27 July 2016
0 kritik

Jason Bourne


"Kembalinya Jason Bourne yang keren dan logis, serta setia dengan bungkusan trilogi awalnya"

Jason Bourne yang kini hidup dengan menghilang dari peta, terpaksa kembali dalam radar lembaga intelejen ketika Nicky Parsons menghampirinya. Mereka pun memiliki informasi bahwa CIA sedang menyiapkan black ops terbaru, versi peningkatan yang lebih canggih ketimbang Treadstone. Tidak hanya itu, sekelumit masa lalu Bourne juga terkuak yang akan menjadi motivasi Bourne untuk menghadapi lembaga intelejen tersebut.

Lima detik pertama setelah film dimulai, gue mulai bertanya-tanya dalam hati apakah meneruskan trilogi Bourne adalah ide yang bagus. Tetapi setelah disuguhi oleh opening act, gue mulai percaya bahwa film ini berada di jalan yang benar. Belum lagi penjelasan Nicky kepada Bourne - yang terkesan tipikal sekuel - tetapi logis dan meyakinkan. Bourne telah kembali, dengan formula dan gaya yang persis sama dengan trilogi awalnya. Siapkan checklist anda; mulai dari pengintaian di area terbuka, adegan kejar-kejaran mobil, baku hantam tangan kosong tanpa iringan score, hingga Moby. Yes!

Perlu diketahui bahwa Matt Damon tidak ingin kembali menjadi Jason Bourne jika Paul Greengrass tidak menduduki kursi sutradara. Keterlibatan Matt Damon untuk memastikan hasil jadi filmnya pun hingga masuk dalam urusan naskah - yang membuat penulis naskah trilogi Bourne Tony Gilroy lepas tangan dalam Bourne versi Matt Damon keempat ini. Hasilnya adalah film yang anda kenal dengan baik. Bahkan hingga ke bungkusan theme score hingga sinematografi bergaya handheld camera dengan zoom-in-zoom-out yang spontan. Belum lagi bagaimana naskahnya mengambil kasus-kasus nyata di dunia spionase, mulai dari keterlibatan Snowden hingga kerja sama terselubung antara lembaga intelejen dengan raksasa media sosial.


Jalan ceritanya sendiri bukan tentang hal yang belum pernah anda tahu sebelumnya. Seperti yang sudah gue singgung di atas, film ini menggunakan formula yang sama seperti sebelumnya termasuk inti cerita. Garis besarnya tetap Bourne seorang diri melawan organisasi besar dan canggih, dibantu oleh wanita-wanita yang berkontribusi signifikan dalam aksinya. Seorang agen lapangan dengan karakteristik yang paralel dengan Bourne, atau disebut dengan Asset, juga tampil sebagai spektrum lawan yang tetap asyik untuk ditonton. Untuk ini, pujian perlu dilayangkan kepada Vincent Cassel yang berhasil menampilkan teror dan ketegangan berarti untuk penonton. Tetapi semua itu minus hal misterius dan ketidaktahuan penonton tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, yang menjadi kenikmatan utama dalam menonton trilogi awalnya.

Kalau ada keluhan, maka menurut gue adalah pemilihan lokasi yang terasa bukan tipikal pengarang novel Robert Ludlum. Dalam trilogi awalnya kita bisa melihat berbagai lokasi eksotis di berbagai kota di dunia mulai dari Goa, Praha, Paris, hingga Berlin. Dalam sekuel keempat ini, praktis lokasi-lokasi pilihannya terbilang standar dan memang lokasi favorit film-film blockbuster kebanyakan. Selain kota Athena, yang ternyata bukan lokasi syuting aslinya, poin positif untuk lokasi jelas tidak ada. Hal ini juga mengurangi variasi penggunaan bahasa, yang biasanya menjadi salah satu variabel keren karakter Jason Bourne. Lihat saja kolom "Detail" pada laman imdb yang hanya menyebutkan satu bahasa saja.


Meski gue tetap berpendapat bahwa kelanjutan trilogi Bourne adalah hal yang tidak perlu, tetapi gue harus mengakui bahwa film ini adalah comeback yang keren, atau, penuh dengan nostalgia. Disupervisi oleh Matt Damon sendiri, disempurnakan dengan Alicia Vikander yang yummy dengan penampilan dinginnya - menggantikan karakter Pamela Landy yang menghilang entah kemana. Film ini jelas mengesampingkan The Bourne Legacy (2012) versi Jeremy Renner yang gagal di berbagai bidang. Bisa dibilang, ini adalah tipe film aksi yang bisa gue nikmati dengan baik dengan esensi cerita yang baik dan logis.



USA | 2016 | Action | 123 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

Scenes During Credits? Tidak

Scenes After Credits? Tidak

4DX? Relatif. Bayangkan sinematografi kamera handheld yang bergoyang-goyang, dengan kursi yang dapat bergerak mengikut adegan. Hm.

- sobekan tiket bioskop tanggal 27 Juli 2016  -



----------------------------------------------------------
Search  Keywords:

  • review film jason bourne
  • review jason bourne
  • jason bourne review
  • resensi film jason bourne
  • resensi jason bourne
  • ulasan jason bourne
  • ulasan film jason bourne
  • sinopsis film jason bourne
  • sinopsis jason bourne
  • cerita jason bourne
  • jalan cerita jason bourne

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top