06 December 2011
2 kritik

Immortals

Mitologi Yunani memang selalu menarik untuk diangkat ke layar lebar. Apalagi jika mitologi tersebut dibawakan dengan cara brutal dan berdarah. 300 (2006) karya Zack Snyder telah membuktikan bahwa ternyata penonton menyukai adaptasi mitologi Yunani ke dalam layar lebar dengan cara artistik dan brutal. Kini dari produser yang sama dan menggandeng sutradara yang terkenal dengan liarnya imajinasi visual, Tarsem Singh, mencoba mengulangi kesuksesan tersebut dengan film terbarunya, Immortals.

Raja Hyperion (Mickey Rourke) yang gila akan kekuasaan dan muak terhadap dewa-dewa, menyatakan perang terhadap manusia dan dewa. Untuk menghancurkan surga dan dunia sekaligus, Raja Hyperion memporak-porandakan Yunani demi mencari senjata legendaris buatan Dewa Perang Ares yang konon memiliki kekuatan dahsyat, busur Epirus. Kekuatan busur ini dipercaya dapat membebaskan para Titans yang terkurung di kedalaman gunung Tartaros semenjak kekalahan mereka dari dewa-dewa yang sekarang berkuasa. Hukum kuno yang melarang para dewa untuk campur tangan dalam urusan manusia, harus bergantung pada seorang manusia yang diyakini dapat menghentikan Raja Hyperion. Dibantu oleh peramal perawan Phaedra (Freida Pinto), Theseus (Henry Cavill) yang secara rahasia dilatih dan dipilih oleh Zeus sendiri membawa beban tanggung jawab untuk menghentikan Raja Hyperion.

Tarsem Singh pun menjawab panggilan untuk menyaingi visualisasi Zack Snyder dengan sangat baik. Ciri khas Singh yang menyajikan visual yang imajinatif seperti tergambar pada film-fim terdahulunya (The Cell, 2000 dan The Fall, 2006) jelas terlihat dalam 110 menit di film terbarunya ini. Tidak hanya visual yang cantik dan artistik, Singh juga menyuguhkan parade peragaan busana yang unik dan eksentrik lewat kostum-kostum Raja Hyperion dan para dewa Yunani. Namun sayang, segala kelebihan dan ciri khas dari Singh ini harus terjebak dalam balutan naskah yang sangat lemah. Meskipun ditulis oleh duet penulis kelahiran Yunani,   cerita dalam film ini merupakan adaptasi lepas dari mitologi Theseus sendiri yang berujung pada tersebarnya plot holes dan tidak konsistennya jalan cerita bergulir.


Percy Jackson & the Olympians (2010) dan Clash of the Titans (2010) telah membuktikan bahwa adaptasi mitologi Yunani ke dalam layar lebar yang terlalu bebas dan lepas ternyata tidak disukai oleh banyak penonton, apalagi mereka yang mencintai mitologi Yunani. Kini, duet penulis naskah Charley dan Vlas Parlapanides harus bertanggung jawab atas lemahnya jalan cerita yang ada pada Immortals. Sebenarnya, masalah utama bukanlah pada ide adaptasi lepas dari mitologi Theseus, mengingat tidak banyak penonton yang paham dengan mitologi tersebut. Bagi penonton awam, adaptasi lepas sebuah mitologi apapun akan terlihat seperti kisah naratif lainnya. Namun yang menjadi isu besar dalam Immortals adalah tidak konsistennya narasi yang ada sepanjang film. Perpindahan adegan dari satu adegan ke adegan lain sangat kasar dan terkesan lompat-lompat. Parlapanides bersaudara tampak terburu-buru dan kehabisan ide untuk mengarahkan cerita ke adegan selanjutnya. Selain itu, ide-ide kecil yang menjadi pondasi jalan cerita harus dikorbankan dan dipatahkan dalam beberapa puluh menit kemudian. Peramal Phaedra yang kekuatannya berasal dari keperawanannya tiba-tiba mau bersetubuh dengan Theseus yang baru saja ditemuinya? Belum lagi dewa-dewisurga yang konon hidup abadi bisa berdarah dan mati. Drama yang disuguhkan pun sama sekali datar dan tidak memiliki kedalaman yang berarti. Cara bertutur film ini dalam menyambungkan setiap jalinan cerita terlihat membosankan dan berusaha sekuat tenaga untuk menarik perhatian penonton. Sebagai pengakuan, baru kali ini penulis tertidur di sebuah film aksi laga, tepatnya pada 3/4 film dimana persiapan untuk perang besar sedang berlangsung.

