sobekan tiket bioskop tertanggal 25 Juni 2009 adalah Transformers: Revenge of the Fallen. well, salah satu most anticipated movie on this year. tapi gue engga menaruh ekspektasi apa-apa untuk sekuel ini. mengingat
Pasukan Decepticon kembali ke bumi untuk mengambil Sam Witwicky (Shia LaBeouf), setelah ia mengetahui kebenaran tentang asal muasal dari Transformers. Bergabung dengan misi untuk mempertahankan manusia adalah prioritas utama Optimus, yang membangun persekutuan dengan tentara untuk pertempuran kedua.
well, bagus sih. tapi,
gue baru sadar, mungkin gue terlalu tua untuk nonton film ini? sepertinya film ini sangat ditujukan untuk remaja (dan anak-anak, mungkin?). dengan adegan romantisnya yang terlalu cheesy, adegan kekeluargaan yang terlalu didramatisasi, dan adegan unjuk keren-kerenan dari robot2 yang hadir. lelucon-lelucon nyga juga datar-datar aja. sama ada satu lagi adegan yang paling mengganggu gue, adegan yang super-basi ala Hollywood - dimana si jagoan utama diduga mati, trus hidup kembali. bah!
tapi patut diacungi jempol untuk sound dan visual effect yang luar biasa, detail, dan smooth. salute untuk teknologi CGI. dan menurut gue, cuma di poin itu aja kelebihan film ini.
overall, film remaja biasa, ga ada sesuatu yang baru, tapi boleh kalau mau lihat kerennya robot2 yang tampil dan bertarung di film ini. dan wajib tonton buat yang demen sama Megan Fox - she's damn hot! ;p
rating?
7,5 of 10
sobekan tiket bioskop tertanggal 18 Juni 2009 adalah Drag Me to Hell. tadinya gue engga begitu tertarik ketika melihat trailer film ini. dari judulnya aja udah bikin males. tapi setelah tanya om imdb, ternyata reviewers berkata lain. ratingnya juga cukup menakjubkan. tetapi beberapa teman yang udah menonton bilang biasa aja. okelah, perlu dibuktikan sendiri.
Seorang petugas kredit menolak dan mengusir seorang wanita tua yang ingin memperpanjang hutangnya. namun wanita tua itu malah mengutuk dia. kutukan itu akan bertahan selama tiga hari dan pada hari ketiga, dia akan ditarik ke neraka. untuk melawan kutukan itu, dia pun meminta bantuan pada seorang cenayang. bersama-sama, mereka mencoba melawan kutukan itu yang terus menerus mengganggu keseharian dia.
well, menarik. seorang Sam Raimi yang menyutradarai franchise Spiderman, kali ini menggarap film horor. jadilah sebuah film horor yang komikal, namun sangat berkesan. ciri khas Sam Raimi sangat terlihat jelas disini, dengan adegan-adegan slapsticknya, atau beberapa adegan yang mampu mengembangkan senyum. tapi salut untuk Raimi yang sangat sukses beberapa kali mengagetkan penonton, termasuk gue yang sampe mundur beberapa sentimeter. sentuhan horornya klasik, tapi sangat kena.
tolong jangan dibandingkan dengan film-film horor Thailand yang super seram itu. kalo ciri khas film horor Thailand adalah dengan membangun suasana horor secara psikologis, sedangkan Hollywood lebih senang membuat penontonnya berteriak dengan adegan mengagetkan dan sound effect yang, well, brengsek. haha! tapi salut untuk sound effectnya yang brlian, membangun kesan mengganggu dan seram.
menurut gue, ini film horor karya Hollywood yang terbaik sampai saat ini.
cocok untuk anda yang senang dengan film horor kagetan.
rating?
7,5 of 10
sobekan tiket bioskop tertanggal 15 Juni 2009 adalah Star Trek. haha film ini sudah gue tunggu-tunggu sejak lama. apalagi setelah melihat bahwa film ini masuk dalam Top 250 imdb. wah jadi tambah pengen nonton. jujur gue bukan penggemar Star Trek dan belom pernah nonton film ini sebelumnya. tapi gue rasa sekarang saatnya untuk tahu lebih banyak tentang film ini. dengar-dengar, film remake ini adalah prekuel dari film serinya yang sempat populer di tahun 80an.
