin fokus pada dinamika kehidupan Sam antara Amerika dan Sudan. Padahal, proses bertobatnya Sam adalah tiang pondasi terkuat yang akan mengarahkan kemana jalan hidup Sam.

Titik balik kehidupan Sam yang kurang digambarkan dengan baik ini ternyata memiliki implikasi terhadap kedalaman karakter di jalan cerita selanjutnya. Penonton menjadi seakan diceramahi dan disuapi oleh setiap tindakan gagah berani, rela berkorban, dan heroik dari seorang Sam Childers yang mempertaruhkan nyawa di Sudan. Tapi penonton tidak mengetahui secara utuh apa alasan dan motivasi Sam sehingga dia mau mempertaruhkan nyawa dan mengesampingkan keluarganya demi anak-anak Sudan. Hal ini malah menjadikan citra diri Sam sebagai seorang pemburu bayaran yang menyelamatkan anak-anak. Sebagian penonton mungkin akan memberi maklum, bahkan pujian, pada Sam. Namun ada sebagian penonton yang tidak habis pikir, bahkan cenderung tidak setuju dengan cara Sam menyelamatkan anak-anak tersebut.
gambar diambil dari sini
Belum lagi bagaimana film ini akan membuat penonton yang non-kristiani akan sedikit terganggu oleh banyaknya khotbah yang ada dalam film ini. Mungkin pula penonton kristiani akan merasa risih oleh khotbah-khotbah Sam yang berapi-api namun sedikit mengundang kontroversial di beberapa bagian. Namun diluar itu, film ini akan sangat membuka cakrawala pandang tentang apa yang sedang terjadi di negara-negara Afrika bagian tengah, khususnya Sudan dan Uganda. Pembantaian keji, pemerkosaan, pembunuhan, penculikan, dan hal-hal mengerikan lainnya yang tidak terpikir bisa terjadi pada seorang manusia.

Akhir kata, film ini mungkin terlalu banyak berkhotbah tentang agama dan Tuhan, tetapi film ini cukup memenuhi tujuan awalnya; untuk memberitakan tentang tindakan mulia seorang Sam Childers di Afrika. Yang sebenarnya mungkin saja jenis dokumenter akan lebih tepat untuk mendokumentasikan Sam Childers.



USA | 2011 | Drama/Action/Crime/War/Biography | 129 Mins. | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

-sobekan tiket bioskop tertanggal 19 Desember 2011-

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top