Raja Hyperion (Mickey Rourke) yang gila akan kekuasaan dan muak terhadap dewa-dewa, menyatakan perang terhadap manusia dan dewa. Untuk menghancurkan surga dan dunia sekaligus, Raja Hyperion memporak-porandakan Yunani demi mencari senjata legendaris buatan Dewa Perang Ares yang konon memiliki kekuatan dahsyat, busur Epirus. Kekuatan busur ini dipercaya dapat membebaskan para Titans yang terkurung di kedalaman gunung Tartaros semenjak kekalahan mereka dari dewa-dewa yang sekarang berkuasa. Hukum kuno yang melarang para dewa untuk campur tangan dalam urusan manusia, harus bergantung pada seorang manusia yang diyakini dapat menghentikan Raja Hyperion. Dibantu oleh peramal perawan Phaedra (Freida Pinto), Theseus (Henry Cavill) yang secara rahasia dilatih dan dipilih oleh Zeus sendiri membawa beban tanggung jawab untuk menghentikan Raja Hyperion.
Tarsem Singh pun menjawab panggilan untuk menyaingi visualisasi Zack Snyder dengan sangat baik. Ciri khas Singh yang menyajikan visual yang imajinatif seperti tergambar pada film-fim terdahulunya (The Cell, 2000 dan The Fall, 2006) jelas terlihat dalam 110 menit di film terbarunya ini. Tidak hanya visual yang cantik dan artistik, Singh juga menyuguhkan parade peragaan busana yang unik dan eksentrik lewat kostum-kostum Raja Hyperion dan para dewa Yunani. Namun sayang, segala kelebihan dan ciri khas dari Singh ini harus terjebak dalam balutan naskah yang sangat lemah. Meskipun ditulis oleh duet penulis kelahiran Yunani, cerita dalam film ini merupakan adaptasi lepas dari mitologi Theseus sendiri yang berujung pada tersebarnya plot holes dan tidak konsistennya jalan cerita bergulir.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Tarsem Singh yang digandeng untuk memvisualisasikan naskah film ini jelas banyak menolong dengan kemegahan set, detil visual, adegan aksi, serta peragaan busana yang nyentrik. Tidak seperti The Fall (2006) yang kebanyakan adegan diambil pada lokasi aslinya, dalam film ini Singh lebih memilih teknologi layar hijau sebagai latar belakangnya. Dengan teknologi ini, Singh malah bisa bereksperimen sekreatif mungkin dengan setting hasil kreasinya. Lihat saja sebuah desa yang dibangun di tepi tebing pinggir laut dengan jam matahari raksasa, atau sebuah pelabuhan dipinggir laut hitam dalam arti sebenarnya (laut yang berisi minyak hitam). Produser dari film 300 (2006) dan mitologi Yunani, tampaknya tidak lengkap tanpa adegan super slow-mo yang mengiringi setiap adegan laga. Singh menjawab keharusan ini dengan menambahkan detil-detil visual yang mengagumkan. Adegan dalam gerak lambat ini efektif dalam memamerkan detilnya tubuh-tubuh musuh yang tercerai-berai dan berdarah-darah. Oh ya, film ini akan sangat grafis dalam setiap adegan kekerasan dan perkelahian yang ada. Tenggorokan yang tergorok, kepala-tangan-kaki yang terpotong, sampai badan yang terbelah dua.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Secara keseluruhan, film ini memang sebuah film yang menghibur mata dan telinga. Dengan visualnya yang mengagumkan, akan sayang jika tidak ditonton di layar lebar. Namun, ada baiknya untuk meninggalkan kecerdasan di pintu masuknya sebelum menonton film ini.
USA | 2011 | Action/Drama/Fantasy | 110 Mins. | Aspect Ratio 1.85 : 1
Rating?
6 dari 10
-sobekan tiket bioskop tertanggal 6 Desember 2011-
BONUS:
Poster alternatif dengan kostum "alternatif"





"berusaha sekuat tenaga untuk menarik perhatian penonton.”
ReplyDeleteyou always have the best way to describe a film because. Film ini ga ada menariknya kecuali visual mewah khas dari Tarsem Singh.
setuju. gue suka film-filmnya Tarsem Singh sebelum ini karena imajinasi visualnya yang nyentrik dan artistik. tapi tidak dengan film ini (kecuali kostum para Dewa).
ReplyDelete