23 July 2016
One kritik

The Legend of Tarzan

"Petualangan menegangkan dengan pemandangan alam yang memikat"

Tarzan, atau sekarang dikenal dengan John Clayton III, hidup di rumah mendiang orang tuanya di Inggris bersama istrinya Jane. Ia diminta oleh Raja Leopold dari Belgia untuk mengunjungi Kongo dan melihat apa yang dapat ia bantu. Kedatangannya ke Kongo bersama istrinya, ditemani oleh seorang Amerika. Sesampainya di Kongo, Jane diculik oleh seseorang bernama Leon Rom. Sekali lagi, Tarzan harus menyelamatkan Jane dan menggunakan kelebihannya yang mengenal hutan lebat Kongo.

Film ini diadaptasi dari sumber materi yang orisinil, novel karya Edgar Rice Burroughs, lengkap dengan latar belakang bagaimana Raja Leopold yang mengeksploitasi Kongo. Menariknya adalah, film ini dimulai dari London ketika Tarzan atau John Clayton sudah kembali ke peradaban manusia. Selanjutnya, penulis naskah menyelipkan rangkaian kilas balik bagaimana John lahir di tengah hutan Kongo hingga ia dibesarkan oleh kera. Hasilnya adalah sebuah kisah tentang legenda Tarzan yang utuh, dan dilengkapi dengan efek visual para hewan yang cukup meyakinkan.

Keputusan sutradara David Yates untuk tidak menggunakan celana kain khas Tarzan jelas tepat, dan menjadikan film ini cukup logis mengingat John memulai petualangannya dari kota besar. Konsistensi realistis ini yang bertahan hingga akhir film, yang menyingkirkan adegan-adegan dramatis yang berlebihan khas Hollywood. Mulai dari adegan berkelahi dengan si kera besar, konflik dengan suku pedalaman, hingga adegan klimaks yang semuanya masih dalam bingkai akal sehat. Bisa dibilang memang kisah Tarzan adalah versi realistis dari Jungle Book dimana para hewan dapat berbicara. Bungkusan logis dan seru ini yang membuat gue nyaman dan seolah terserap dalam jalan ceritanya.


Efek visualnya memang tidak begitu rapi di beberapa adegan, tapi tetap dapat dinikmati dengan baik. Terutama efek visual pada hewan-hewan tertentu yang tampak realistis, dan efeknya dapat menimbulkan kengerian tersendiri pada penonton ketika melihat efek kehancuran yang dapat mereka lakukan. Selain kehadiran satwa liar, tentunya setiap gender penonton dihibur secara bergantian oleh Tarzan atau Jane. Untuk para wanita, bersiaplah ketika Alexander Skarsgard bertelanjang dada yang membuat badannya tampak seperti kostum Batman. Sedangkan para pria, mempersiapkan posisi duduk yang nyaman itu penting sebelum adegan seks yang melibatkan Margot Robbie. Mamamia!

Kalau ada hal yang kurang, bagi gue hanyalah stereotip aktor yang itu-itu saja. Rasanya tidak pernah ada dalam ingatan ketika Djimon Honsou pernah memainkan peran selain karakter indigenous yang terpatah-patah dalam berbahasa Inggris. Atau Christoph Waltz yang pernah memainkan karakter protagonis? Mereka berdua memang masih tampil baik dalam film ini, tetapi rasanya gue ingin melihat mereka berdua memainkan peran lain yang tidak tipikal. Selain itu, pace film juga terasa cukup lamban dan terseret-seret, meski hal ini terobati dengan latar yang indah.


Secara keseluruhan, The Legend of Tarzan yang terlalu serius tanpa humor yang mencukupi ini cukup menghibur. Gue pribadi terpukau dengan lokasi syuting yang asli, yang jelas sangat indah dan mengagumkan walau hanya dilihat dari layar bioskop. Lokasi suku pedalaman dengan batu-batu dan air terjun sebagai latar belakang jelas sangat menggoda untuk dikunjungi. Jalan cerita yang menarik meski terkadang cukup cheesy di beberapa tempat, tetapi setidaknya setiap tensi yang ada bisa membuat gue terseret ke dalam layar.


USA | 2016 | Action / Adventure | 110 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 23 Juli 2016 -


----------------------------------------------------------
Search  Keywords:

  • review film tarzan
  • review tarzan
  • tarzan review
  • resensi film tarzan
  • resensi tarzan
  • ulasan tarzan
  • ulasan film tarzan
  • sinopsis film tarzan
  • sinopsis tarzan
  • cerita tarzan
  • jalan cerita tarzan

1 kritik:

  1. Penceritaan The Legend of Tarzan mirip dengan Man of Steel dan akhirnya sama kurang gregetnya.
    Padahal adegan aksinya cukup menyenangkan untuk dilihat.

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top