Nasib galaksi terletak di tangan 2 orang yang berasal dari dunia berbeda dan saling bersaing, yaitu James Tiberius Kirk (Chris Pine, "Just My Luck"), seorang anak laki-laki pencari sensasi asal Iowa; dan Spock (Zachary Quinto, "Heroes"), manusia setengah Vulcan yang berbakat, siswa nekat dan menjadi yang pertama dari bangsanya yang masuk ke dalam Starfleet Academy. Dengan gaya radikal yang berlawanan, mereka berusaha untuk masuk dalam kelompok khusus yang dipilih untuk bergabung dengan awak kapal perang canggih yang pernah diciptakan, bernama the U.S.S. Enterprise. Ditengah-tengah itu semua, Kirk and Spock akan saling berhadapan dengan nasib yang tidak dapat mereka pungkiri: kebutuhan untuk bekerja sama, membuat mereka mampu memimpin awak kapal mereka untuk melakukan hal yang belum dilakukan sebelumnya.
wowh. gue bener-bener suka sama film ini. cukup membuat gue takjub dan wowh. yah okey, special effect memang engga usah dibicarakan lagi, karena engga kalah dengan Revenge of the Sith. ceritanya juga sangat menarik dan membuat gue cukup berpikir untuk memahami perlintasan ruang dan waktu yang menjadi plot utama dalam film ini. selain itu gue jadi mengerti, kenapa J.J. Abrams memasang Zachary Quinto sebagai Spock. well, dengan pengalaman dia berperan sebagai Sylar dalam serial Heroes, dia dengan sangat baik memerankan Spock yang dingin tetapi memiliki emosi yang terpendam.
tanpa sobekan tiket bioskop pada tanggal 14 Juni 2009 adalah Garuda di Dadaku Gala Premiere di Blitzmegaplex Grand Indonesia. gue yang jadi usher, berkesempatan emas menjadi yang pertama diantara seribu undangan yang hadir untuk pertama kali menonton film ini sebelum tayang untuk umum pada hari Kamis, 18 Juni 2009 besok. walaupun gue nonton berdiri dan dari samping, gapapa deh. ahahaha.
Bayu, siswa kelas 6 Sekolah Dasar, memiliki satu mimpi dalam hidupnya: menjadi pemain sepak bola hebat. Setiap hari dengan penuh semangat, ia menggiring bola menyusuri gang-gang di sekitar rumahnya untuk sampai ke lapangan bulu tangkis dan berlatih sendiri di sana. Heri, sahabat Bayu penggila bola, sangat yakin akan kemampuan dan bakat Bayu. Dialah motivator dan "pelatih" cerdas yang meyakinkan Bayu agar mau ikut seleksi untuk masuk Tim Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional. Namun Pak Usman, kakek Bayu, sangat menentang impian Bayu karena baginya menjadi pemain sepak bola identik dengan hidup miskin dan tidak punya masa depan. Dibantu teman baru bernama Zahra yang misterius, Bayu dan Heri harus mencari-cari berbagai alasan agar Bayu dapat terus berlatih sepak bola. Tetapi hambatan demi hambatan terus menghadang mimpi Bayu, dan bahkan persahabatan tiga anak itu terancam putus. Terlalu mulukkah impian Bayu?
overall, film ini bagus!
film ini layak ditonton di tengah-tengah gempuran latah film horor, komedi seks, komedi horor, dan komedi politik di Indonesia. selain film-filmnya Miles Production, jarang gue ngeliat film Indonesia yang menggunakan bahasa gambar dan simbolik, ketimbang menjelaskan adegan dengan dialog seabreg-abreg. dan film ini cukup sukses untuk tidak terlalu menggurui, bahkan pada adegan yang tampaknya mengandung kritikan dan sindiran terhadap dunia sepak bola Indonesia.
Emir Mahira, Aldo Tansani, Marsha Aruan sebagai pendatang baru di dunia perfilman Indonesia sangat memainkan perannya dengan baik. sanggup keluar dari bayang-bayang aktor-aktor senior seperti Maudy Koesnadi, Ikrarnegara, dan Ramzi. justru paduan cast dari dua generasi itu yang menjadi tontonan menarik di film ini. dramatisasinya pun pas dan tidak berlebihan. celetukan-celetukan dari Bang Dule, yang diperankan oleh Ramzi, mampu menghidupkan suasana dengan tawa dan senyum.
mungkin karena film keluarga, atau karena gue udah keseringan nonton, jalan cerita cukup mudah ditebak dalam setiap adegan demi adegan. tapi toh tetap menarik untuk disimak sampai credit title habis.
menurut gue, film ini bisa menjadi potret seperti apa nasionalisme itu. bukan dalam bentuk klise dan abstrak, tetapi dalam bentuk konkret dan ada dalam keseharian kita. bagi Bayu, nasionalisme itu ada pada kaus tim nasional Indonesia, yang dia kenakan untuk bermain bola atas nama Indonesia. dan jujur, yel-yel nyanyian suporter "Garuda di Dadaku" cukup membuat gue merinding.
rating?
8 of 10
sobekan tiket bioskop tertanggal 9 Juni 2009 adalah The Edge of Love. tertarik nonton film ini karena cukup terpukau oleh Atonement, sebuah film tentang percintaan di tengah-tengah perang, yang juga dibintangi oleh Keira Knightley. tampaknya The Edge of Love sanggup mengulang sukses Atonement.
