21 December 2011
2 kritik

Mission: Impossible - Ghost Protocol

Lima belas tahun semenjak serial televisi Mission: Impossible diadaptasi ke layar lebar dan lima tahun semenjak franchise ketiga layar lebarnya dirilis, Agen Ethan Hunt kembali untuk menuntaskan misinya. Terhitung empat sutradara yang berbeda menyutradarai keempat instalmen dari kisah petualangan agen Ethan Hunt. Mulai dari Brian De Palma - Mission: Impossible (1996), John Woo - Mission: Impossible II (2000), J. J. Abrams - Mission: Impossible III (2006), dan kini Brad Bird yang akan memegang kendali instalmen keempat dan terbaru ini; Mission: Impossible - Ghost Protocol.

Gedung Kremlin di Moscow meledak, Ethan Hunt yang kebetulan berada di lokasi pun disalahkan. Pemerintah Amerika menjadi kambing hitam, organisasi rahasia IMF pun disangkal. Ternyata ada teroris yang memiliki kode rahasia peluncuran nuklir dari Rusia yang ingin menyerang Amerika. Presiden AS pun dengan sangat terpaksa menyatakan operasi "Ghost Protocol"; keberadaan IMF tidak diakui, tidak ada bantuan dalam bentuk apapun, namun Ethan Hunt dan kawan-kawan harus menghentikan teroris tersebut sebelum misil nuklir diluncurkan.

Plot kebaikan melawan kejahatan yang ditawarkan instalmen M:I terbaru ini memang sangat sering diangkat oleh film-film aksi lainnya; menghentikan peluncuran nuklir sebelum terlambat. Plot yang merupakan "lagu lama" ini memiliki konsekuensi terhadap kenikmatan penonton dalam menunggu hasil akhir yang pastinya akan 11-12 dengan film lainnya yang memiliki plot yang sama. Plot lama ini pun hanya dimodifikasi sedemikian rupa dengan konsep "last seconds". Diluar hal-hal lama tersebut, berbagai unsur baru dalam film ini cukup mendongkrak kenikmatan menonton. Mulai dari berbagai adegan aksi yang ada, alat-alat teknologi canggih yang belum pernah terpikirkan sebelumnya (setidaknya di seperempat awal film), sampai dengan unsur komedi yang cukup kena.

gambar diambil dari sini
Plot tentang peluncuran nuklir memang lagu lama, tetapi M:I menyuguhkan cara baru untuk menuntaskan misi tersebut; sebuah misi dengan alat-alat yang konvensional (baca: tidak canggih). Keberadaan IMF disangkal oleh pemerintah, hal ini membuat Ethan dan kawan-kawan hanya bisa menggunakan alat-alat yang ada di lapangan saat itu juga. Maaf bagi para pencinta alat-alat canggih, tapi ini adalah kali pertama bagi Ethan Hunt dkk melakukan penyamaran tanpa mesin pencetak wajah samaran milik IMF yang terkenal itu. Komunikasi lewat walkie-talkie yang terbatas jaraknya, dan alat pelacak yang juga terbatas kemampuannya. Tetapi bukan berarti film ini tanpa alat-alat spionase canggih sama sekali, penonton masih dihibur oleh berbagai alat menarik yang muncul di awal film.

Kekuatan utama dari franchise M:I di layar lebar memang adalah setiap adegan aksi yang cukup gila. Nilai plus dari semua itu adalah bagaimana Tom Cruise bersedia melakukan setiap adegan aksi tersebut tanpa bantuan dari stunt. Oh ya, termasuk bagaimana Ethan Hunt yang memanjat gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa. Tanpa bantuan tali pengaman (setidaknya seperti apa yang terlihat di layar), adegan ini cukup membuat adrenalin mengalir deras - tidak heran jika shot adegan ini menjadi produk utama sebagai media promosi.
gambar diambil dari sini
Tidak hanya adegan aksi, instalmen keempat M:I ini masih mempertahankan beberapa ciri khasnya. Self-destruct instrument yang memberikan instruksi misi, yang kemudian diekstensikan sampai ke telepon umum bahkan manusia. Belum lagi, Michael Giacchino melakukan tugasnya dengan sangat-sangat baik dengan mengaransemen ulang lagu tema M:I karya Lalo Schifrin menjadi lebih bergaya. Giacchino juga mengangkat tensi adegan dengan scoring yang tetap menggunakan sedikit sample dari lagu tema tersebut.