Tarsem Singh yang digandeng untuk memvisualisasikan naskah film ini jelas banyak menolong dengan kemegahan set, detil visual, adegan aksi, serta peragaan busana yang nyentrik. Tidak seperti The Fall (2006) yang kebanyakan adegan diambil pada lokasi aslinya, dalam film ini Singh lebih memilih teknologi layar hijau sebagai latar belakangnya. Dengan teknologi ini, Singh malah bisa bereksperimen sekreatif mungkin dengan setting hasil kreasinya. Lihat saja sebuah desa yang dibangun di tepi tebing pinggir laut dengan jam matahari raksasa, atau sebuah pelabuhan dipinggir laut hitam dalam arti sebenarnya (laut yang berisi minyak hitam). Produser dari film 300 (2006) dan mitologi Yunani, tampaknya tidak lengkap tanpa adegan super slow-mo yang mengiringi setiap adegan laga. Singh menjawab keharusan ini dengan menambahkan detil-detil visual yang mengagumkan. Adegan dalam gerak lambat ini efektif dalam memamerkan detilnya tubuh-tubuh musuh yang tercerai-berai dan berdarah-darah. Oh ya, film ini akan sangat grafis dalam setiap adegan kekerasan dan perkelahian yang ada. Tenggorokan yang tergorok, kepala-tangan-kaki yang terpotong, sampai badan yang terbelah dua.
gambar diambil dari sini
Bukan Singh namanya jika tidak menampilkan paduan kostum yang nyentrik namun mempesona. Eiko Ishioka dalam departemen kostum yang bertanggung jawab akan keindahan kostum-kostum dalam film-film Singh sebelumnya, dipanggil kembali untuk membuat kostum-kostum yang jauh lebih nyentrik. Keeksentrikan kostum rancangan Ishioka mencapai batas tertinggi ketika dikombinasikan dengan karakter yang ada dalam cerita. Rasanya baru Immortals sebagai sebuah film yang menggambarkan dewa-dewi Yunani dengan kostum nyeleneh (dan artistik) dalam film ini. Simak juga pakaian perang Raja Hyperion yang unik dan berusaha untuk terkesan sadis, meskipun sedikit mengundang senyum saat pertama kali melihatnya.

Secara keseluruhan, film ini memang sebuah film yang menghibur mata dan telinga. Dengan visualnya yang mengagumkan, akan sayang jika tidak ditonton di layar lebar. Namun, ada baiknya untuk meninggalkan kecerdasan di pintu masuknya sebelum menonton film ini.



USA | 2011 | Action/Drama/Fantasy | 110 Mins. | Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
6 dari 10

-sobekan tiket bioskop tertanggal 6 Desember 2011-


BONUS:
Poster alternatif dengan kostum "alternatif"

2 kritik:

  1. "berusaha sekuat tenaga untuk menarik perhatian penonton.”
    you always have the best way to describe a film because. Film ini ga ada menariknya kecuali visual mewah khas dari Tarsem Singh.

    ReplyDelete
  2. setuju. gue suka film-filmnya Tarsem Singh sebelum ini karena imajinasi visualnya yang nyentrik dan artistik. tapi tidak dengan film ini (kecuali kostum para Dewa).

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top