Pada era Perang Dunia II, Vera Phillips (Keira Knightley) bertemu dengan pria yang dulu jadi cinta pertamanya, seorang penyair dari Wales bernama Dylan Thomas (Matthew Rhys), dan cinta lama pun bersemi kembali meskipun kini Dylan sudah menikah dengan Caitlin MacNamara (Sienna Miller), seorang perempuan yang ceria. Meskipun saling bersaing, kedua perempuan tersebut lantas bersahabat karib, dan ketiganya seringkali bersenang-senang bersama. Ketika Vera menikahi seorang tentara bernama William Killick (Cillian Murphy), Dylan cemburu dan Caitlin menyadarinya. Tetapi William segera dikirim bertugas ke luar negeri, sementara Vera dan yang lain pindah ke pedesaan di Wales, di mana cinta Vera pada Dylan malah tumbuh semakin besar. Ketika William akhirnya pulang dari medan perang, kecemburuannya membuat ia menyerang Dylan--dan membuat Vera harus memilih antara kedua pria itu, antara cinta dan persahabatan.
hm, no wonder kenapa The Edge of Love dan Atonement selalu dibanding-bandingkan. karena temanya yang rada mirip dan juga dibintangi oleh Keira Knightley. sayangnya The Edge of Love engga mampu menarik hati gue yang, udah terlanjur terpikat oleh Atonement. well, gue engga menemukan diri gue menaruh simpati atau tersentuh oleh satu adegan pun dalam film ini.
keempat karakter dalam film ini memang sangat kuat. bahkan gue bisa merasakan sebal dengan karakter Dylan yang egois. tapi sayang ceritanya sangat datar dan linear. sepertinya sih naskahnya bisa digarap lebih lanjut.
yah, disarankan untuk nonton di DVD saja.
rating?
6,5 of 10
sobekan tiket bioskop tertanggal 8 Juni 2009 adalah Evangelion 1.0. sebenarnya film ini merupakan bagian dari Indonesia International Fantastic Film Festival 2008 (iNAFFF) kemarin. tapi gue cuma nonton bagian tengahnya aja, dan ternyata lumayan keren. jadi sekarang penasaran dengan bagian depan dan belakangnya.
Dengan setting kota Tokyo-3 yang tengah diserang oleh mahluk raksasa yang bernama Angels yang berniat memusnahkan umat manusia. Shinji Ikari, seorang remaja biasa berusia 14 tahun, menerima telepon yang memintanya untuk segera datang ke pusat gerakan NERV, organisasi misterius yang ingin membinasakan Angels dengan menggunakan mesin raksasa yang diberi nama EVA. Tugas Shinji adalah utk menjadi pilot unit EVA 01 dan berkolaborasi dengan pilot unit EVA 00, Ayanami Rei.
well, memang ini film kartun anime Jepang, yang sangat populer di akhir tahun 90-an. tapi entah kenapa gue suka banget. dengan cinematografinya, dengan dramatisasinya lewat gambar-gambar. scorenya juga kena banget. actionnya pun imbang dengan drama, bagaimana dilema Shinji untuk menjadi pilot Eva dan masa lalu yang suram.
yang jelas kalo nonton film ini di bioskop lebih nampol karena dengan layar lebar yang memuaskan mata, serta sound system yang oke untuk mengatasi sound effect dan scorenya.
rating?
8,2 of 10
sobekan tiket bioskop tertanggal 5 Juni 2009 adalah The Reader. ini adalah salah satu film yang gue tunggu-tunggu di tahun 2009 ini. karena memang gue mengincar kelima film nominasi Best Motion Picture of the Year Academy Awards 2009. selain itu, Kate Winslet juga meraih piala Oscar lewat Best Actress in a Leading Role pada film ini. ditambah lagi karena film ini sedikit bercerita tentang Nazi dan pasca Perang Dunia II.
Pasca Perang Dunia II, pemuda Michael Berg (David Kross) jatuh sakit dan ia dirawat oleh Hanna (Kate Winslet), wanita tak dikenalnya yang berusia dua kali dari dirinya. Setelah sembuh, Michael ingin menemui Hannah untuk berterima kasih. Hubungan keduanya makin akrab.