Pembuat film dan penonton perlu berterima kasih atas Simon Pegg, yang dalam film ini diberi kepercayaan lebih untuk turun ke lapangan dan diberikan porsi yang lebih banyak atas karakternya, Benji. Karena lewat Pegg, film aksi serius khas M:I menjadi sangat berwarna dengan setiap lelucon dan kekocakan yang ditampilkannya. Ya, praktis semua humor yang ada dalam film ini dihasilkan oleh karakter Benji yang memang kocak. Memang inilah saatnya karakter Benji diberikan porsi lebih di film-film aksi "serius" demi membuat jalan cerita menjadi lebih ringan.
gambar diambil dari sini
Selain Simon Pegg, ada satu karakter baru yang diperkenalkan kepada penonton; Agen Brandt yang diperankan dengan sangat baik oleh aktor laga yang sedang naik daun Jeremy Renner. Tampilnya karakter Brandt di sisi Ethan Hunt tentunya adalah sebuah kekuatan tambahan baru di sisi IMF yang khas dengan agen-agen lapangan yang jago berkelahi dengan tangan kosong. Dengan perkenalan karakter yang cukup kuat dari Brandt, dan berbagai adegan aksi yang dilakukannya, seperti pembuat film ingin mempersiapkan skenario dimana Brandt akan menggantikan peran vital Hunt dalam franchise M:I berikutnya. Salah satu bukti kuatnya adalah bagaimana kali ini Brandt - bukan lagi Ethan Hunt - yang mengeksekusi adegan aksi khas dari franchise M:I dimana si karakter protagonis harus terjun dari ketinggian tertentu dan harus "melayang" beberapa sentimeter dari permukaan tanah.

Sedikit kelemahan dari film ini adalah bagaimana sosok antagonis yang ditampilkan memiliki gambaran karakter yang cukup lemah jika dibandingkan dengan peran-peran antagonis dari ketiga instalmen M:I sebelumnya. Karakter antagonis dari instalmen M:I sebelumnya memiliki hubungan personal yang signifikan dengan Ethan Hunt, sehingga menjadikan drama yang tersaji menjadi lebih tergali. Lihat saja bagaimana Jim Phelps (Jon Voight) yang seorang mentor bagi Ethan Hunt tiba-tiba berkhianat padanya, lalu Sean Ambrose (Dougray Scott) yang mantan agen IMF dan juga membahayakan nyawa love-interest dari Ethan, lalu ada bad-ass Owen Davian (Philip Seymour Hoffman) yang tidak hanya kuat secara fisik namun juga psikotik dan sadistic yang menculik pacar dari Ethan. Namun kini, ada Hendricks (Michael Nyqvist) seorang teroris Rusia yang tidak memiliki hubungan signifikan dengan Ethan. Hal tersebut memang ditutupi oleh rencana jahat Hendricks yang ingin membuat dunia terjebak dalam perang nuklir, namun porsi peran antagonis serta kedalaman karakternya menjadi dikesampingkan dalam film ini.
gambar diambil dari sini
Hal lain yang menutupi tidak begitu diangkatnya peran antagonis ke permukaan adalah bagaimana pembuat film fokus pada sub-plot dari setiap anggota dari tim Ethan Hunt kali ini. Masa lalu dari Brandt, dendam Jane   (Paula Patton) atas terbunuhnya pacarnya, dan naik pangkatnya Benji. Semua sub-plot ini hadir dalam porsi yang cukup dan merata. Setidaknya cukup untuk membuat penonton jatuh hati pada setiap karakter jagoan yang ada dalam film ini. Jika M:I 5 mampu menghadirkan sub-plot karakter plus kedalaman karakter dari peran antagonis, maka bukan tidak mungkin film tersebut akan jauh lebih baik.

Keberhasilan film ini tentunya tidak lepas dari peran sutradara dan penulis naskah, yang sama-sama melakukan debut masing-masing dalam film ini. Penulis naskah Josh Appelbaum yang biasa menulis naskah serial televisi dan Brad Bird yang baru kali ini menyutradari film live-action setelah sebelumnya menyutradarai film-film Pixar seperti The Incredibles (2004) dan Ratatouille (2007). Brad Bird sendiri terbukti sangat baik untuk menyutradarai film sekelas franchise M:I yang telah memiliki basis fans tersendiri. Jelas perpaduan antara sutradara yang biasa menangani film animasi-komedi dengan aktor komikal Simon Pegg menjadi kombinasi yang pas untuk menambahkan unsur komedi dalam serial M:I. Namun Brad Bird juga terbukti sukses untuk meningkatkan kualitas franchise M:I dimana instalmen kedua dan ketiganya kurang disukai oleh penonton. Kini di tangah Brad Bird, franchise M:I memiliki masa depan yang cerah. Apalagi melihat kemungkinan bagaimana Agent Brandt akan menjadi tokoh utama dalam serial M:I selanjutnya. Yeay!

Akhir kata, film ini jelas sangat menghibur baik dari segi aksi sampai ke segi drama. Rasanya tidak berlebihan jika film ini disebut sebagai installment yang terbaik di franchise layar lebar M:I.



USA | 2011 | Action/Adventure/Thriller | 133 Mins. | Aspect Ratio 1.44 : 1

Rating?
8 dari 10

sobekan tiket bioskop tertanggal 21 Desember 2011 -

2 kritik:

  1. kaget gue mo begitu liat nama "michael giacchino". doi kan biasa bikin lagu2 lucu macem up, ratatouille. tapi doi bisa bikin lagunye yoi bgt buat film ini. salut gue.

    ReplyDelete
  2. Gw suka sama scoring dan alur penceritaan di film ini. Review lu udah merangkum semua yang ingin gw tau n sampaikan, thx Timo.

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top