15 June 2009
2 kritik

Garuda di Dadaku

11:01 AM
tanpa sobekan tiket bioskop pada tanggal 14 Juni 2009 adalah Garuda di Dadaku Gala Premiere di Blitzmegaplex Grand Indonesia. gue yang jadi usher, berkesempatan emas menjadi yang pertama diantara seribu undangan yang hadir untuk pertama kali menonton film ini sebelum tayang untuk umum pada hari Kamis, 18 Juni 2009 besok. walaupun gue nonton berdiri dan dari samping, gapapa deh. ahahaha.

Bayu, siswa kelas 6 Sekolah Dasar, memiliki satu mimpi dalam hidupnya: menjadi pemain sepak bola hebat. Setiap hari dengan penuh semangat, ia menggiring bola menyusuri gang-gang di sekitar rumahnya untuk sampai ke lapangan bulu tangkis dan berlatih sendiri di sana. Heri, sahabat Bayu penggila bola, sangat yakin akan kemampuan dan bakat Bayu. Dialah motivator dan "pelatih" cerdas yang meyakinkan Bayu agar mau ikut seleksi untuk masuk Tim Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional. Namun Pak Usman, kakek Bayu, sangat menentang impian Bayu karena baginya menjadi pemain sepak bola identik dengan hidup miskin dan tidak punya masa depan. Dibantu teman baru bernama Zahra yang misterius, Bayu dan Heri harus mencari-cari berbagai alasan agar Bayu dapat terus berlatih sepak bola. Tetapi hambatan demi hambatan terus menghadang mimpi Bayu, dan bahkan persahabatan tiga anak itu terancam putus. Terlalu mulukkah impian Bayu?

overall, film ini bagus!

film ini layak ditonton di tengah-tengah gempuran latah film horor, komedi seks, komedi horor, dan komedi politik di Indonesia. selain film-filmnya Miles Production, jarang gue ngeliat film Indonesia yang menggunakan bahasa gambar dan simbolik, ketimbang menjelaskan adegan dengan dialog seabreg-abreg. dan film ini cukup sukses untuk tidak terlalu menggurui, bahkan pada adegan yang tampaknya mengandung kritikan dan sindiran terhadap dunia sepak bola Indonesia.

Emir Mahira, Aldo Tansani, Marsha Aruan sebagai pendatang baru di dunia perfilman Indonesia sangat memainkan perannya dengan baik. sanggup keluar dari bayang-bayang aktor-aktor senior seperti Maudy Koesnadi, Ikrarnegara, dan Ramzi. justru paduan cast dari dua generasi itu yang menjadi tontonan menarik di film ini. dramatisasinya pun pas dan tidak berlebihan. celetukan-celetukan dari Bang Dule, yang diperankan oleh Ramzi, mampu menghidupkan suasana dengan tawa dan senyum.

mungkin karena film keluarga, atau karena gue udah keseringan nonton, jalan cerita cukup mudah ditebak dalam setiap adegan demi adegan. tapi toh tetap menarik untuk disimak sampai credit title habis.

menurut gue, film ini bisa menjadi potret seperti apa nasionalisme itu. bukan dalam bentuk klise dan abstrak, tetapi dalam bentuk konkret dan ada dalam keseharian kita. bagi Bayu, nasionalisme itu ada pada kaus tim nasional Indonesia, yang dia kenakan untuk bermain bola atas nama Indonesia. dan jujur, yel-yel nyanyian suporter "Garuda di Dadaku" cukup membuat gue merinding.

rating?
8 of 10

2 kritik:

  1. hello. lagi gogogling ketemu blog ini. bagus deh. saya setuju film ini bagus. btw, usher itu apa ya?

    ReplyDelete
  2. halo kiya, salam kenal!
    usher itu semacam penyambut tamu gitu loh....ehehehe...
    sring2 mampir yaaa!

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top