Michael mengetahui bahwa Hannah suka dibacakan buku dan hubungan mereka secara fisik pun semakin dalam. Hannah menghilang secara misterius dan Michael hidup dalam kebingungan dan patah hati. Delapan tahun kemudian, saat Michael kuliah hokum dan mengobservasi pengadilan penjahat Nazi, Hannah kembali dalam hidupnya – kali ini sebagai terdakwa. Masa lalu Hannah terungkap dan Michael mengetahui sebuah rahasia yang mempengaruhi kehidupan mereka berdua.
wowh, film yang brilian. udah lama gue engga nonton film dimana setiap adegan, dialog, dan ekspresi dari karakter tidak memberikan penjelasan utuh kepada penonton mengenai apa yang mereka pikirkan dan rasakan. gue menemukan diri gue cukup bertanya-tanya, hal apa yang mendasari kedua karakter utama melakukan suatu dan lain hal? dan karena inilah, setelah keluar dari bioskop, gue menjadi bertanya-tanya dan sedikit menemukan jawabannya. cerita dari film ini sangat berhasil untuk memadukan unsur cinta dan moral yang terkadang bisa berseberangan.
kesuksesan film ini juga engga lepas dari kehebatan para pemain di dalamnya. Ralph Fienes, sebagai Michael Berg tua, sukses menggambarkan seorang yang teringat akan masa lalunya, terlalu takut untuk membuka rahasia dirinya, dan akhirnya dapat memutuskan apa yang harus dia lakukan. Kate Winslet, sukses menceritakan seorang bekas penjaga kamp konsentrasi Nazi yang dingin dan dengan mood yang berubah-ubah. karakternya sangat kuat, bahkan dimana dia menyembunyikan suatu rahasia dirinya karena malu. David Kros juga bermain sangat baik sebagai Michael Berg muda dan mampu mengimbangi lawan mainnya, sebagai seorang pemuda yang jatuh cinta pada wanita yang 20 tahun lebih tua dari umurnya.
film ini juga sukses memberikan suasana emosional yang cukup berbeda. penonton diajak untuk memanen rasa benci kepada para bekas penjaga kamp konsentrasi Nazi yang terang-terang membunuh ribuan kaum Yahudi. tetapi ternyata tidak semudah itu, karena itu terjadi dua puluh tahun lalu dan sekarang hidup mereka telah berubah. sampai titik ini, konflik emosional pun muncul, antara rasa benci atau kasihan. jadi ingat dengan pemberitaan di koran beberapa minggu yang lalu tentang seorang bekas penjaga kamp konsentrasi yang dikenal dengan julukan The Terrible Ivan yang ditangkap di AS dan di deportasi ke Jerman.
moral dari cerita di film ini juga seakan diserahkan kembali kepada interpretasi penonton masing-masing. sikap apa yang harus diambil ketika mengetahui bahwa para bekas penjaga kamp konsentrasi Nazi itu terbukti melakukan kejahatan kemanusiaan. sikap apa yang harus diambil ketika mengetahui bahwa mereka juga manusia, yang punya rasa cinta, kepatuhan, dan punya rahasia yang memalukan dirinya. mungkin apa yang dirasakan penonton, kurang lebih sama dengan apa yang dirasakan oleh karakter Michael Berg muda yang tampak cukup bingung dan terpukul menghadapi kenyataan hidupnya, mencintai seorang wanita yang ternyata bekas penjaga kamp konsentrasi Nazi yang membunuh ribuan warga Yahudi.
well, it's a worth to watch.
rating?
8,8 of 10
sobekan tiket bioskop tertanggal 1 Juni 2009 adalah 2:37. ga tau juga kenapa tertarik nonton film ini. kayaknya gara-gara posternya yang menarik dan sinopsisnya yang cukup menjanjikan deh. walaupun engga kenal sama deretan pemain dan kursi sutradara, tetep nekat nonton deh!
Sebuah drama kontemporer yang mengisahkan perjalanan hidup enam siswa SMA, dalam rangkaian situasi yang dihadapkan oleh begitu banyak pemuda dan pemudi saat ini. Cerita berlangsung hanya dalam satu hari sekolah. Tragedi terjadi tepat pada jam 2:37, yang mempengaruhi kehidupan sekelompok siswa dan guru. Setiap cerita yang menggambarkan keenam remaja ini memiliki ledakan makna masing-masing, seperti: cerita kehamilan diluar nikah yang memiliki rangkaian rahasia yang dahsyat dan kelam, situasi yang tidak berjalan seperti apa yang tampak untuk pahlawan sepak bola sekolah, orang tersingkirkan yang sehari-hari harus berurusan dengan cemooh rekan-rekannya, seorang gadis cantik bergelut dengan masalah diet, murid teladan yang berjuang untuk memenangkan persetujuan orang tua, sementara yang lain menggunakan narkoba untuk lari dari masalah.
well, film ini memang film kontemporer. dengan penggambaran jalan cerita yang engga biasa dan cukup unik. dicampur dengan gaya wawancara dokumenter yang menambah kesan mendalam dalam film ini. kedalaman karakter pun pas.
kira-kira pesan moral dalam film ini kurang lebih sama dengan Look Both Ways, yaitu seberapa tahukah kita mengenai masalah yang dialami orang lain di sekitar kita.
rating?
7,2 of 10
